Petang yang Merenggut Nyawa Zizin: Bocah 11 Tahun Tewas Tenggelam di Pantai Tanjung Gadai
Anak berusia 11 tahun, siswa kelas 5 SD Negeri 04 Tanjung Gadai itu, menghembuskan napas terakhir setelah ditemukan tenggelam di pantai desa mereka, tepatnya di perairan Dusun Tanjung Kebal Timur, Kamis (4/12/2025). Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Sore itu, Desa Tanjung Gadai diselimuti duka. Tawa kecil seorang bocah perempuan bernama Nurazizin, atau akrab disapa Zizin, berubah menjadi isak tangis keluarga dan warga setempat. Anak berusia 11 tahun, siswa kelas 5 SD Negeri 04 Tanjung Gadai itu, menghembuskan napas terakhir setelah ditemukan tenggelam di pantai desa mereka, tepatnya di perairan Dusun Tanjung Kebal Timur, Kamis (4/12/2025).
Menurut informasi yang dihimpun wartawan, kejadian memilukan itu berawal ketika Zizin bermain dan mandi di pantai bersama delapan temannya. Seperti hari-hari biasa, mereka hanya ingin menghabiskan waktu sore dengan keceriaan anak-anak seusia mereka. Namun, laut tak sedang bersahabat.
Warga sekitar sebelumnya telah beberapa kali mengingatkan agar anak-anak tidak bermain di laut. Ombak sedang tinggi, arus kuat, dan angin menggeser permukaan air menjadi lebih berbahaya dari biasanya. Tapi peringatan itu, mungkin karena riangnya suasana bermain, tak sepenuhnya dihiraukan.
Tak ada yang menyangka, dalam hitungan menit, keceriaan itu berubah menjadi tragedi. Ombak menggulung, menarik tubuh kecil Zizin ke dalam arus. Teman-temannya panik, warga berlarian, dan upaya penyelamatan dilakukan secepat mungkin.
Salah seorang warga Desa Tanjung Gadai yang enggan disebutkan namanya menceritakan kembali detik-detik kejadian tragis yang merenggut nyawa Zizin. Menurutnya, insiden itu terjadi sekitar pukul 15.50 WIB, saat Zizin dan beberapa temannya bermain sambil berenang di tepian pantai.
Awalnya, semuanya tampak biasa. Anak-anak itu bercanda, saling memercik air, menikmati sore di tepian laut yang sering menjadi tempat bermain mereka. Namun dalam sekejap, keriangan itu berubah menjadi kepanikan. Zizin tiba-tiba hilang dari permukaan air.
“Berdasarkan cerita orang-orang tetangga, sekitar pukul 3.50 anak itu berenang dan bermain di pantai bersama teman-temannya. Konon, tiba-tiba ia tenggelam. Setelah itu tubuhnya muncul kembali dan dibantu kawan-kawannya ke tepi pantai. Mereka langsung memberitahu orang tuanya. Jarak dari lokasi kejadian ke rumah itu sekitar 400 meter,” ujarnya.
Kabar itu langsung menghantam hati kedua orang tuanya, Junaidi dan Eva. Mereka berlari tergopoh-gopoh menuju tepi pantai. Tangis pecah tak terbendung ketika melihat tubuh kecil putri mereka terbujur lemah.
Bidan desa bernama Aufia Lailatul Nisa bersama warga setempat segera memberikan pertolongan pertama, masing-masing menurut kemampuan dan kepercayaan mereka. Namun kondisi Zizin sudah terlalu lemah. Nafasnya tidak teratur, tubuhnya pucat, dan harapan seakan menipis dari menit ke menit.
Meski segala upaya telah dilakukan, takdir berkata lain. Nyawa Zizin tak tertolong.
“Sekitar jam 6 dinyatakan meninggal. Kalau menurut orang-orang, sekitar jam 4.30 itu sudah tidak ada denyut nadinya,” tuturnya lirih.
Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Aldi Alfa Faroqi SH SIK MH, melalui Kapolsek Tebingtinggi Iptu Daniel Bakara, membenarkan adanya peristiwa tragis yang merenggut nyawa bocah 11 tahun, Nurazizin, di pantai Desa Tanjung Gadai.
Kapolsek menceritakan kronologi yang tidak jauh berbeda dari penuturan warga. Menurutnya, sore itu air laut sedang surut, dan Zizin bersama teman-temannya bermain di pinggir pantai—tempat yang hampir setiap hari menjadi arena kegembiraan mereka. Namun siapa sangka, di balik permukaan air yang tampak tenang itu, terdapat lubang cukup dalam yang tak terlihat oleh anak-anak tersebut.
“Saat sedang berjalan di pinggir pantai, korban masuk ke dalam lubang sehingga terbawa arus dan tenggelam beberapa saat. Lalu korban muncul kembali ke permukaan air,” ujar Iptu Daniel.
Melihat Zizin muncul dalam kondisi tak berdaya, teman-temannya panik. Dengan segala keterbatasan, mereka berusaha menolong. Salah seorang anak mengambil sebatang kayu, lalu bersama yang lain menarik tubuh Zizin ke tepi pantai. Bahkan di usia yang sama-sama belia, naluri mereka untuk saling membantu begitu jelas terlihat.
Begitu tubuh Zizin berhasil dibawa ke darat, salah seorang temannya berlari sekencang mungkin menuju rumah orang tua korban untuk memberitahu ayahnya, Junaidi alias Edi. Mendapat kabar itu, Edi yang berada di rumah di Jalan Batu Bata Dusun Tanjung Kebal Timur
langsung bergegas menuju pantai dengan perasaan campur aduk—antara cemas, takut, dan berharap.
Sesampainya di lokasi, Edi mengangkat tubuh putrinya dan membawanya lebih jauh ke daratan agar bisa segera ditangani. Bidan desa yang tiba tak lama kemudian langsung memeriksa kondisi Zizin. Saat itu, korban masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan meski sangat lemah. Upaya pertolongan pertama segera dilakukan.
Namun takdir berkata lain. Meski ditangani secepat mungkin, kondisi Zizin terus menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Gelombang kesedihan menyelimuti keluarga dan masyarakat setempat yang turut menyaksikan upaya penyelamatan tersebut.
Tragedi itu meninggalkan duka mendalam—tak hanya bagi orang tua korban, tetapi juga bagi teman-temannya yang masih terguncang, dan bagi seluruh warga desa yang kini kembali diingatkan betapa berbahayanya bermain di laut saat kondisi alam tidak bersahabat.
Desa Tanjung Gadai kembali kehilangan seorang anak—bukan sekadar murid sekolah dasar, tetapi cahaya kecil yang selama ini menghidupkan hari-hari orang tuanya dan teman-temannya. Duka menyelimuti seluruh desa, meninggalkan luka yang tak mudah hilang. (R-04)

