Pedagang Riau Kesulitan Peroleh Pasokan, Pengamat Ekonomi Sebut Bencana di Sumbar Berdampak Panjang
Pengamat ekonomi dari Universitas Riau, Dahlan Tampubolon. Foto: Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Jelang akhir tahun ini, kenaikan harga barang dan bahan pokok kembali terjadi dan membuat warga Kota Pekanbaru kelimpungan. Pantauan SabangMerauke News, hingga awal Desember ini, kelangkaan beberapa komoditas mulai terasa di sejumlah pasar.
Tidak hanya pembeli, pedagang pun mengaku kesulitan memperoleh pasokan yang konsisten, sementara permintaan masyarakat tetap tinggi.
Kondisi ini memperkuat prediksi bahwa tekanan inflasi pada kelompok bahan pangan segar (volatile food) akan terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Pengamat ekonomi dari Universitas Riau, Dahlan Tampubolon menilai jika pemerintah tidak memberi perhatian, maka akan terjadi lonjakan harga yang cukup drastis.
"Soal harga bahan pokok di Riau menjelang akhir tahun 2025 ini, potensi lonjakannya itu besar sekali," kata Dahlan melalui sambungan telepon pribadi pada Senin (1/12/2025).
"Karena Riau ini ketergantungan pasokan dari Sumut dan Sumbar. Bencana banjir bandang yang baru terjadi di sana sudah merusak jalur logistik utama kita, banyak jalan yang masih dalam proses pemulihan," lanjut Dahlan.
Ia juga melihat walaupun sudah ada perbaikan infrastruktur secara bertahap, namun kelancaran distribusi barang belum tentu normal seperti sedia kala.
"Jadi, menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), saat permintaan pangan seperti cabai, bawang, daging, dan telur itu naik gila-gilaan, stok yang masuk ke Riau pasti terlambat atau terbatas," kata Dahlan.
Hal ini, menurut Dahlan, bisa menimbulkan bebagai dampak yang dapat memicu kepanikan.
"Kalo barang sedikit sementara semua orang mau beli banyak, ya otomatis harganya langsung melambung tinggi lah, itu hukum ekonomi yang paling simpel," sebutnya.
Ia menyebut ada juga faktor musiman yang sangat mempengaruhi situasi saat ini.
"Selain masalah jalur distribusi yang belum pulih total itu, harus ingat juga faktor musiman dan biaya produksi," sebutnya.
"Biasanya, menjelang akhir tahun itu intensitas hujan di Sumatera masih tinggi, yang bisa mengganggu panen di sentra-sentra produksi di dataran tinggi Sumbar atau Sumut," tambah Dahlan.
Ini akan berakibat panjang, dimana menurutnya, bila panen gagal atau hasilnya sedikit, harga barang dari petani sudah mahal duluan sebelum masuk ke Riau.
"Ditambah lagi biaya transportasi, pasti naik dua kali lipat menjelang Nataru, karena sopir truk pasti minta upah lebih tinggi dan ada risiko macet atau force majeure di jalan yang belum stabil pasca-bencana," tegasnya.
"Jadi, semua biaya tambahan dari gagal panen sampai ongkos kirim itu nanti pasti dibebankan ke konsumen di Riau, makanya harga cabai di pasar itu pasti pedas kali," lanjutnya sambil bercanda.
Menurut Dahlan, bila pemerintah tidak segera mengambil langkah cepat, maka akan menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat.
"Kalau pemerintah Riau sama pemerintah pusat tidak cepat-cepat ambil langkah konkret, lonjakan harga itu hampir pasti terjadi," tegasnya.
Untuk pertimbangan penting, Dahlan juga mengemukakan ide yang bisa menjadi solusi dari permasalahan tahunan ini.
"Solusinya tidak bisa cuma mengandalkan jalur darat saja, harus ada intervensi stok darurat dari Bulog atau Bapanas yang disiapkan di gudang-gudang Riau sekarang juga, buat menahan gejolak permintaan Nataru," sarannya.
"Kalau stok melimpah dan aman, pedagang tidak berani kali lah mainkan harga. Intinya, persiapan stok dan jaminan kelancaran distribusi itu harus jadi prioritas utama sekarang, kalau tidak mau nanti rakyat Riau tercekik harga bahan pokok di akhir tahun," tutup Dahlan. (KB-02/Reynold)

