Pengusaha Rugi Besar Akibat Penyetopan Total Aktivitas Pelabuhan Tanjung Buton, Belum Ada Kejelasan Pasca Ambruknya Trestel Dermaga
Kalangan pengusaha mengalami kerugian signifikan pasca penutupan secara total operasional Pelabuhan Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB), imbas ambruknya trestel dermaga pada Senin (5/1/2026) sore lalu. Foto: Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Kalangan pengusaha mengalami kerugian signifikan pasca penutupan secara total operasional Pelabuhan Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB), imbas ambruknya trestel dermaga pada Senin (5/1/2026) sore lalu. Kegiatan loading barang lumpuh dan aktivitas pengiriman material ekspor tak bisa dilakukan.
"Semuanya lumpuh dan setop total. Bisnis sekarang jadi hancur," kata seorang pengusaha kepada SabangMerauke News, Rabu (14/1/2026).
Menurutnya, perusahaan terkena denda yang wajib dibayarkan kepada rekanan perusahaan mother vessel. Mother vessel merupakan kapal pengangkut kargo berukuran sangat besar yang berfungsi mengangkut muatan dalam jumlah masif antar pelabuhan utama (hub ports) di rute internasional, menjadi tulang punggung logistik global untuk mendistribusikan barang dari pelabuhan kecil (via feeder vessel) ke tujuan akhir.
"Denda mother vessel sangat besar. Sementara, barang tidak bisa keluar. Sangat sulit sekali kondisi sekarang," katanya.
Sampai saat ini belum ada kepastian kapan perbaikan trestel yang ambruk akan dilakukan. KSOP Buton masih menunggu arahan dari Kementerian Perhubungan.
Sementara, solusi untuk mencari pelabuhan lain terasa sangat memberatkan dan membutuhkan ongkos yang besar.
"Untuk memindahkan barang agar bisa diangkut lewat pelabuhan lain berbiaya tinggi. Karena kita harus memobilisasi alat dan kendaraan," terangnya.
KSOP Tutup Aktivitas Bongkar Muat
Sebelumnya diwartakan, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Tanjung Buton menutup total aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Umum Tanjung Buton, Kabupaten Siak, Riau. Penutupan operasional pelabuhan dilakukan usai robohnya jembatan trestle dermaga pada Senin (5/1/2026) sore kemarin.
Kebijakan penutupan pelabuhan disampaikan lewat surat pengumuman nomor PG-KSOP TG BTN 1 TAHUN 2026. Surat ditandatangani oleh Kepala KSOP Kelas II Tanjung Buton, Capt. Pujo Kurnianto, M.Mar per tanggal 6 Januari 2026.
Penutupan kegiatan operasional pelabuhan Tanjung Buton dilakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan.
"Sehubungan dengan hasil pemantauan dari tim Kantor KSOP Kelas II Tanjung Buton, ditemukan kejadian robohnya trestle pelabuhan yang mengganggu kegiatan operasional serta menimbulkan risiko terhadap keselamatan pengguna jasa pelabuhan. Kondisi tersebut memerlukan penanganan dan perbaikan secara menyeluruh agar operasional pelabuhan dapat kembali berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku," demikian pernyataan Kantor KSOP Kelas II Tanjung Buton.
Kepala Kantor KSOP Kelas II Tanjung Buton menyebut aspek keselamatan dan keamanan pelayaran menjadi prioritas, pasca robohnya trestle pelabuhan.
"Perlu untuk melakukan penutupan sementara kegiatan operasional Pelabuhan Umum Tanjung Buton hingga menunggu tim kantor pusat melakukan proses penanganan dan evaluasi lebih lanjut guna memastikan seluruh kegiatan dapat berjalan aman sesuai ketentuan dan dinyatakan laik operasi kembali," demikian pernyataan KSOP.
Adapun surat pengumuman itu disampaikan kepala para Pimpinan Perusahaan Angkutan Laut, para pimpinan perusahaan keagenan kapal, perusahaan bongkar muat, perusahaan jasa pengurusan transportasi, pelaku usaha dan pihak terkait yang melakukan kegiatan di Pelabuhan Umum Tanjung Buton.
Pujo dalam suratnya menyatakan, penutupan sementara kegiatan operasional Pelabuhan Umum Tanjung Buton berlaku sampai tim Kantor Pusat KSOP melakukan penanganan dan evaluasi.
"Penggunaan trestle Pelabuhan Umum Tanjung Buton tidak dapat digunakan hingga adanya penanganan dan evaluasi lebih lanjut dari tim Kantor Pusat," terangnya.
Dengan penutupan operasional pelabuhan, maka seluruh pengguna jasa, operator pelabuhan, dan pihak terkait agar tidak melakukan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Umum Tanjung Buton sampai menunggu hasil penanganan dan evaluasi dari tim Kantor Pusat KSOP.
"Seluruh kegiatan bongkar muat yang melintasi trestle Pelabuhan Umum Tanjung Buton akan diberhentikan sementara hingga adanya penanganan dan evaluasi lebih lanjut dari tim Kantor Pusat," tegas Pujo.
KSOP menyarankan kepada stakeholder terkait pelabuhan mengambil alternatif lain, dengan melakukan kegiatan bongkar muat di pelabuhan umum terdekat
"Ketentuan dalam pengumuman ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan kegiatan operasional pelabuhan akan ditutup sementara sampai menunggu perintah lebih lanjut dari Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut," demikian pernyataan KSOP Tanjung Buton.
Kepala KSOP Kelas II Tanjung Buton, Capt. Pujo Kurnianto, M.Mar belum dapat dikonfirmasi soal penyebab ambruknya trestle jembatan dermaga Pelabuhan Tanjung Buton. Ia belum membalas pesan konfirmasi, meski telepon selulernya dalam keadaan aktif.
Mobil Terjun ke Laut
Sebelumnya diwartakan, jembatan penghubung (trestle) dermaga di Pelabuhan Kawasan Industri Buton (KITB) di Siak, Riau mendadak ambruk pada Senin (5/1/2026) sore tadi. Robohnya trustle menyebabkan seluruh aktivitas bongkar muat di pelabuhan tersebut lumpuh.
Direktur KITB, Soeharto menyatakan, ambruknya trestel berada di luar batas kewenangan pihaknya. Soalnya, pelabuhan KITB merupakan milik Kementerian Perhubungan, bukan dalam otoritas manajemen KITB.
"Kejadian ambruknya trestel itu berada dalam kewenangan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), di bawah naungan Kementerian Perhubungan," kata Soeharto saat dikonfirmasi SabangMerauke News, Senin malam.
Soeharto menegaskan, manajemen KITB hanya berwenang mengurus sisi darat dan pengembangan kawasan industri. Namun, terkait sisi laut kewenangan berada di KSOP.
Ia menjelaskan, sejak Oktober 2024 lalu, masa kontrak pengelolaan pelabuhan yang sebelumnya dipegang oleh Badan Usaha Pelabuhan (BUP) PT Samudra Siak SS) telah berakhir.
"Sampai saat ini belum jelas proses lelangnya setelah kontrak berakhir. Dengan telah berakhirnya masa kontrak PT Samudera Siak atas pengelolaan pelabuhan, maka statusnya sudah berada di tangan KSOP-Kementerian Perhububgan," kata Soeharto.
Akibat ambruknya trestle dermaga pelabuhan Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB) di Sungai Apit, Kabupaten Siak, menyebabkan satu unit mobil yang sedang parkir terjun ke laut. Berdasarkan informasi sementara, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Hanya saja, kegiatan ekspor melalui pelabuhan tersebut dihentikan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, kondisi trestle tersebut sebelumnya terdeteksi telah retak. Namun, jembatan itu masih terus dipakai.
Ambruknya trustel terjadi sesaat setelah PT Besti menyelesaikan aktivitas loading cangkang ke sebuah kapal berbendera asing. Total muatan yang diloading mencapai sekitar 10 ribu ton. Loading tersebut biasanya memakan waktu sekitar tiga hari.
Trestle adalah struktur jembatan panjang yang berfungsi sebagai jalan penghubung dari daratan ke dermaga utama (jetty) di laut, dibangun di atas tiang pancang untuk menopang akses kendaraan dan peralatan bongkar muat kapal. Fungsinya krusial untuk distribusi logistik, menghubungkan daratan dengan titik bongkar muat, seringkali terbuat dari beton atau baja untuk kekuatan, dan menjadi bagian integral dari operasional pelabuhan untuk memastikan kelancaran aktivitas logistik.
Di era pemerintahan Prabowo, KITB masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Namun sejauh ini, belum diketahui apa progres konkret dari PSN tersebut.
Kawasan Industri Tanjungbuton (KITB) yang terletak di pesisir dua Kampung (Desa) Mengkapan dan Sungairawa, Kecamatan Sungaiapit, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, diklaim memiliki potensi besar untuk menjadi pusat ekonomi baru.
Posisi KITB terletak di area strategis, yakni berdekatan dengan Selat Malaka dan berhadapan langsung dengan dua negara tetangga, Malaysia dan Singapura.
Selain itu, KITB juga memiliki dermaga yang cukup panjang dan megah bertaraf internasional, didukung dengan alur pelayaran perairan Selat Asam dan sebagian berada di Selat Lalang menuju kawasan industri Pelabuhan Tanjungbuton.
Alur pelayaran tersebut memiliki panjang kurang lebih 36 mil dan kedalaman alur mencapai 17-20 meter low water spring (LWS) sehingga mampu dilintasi kapal tanker berbobot 50.000 deadweight tonnage (DWT). (R-03)

