Nilai Akhlak di Tengah Deru Pelabuhan: Pelindo Selatpanjang Berbagi Menyapa Anak-Anak Yatim di Panti Asuhan
Manager Operasi Pelindo Selatpanjang, Bruri Sumantri, bersama stafnya Amirul Fatoni dan beberapa karyawan lain, datang langsung menyalurkan bantuan. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di pelosok yang jauh dari hiruk-pikuk kota, tepatnya di Jalan Pramuka Gang Al Hikmah, Desa Banglas, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, berdiri sebuah bangunan sederhana berdinding semen dan beratap seng. Tiga lokal kecil itu menjadi rumah bagi puluhan anak yatim dan dhuafa — tempat yang mereka sebut Panti Asuhan Anak Yatim Nafisha Meranti. Di sinilah tawa, doa, dan harapan kecil tumbuh di tengah keterbatasan.
Sore itu, Jumat (10/10/2025), angin semilir mengayun lembut daun ilalang di halaman panti. Cuaca panas tak menyurutkan langkah rombongan dari Pelindo Selatpanjang yang datang membawa senyum dan bingkisan kebaikan. Mereka hadir bukan sekadar memberi, tetapi juga menyapa dan menghadirkan rasa bahwa anak-anak di panti ini tidak sendiri.
Manager Operasi Pelindo Selatpanjang, Bruri Sumantri, bersama stafnya Amirul Fatoni dan beberapa karyawan lain, datang langsung menyalurkan bantuan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Pelindo Berbagi”, wujud nyata tanggung jawab sosial dan kepedulian perusahaan pelabuhan milik negara itu terhadap masyarakat sekitar wilayah kerjanya.
“Kami ingin anak-anak di sini merasakan kehadiran kami bukan hanya sebagai perusahaan, tapi juga sebagai keluarga yang peduli,” ujar Bruri mewakili General Manager (GM) PT Pelindo (Persero) Regional 1 Cabang Tanjung Balai Karimun, Joni Hutama, dengan nada hangat sembari menyerahkan bantuan kepada pengurus panti.
Di sela-sela penyerahan, tampak senyum merekah di wajah anak-anak. Bagi mereka, kedatangan tamu dari Pelindo bukan sekadar membawa bingkisan, tapi juga perhatian dan kasih yang selama ini mungkin jarang mereka dapatkan. Di antara tawa dan canda ringan, ada doa-doa kecil yang terucap lirih agar kebaikan hari itu berlipat ganda menjadi keberkahan.
Bagi Pelindo, kegiatan seperti ini bukanlah yang pertama. Namun setiap kunjungan selalu meninggalkan kesan tersendiri, baik bagi penerima maupun bagi para pegawai yang turut hadir. Di tengah kesibukan kerja di pelabuhan, mereka menemukan makna lain tentang pengabdian bahwa melayani negeri bukan hanya soal logistik dan bongkar muat kapal, tapi juga menyentuh hati manusia di sekitarnya.
Kegiatan Pelindo Berbagi kali ini terasa istimewa bagi keluarga besar Pelindo Selatpanjang. Meski dilaksanakan tak bersamaan dengan kantor cabang lain, semangatnya tetap sama yakni berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim di Panti Asuhan Nafisha Meranti.
Kegiatan tersebut digelar bersempena dengan Hari Pelindo yang diperingati setiap 1 Oktober, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila. Momentum ini bukan hanya perayaan ulang tahun Pelindo pasca-merger tahun 2021, tetapi juga momen refleksi dan rasa syukur atas perjalanan panjang perusahaan pelabuhan milik negara itu.
Di berbagai daerah, peringatan Hari Pelindo dirayakan dengan kegiatan serentak dengan menggelar doa bersama, santunan anak yatim, dan aksi sosial. Namun di Selatpanjang, perayaannya datang sedikit terlambat.
“Memang tidak dilaksanakan bersamaan, tapi makna dan semangatnya tetap sama untuk berbagi kebaikan untuk sesama,” ujar Bruri Sumantri, Manager Operasi Pelindo Selatpanjang dengan senyum hangat.
Ia menjelaskan, kegiatan ini menjadi bukti bahwa Pelindo Regional 1 terus berkomitmen untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat di wilayah kerjanya, termasuk di Kepulauan Meranti.
“Kami memang baru pertama kali datang ke panti ini. Biasanya kami ke panti lain, tapi insyaAllah jika nanti ada rezeki dan kesempatan lagi, kami akan kembali ke sini. Semoga apa yang kami salurkan hari ini membawa manfaat bagi adik-adik semua,” tuturnya tulus.
Program Pelindo Berbagi sendiri merupakan bagian dari inisiatif sosial BUMN Pusat sebagai wujud nyata kepedulian dan komitmen menjaga keharmonisan antara perusahaan dan masyarakat.
Di tengah ritme pelabuhan yang tak pernah tidur, momen sederhana ini menjadi oase — mengingatkan bahwa di balik aktivitas bongkar muat dan hiruk-pikuk kapal, masih ada ruang luas untuk berbagi kasih dan menebar kepedulian.
“Kegiatan ini lebih dari sekadar ibadah. Ini adalah manifestasi semangat berbagi dan memperkuat ikatan sosial dengan masyarakat. Santunan kepada anak-anak di sini adalah bentuk syukur dan doa bersama agar Pelindo senantiasa diberkahi dalam menjalankan amanah sebagai pengelola pelabuhan. Kami percaya, keberkahan perusahaan juga lahir dari doa mereka," tutur Bruri.
Sore itu, di bawah langit Desa Banglas yang perlahan meredup, suasana panti dipenuhi senyum, tawa, dan ucapan terima kasih. Di mata anak-anak yatim itu, Pelindo bukan sekadar nama besar di pelabuhan tetapi tangan hangat yang datang membawa kepedulian di antara riuh ombak dan debur kerja.
Anak-anak penghuni di Panti Asuhan Nafisha Meranti, tawa anak-anak yatim berpadu dengan suasana haru dan syukur. Mereka yang baru saja menerima kunjungan dari Pelindo Selatpanjang, yang tidak hanya sekadar membawa bantuan, tetapi juga membawa pesan kemanusiaan bahwa setiap rezeki yang diterima, harus dibagi untuk sesama.
Bagi Bruri Sumantri, Manager Operasi Pelindo Selatpanjang, kegiatan Pelindo Berbagi bukan hanya rutinitas tahunan, melainkan wujud nyata penerapan nilai-nilai AKHLAK — (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif ) sebagai budaya kerja insan Pelindo.
“Hari Pelindo bukan hanya milik insan Pelindo, tetapi juga masyarakat sekitar. Semoga kegiatan ini menambah semangat kebersamaan dan pelayanan terbaik untuk bangsa,” ucapnya penuh makna.
Bruri menegaskan, Pelindo tidak hanya berfokus pada bisnis pelabuhan dan logistik, melainkan juga menanamkan nilai kemanusiaan sebagai bagian dari denyut kehidupannya.
“Kami ingin memastikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial menjadi bagian integral dari eksistensi perusahaan,” tambahnya.
Melalui program tahunan ini, Pelindo berupaya menebar manfaat, mempererat silaturahmi, serta menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat yang hidup berdampingan dengan aktivitas pelabuhan. Momentum peringatan Hari Pelindo dijadikan ajang berbagi, memperkuat tali sosial, dan menanamkan kembali nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Pelindo senantiasa menempatkan nilai kemanusiaan dan kebermanfaatan sosial sebagai bagian penting dari eksistensi perusahaan. Program ini adalah salah satu bentuk nyata komitmen kami terhadap masyarakat sekitar pelabuhan,” tutur Bruri menutup perbincangan.
Sore itu, pelabuhan mungkin tetap berdenyut, dimana kapal datang dan pergi, logistik berpindah, aktivitas terus berjalan. Namun, di balik kesibukan itu, Pelindo Selatpanjang membuktikan bahwa kehadiran sebuah perusahaan tidak hanya diukur dari nilai ekonomi, tapi juga dari seberapa dalam ia menjejak di hati masyarakat.
Karena di hari itu, Pelindo hadir bukan hanya sebagai pengelola pelabuhan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan dari solidaritas, dari doa-doa anak yatim yang tulus mengucap terima kasih.
Kebahagiaan sore itu tak hanya terpancar dari wajah para tamu, tetapi juga dari mata anak-anak yang menerima santunan. Senyum mereka sederhana, tapi tulus seperti ungkapan syukur yang tak terucap panjang.
Di antara mereka, berdirilah Syaiful A. Bakar, pengasuh Panti Asuhan Anak Yatim Nafisha Meranti, yang dengan nada lembut menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian Pelindo Selatpanjang.
“Terima kasih atas perhatian pihak PT Pelindo yang telah menyematkan perhatian kepada anak-anak kami dengan memberikan santunan. Bantuan ini sangat berarti bagi kami di panti. Semoga Pelindo semakin maju, sukses, dan operasionalnya lancar seperti yang diharapkan,” tutur Syaiful dengan mata berkaca-kaca.
Panti Asuhan Nafisha Meranti berdiri pada tahun 2023 di bawah naungan Yayasan Al-Insan, didirikan oleh Sulastri, seorang perempuan dermawan yang membeli sekaligus mewakafkan tanah untuk pembangunan panti tersebut. Dengan niat yang tulus, ia memulai langkah kecil — membangun rumah kasih dari dana pribadi, kemudian dibantu oleh beberapa donatur yang ikut berbagi rezeki.
Kini, panti itu menjadi rumah bagi 20 anak — sebagian yatim, sebagian yatim piatu, dan lainnya dari keluarga dhuafa. Setiap hari mereka berangkat sekolah, biaya pendidikannya ditanggung penuh oleh panti. Sore hingga malam hari, mereka belajar mengaji, melantunkan ayat-ayat suci dengan suara lembut yang memenuhi ruang sederhana itu.
Syaiful tinggal di panti bersama istrinya, Fitri. Mereka bukan sekadar pengasuh, tapi juga orang tua pengganti bagi anak-anak itu. Fitri menyiapkan makanan setiap hari, sementara Syaiful mengajar dan mendampingi anak-anak dalam belajar. Seluruh biaya operasional panti mereka tanggung bersama donatur tetap — sebagian besar masih datang dari tangan lembut sang pendiri.
Di rumah sederhana itu, kasih sayang menjadi bahan bakar kehidupan. Di sinilah kepedulian Pelindo menemukan maknanya bahwa berbagi tak selalu tentang jumlah, melainkan tentang kehadiran yang membawa harapan.
Sore itu, di tengah tawa anak-anak yatim dan doa yang dipanjatkan, terlihat jelas bahwa Pelindo tidak sekadar memberi, tetapi hadir menyentuh kehidupan, menyalakan kembali makna kemanusiaan. (R-01)

