Luluh Lantak Dilalap Api, Kisah Pilu di Balik Terbakarnya Gedung SMA Negeri 1 Selatpanjang
Api menghanguskan gedung SMA Negeri 1 Selatpanjang, Senin (30/9/2025). Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Senja terakhir di bulan September 2025 itu berubah menjadi mimpi buruk bagi warga Selatpanjang, Senin (30/9/2025). Langit yang biasanya tenang perlahan ditelan gulungan asap hitam pekat, membubung tinggi dan terlihat dari berbagai sudut kota.
Sumber kepanikan itu berasal dari salah satu lembaga pendidikan tertua di Kepulauan Meranti—gedung SMA Negeri 1 Tebingtinggi.
Dari lantai dua sekolah yang berdiri di Jalan Pembangunan II itu, lidah api menjilat tanpa ampun. Melahap satu per satu ruang kelas terbakar, hingga kobaran merah membentuk hinggamerambat jadi letter 'U' itu seolah mengepung seluruh bangunan.
“Sekolah terbakar!” teriak warga yang pertama kali melihat api menjalar.
Dalam hitungan menit, kabar itu menyebar, membuat jalan Pembangunan I dan II dipadati ratusan orang. Mereka hanya bisa terpaku, sebagian mengangkat ponsel, merekam detik-detik luluh lantaknya sekolah kebanggaan kota.
Api pertama kali terlihat sekitar pukul 17.00 WIB di lantai atas sebelah kanan. Setengah jam kemudian, jilatan api semakin menggila, melahap habis lantai dua gedung. Hembusan angin mempercepat kobaran, membuat para petugas pemadam, polisi, dan TNI yang tiba di lokasi harus berjibaku melawan si jago merah.
Total ada 34 ruang yang menjadi korban keganasan api. Hampir seluruh lantai atas hangus, sementara beberapa ruang di lantai bawah berhasil diselamatkan. Namun yang tersisa hanya puing, abu, dan wajah-wajah yang masih sulit percaya bahwa bangunan sekolah yang sudah berusia 35 tahun itu kini tinggal kenangan.
Di balik kepulan asap dan suara kayu yang ambruk dimakan api, kepanikan bercampur pilu menyelimuti halaman SMA Negeri 1 Tebingtinggi. Kepala sekolah bersama sejumlah guru berusaha sekuat tenaga dibantu para siswa dan masyarakat yang hadir menyelamatkan apa yang bisa diangkat: berkas administrasi, map berisi dokumen penting, hingga tumpukan arsip siswa. Namun upaya itu terasa sia-sia. Peralatan penunjang kegiatan belajar, mulai dari komputer, alat peraga, hingga fasilitas laboratorium, tak sanggup diselamatkan dari amukan si jago merah.
Duka itu semakin dalam. Kepala sekolah, Poyadi, sempat tak sadarkan diri, tubuhnya roboh diterpa rasa syok menyaksikan sekolah yang selama ini ia rawat kini dilalap api. Beberapa guru yang datang hanya bisa menangis, memeluk pundak satu sama lain di tengah reruntuhan. Tempat pengabdian mereka, ruang penuh kenangan bersama anak didik, kini hanya tersisa puing dan arang hitam.
Yang paling memilukan, bukan hanya bangunan dan fasilitas yang musnah, melainkan juga dokumen berharga milik siswa. Sejumlah ijazah tamatan tahun sebelumnya yang belum sempat diambil, ikut lenyap menjadi abu.
Di antara kepulan asap, Poyadi berdiri terpaku, matanya berkaca-kaca. Suaranya bergetar saat mencoba menenangkan dirinya, meski jelas luka itu masih terasa.
Diceritakan pada saat kejadian proses belajar mengajar sudah tidak ada lagi, hanya saja ada tinggal beberapa civitas sekolah yang melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler.
“Proses belajar mengajar sudah selesai, berakhir jam 16.15. Semua siswa dan guru sudah pulang ke rumah. Hanya ada beberapa anak yang ikut kegiatan ekstrakurikuler, main basket dan latihan menari. Ada juga staf tata usaha yang masih bekerja. Tapi semua berjalan seperti biasa,” katanya, seakan berusaha meyakinkan dirinya bahwa tak ada korban jiwa yang harus ditangisi.
Sekolah itu memang sudah tua dan lebih dari tiga dekade berdiri, menjadi rumah bagi ribuan generasi. Kini, hanya puing, abu, dan air mata yang tersisa, sementara rasa kehilangan menempel di hati para guru dan siswanya.
Lebih lanjut, Poyadi mengenang detik-detik sore itu. Beberapa menit lewat pukul lima, sebuah kabar menggelegar menembus ketenangan hari. “SMA 1 terbakar,” begitu isi pesan yang diterimanya. Ia bergegas ke lokasi, hanya untuk mendapati kenyataan pahit dan api sudah terlanjur menjalar, melahap ruang demi ruang yang selama ini menjadi tempat anak-anaknya menimba ilmu.
Poyadi mengatakan dirinya tidak mengetahui pasti sumber api berasal dari mana karena informasinya masih simpang siur. Namun informasi kuat yakni Korsleting kuat, karena api terlihat pertama kali muncul dari atas atap.
Dengan wajah pucat, ia bercerita bahwa hingga kini sumber api masih misteri.
“Saya dapat kabar sekitar jam lima lewat, katanya SMA 1 terbakar. Sampai di sini, api sudah besar. Penyebabnya kita belum tahu. Ada yang bilang dari lantai dua sebelah kanan ujung, ada juga yang bilang dari pustaka, bahkan ada yang menyebut dari labor komputer. Semua masih simpang siur. Jadi kita tunggu saja hasil penyelidikan polisi,” ucapnya pasrah, matanya nanar menatap bangunan yang kini tinggal arang.
Bagi warga, sekolah ini bukan sekadar gedung. Ia adalah simbol kebanggaan, ruang belajar, dan tempat menanam mimpi. Malam itu, di balik asap pekat yang masih menggantung di udara, hanya doa yang tersisa: semoga esok masih ada cahaya harapan bagi generasi muda Tebingtinggi.
Namun, kegelisahan besar pun tak bisa dibendung. Bagaimana nasib ratusan anak didik SMA Negeri 1 setelah sekolah mereka luluh lantak dilalap api? Gedung berusia 35 tahun itu, berdiri di atas lahan 700 meter persegi, kini tinggal puing. Dari total 34 ruangan — ruang kelas, laboratorium, multimedia, hingga gudang alat peraga — hampir separuhnya hangus tak bersisa. Bahkan atap mushola yang dulu menjadi tempat bersujud pun ikut runtuh disambar api.
Sekolah kebanggaan masyarakat Kepulauan Meranti, saat ini menampung 787 siswa serta 89 guru dan tenaga administrasi. Semuanya kini terpukul. Namun, di tengah kegetiran, Poyadi masih mencoba tegar.
Di tengah kepulan asap yang masih tersisa dan puing-puing yang menghitam, Poyadi, tampak terpukul. Raut wajahnya menggambarkan kegundahan mendalam. Ia tak henti-hentinya memikirkan masa depan ratusan anak didiknya, terutama siswa kelas 12 yang sebentar lagi akan menghadapi ujian penting.
Namun, di balik kebingungan itu, terselip rasa syukur. Poyadi menghela napas lega karena tidak ada satupun korban jiwa dalam peristiwa kebakaran yang meluluhlantakkan sekolah berusia lebih dari tiga dekade itu.
Dengan suara bergetar, ia berucap lirih, penuh syukur sekaligus gundah “Alhamdulillah, tak ada korban jiwa. Tapi saya tetap memikirkan bagaimana nasib anak-anak kita nanti, terutama kelas 12 yang sebentar lagi ujian,” tuturnya.
Di tengah kepulan asap yang masih tersisa, Poyadi mengaku sedang memutar otak. Ia tahu, kebakaran yang meluluhlantakkan hampir separuh bangunan SMA Negeri 1 Tebingtinggi bukan hanya soal dinding dan atap yang runtuh. Ada masa depan ratusan anak didik yang harus tetap berjalan.
Salah satu opsi yang terpikir adalah menumpang sementara di sekolah lain, atau beralih ke sistem daring agar proses belajar tetap hidup. “Untuk sementara, kami berkomunikasi dengan kacab dan Pak Kadis, juga berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten. Kalau memungkinkan, mungkin anak-anak bisa menumpang dulu di tempat lain,” ungkapnya.
Namun, sembari menunggu keputusan resmi, langkah darurat segera disiapkan. Proses belajar tidak boleh berhenti, meski ruang kelas kini tinggal puing-puing hitam. “Mulai besok, kemungkinan dalam minggu ini kita belajar secara daring. Guru akan tetap mengajar lewat online. Saya akan segera mengirimkan informasi melalui grup WhatsApp sekolah kepada paguyuban orang tua siswa,” jelas Poyadi.
Bagi pria yang sudah lama mendedikasikan diri di dunia pendidikan itu, memastikan anak-anak tetap mendapat hak belajar adalah prioritas utama. Gedung boleh terbakar, tetapi semangat mengajar dan belajar tidak boleh ikut padam.
Sementara itu, dari pihak kepolisian dipastikan tidak ada korban jiwa dalam kebakaran hebat yang melanda SMA Negeri 1 Tebingtinggi. Namun, nilai kerugian materil hingga kini masih belum bisa ditafsirkan.
Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Aldi Alfa Faroqi SH SIK MH, melalui Kapolsek Tebingtinggi, Iptu Daniel Bakara, menjelaskan kronologi kejadian sore itu. Sekira pukul 16.45 WIB, ada sepuluh orang siswa yang sedang melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler bermain bola basket di halaman sekolah.
Salah seorang siswa, Atta (17), warga Jalan Mahmud Gang Air Putih, Desa Banglas, tiba-tiba melihat gumpalan asap mengepul dari lantai dua gedung, tepatnya di ruang aula atau ruang pertemuan. Bersama teman-temannya, ia bergegas menuju ke sumber asap. Saat pintu aula dibuka, terlihat titik api menyala di bagian atas plafon ruangan.
Dengan alat seadanya, mereka mencoba memadamkan api. Namun, api justru cepat membesar, melahap ruangan dan merambat ke bagian lain bangunan. Situasi panik tak terhindarkan.
Melihat api semakin membesar, penjaga sekolah, Dayat (38), warga Jalan Pembangunan I, berlari memanggil tim pemadam kebakaran. Tak lama berselang, mobil damkar tiba. Bersama warga dan aparat, petugas berjibaku memadamkan si jago merah. Setelah lebih dari tiga jam bertarung dengan api, tepat pukul 20.00 WIB, kobaran akhirnya berhasil dipadamkan, disusul proses pendinginan untuk memastikan api tidak kembali menyala.
Sementara itu, dari balik kobaran api yang membubung tinggi di jantung Kota Tebingtinggi, petugas pemadam kebakaran berjibaku menantang waktu. Kepala Satpol PP dan Damkar Kepulauan Meranti, Wan Zulkifli, melalui Kepala Bidang Damkar, Raja Yusran, mengungkapkan bahwa laporan kebakaran baru diterima pada pukul 17.00 WIB. Hanya sepuluh menit setelahnya, dua unit mobil damkar sudah meraung di lokasi. Namun, api terlanjur membesar di bagian depan sekolah, diperparah hembusan angin yang kencang.
“Jadi kendalanya itu kami sangat menyesalkan laporan yang kita terima agak lambat, padahal lokasinya di tengah kota. Memang sepuluh menit kita sudah sampai, tapi api sudah membesar dengan kondisi angin cukup kencang,” ujar Raja Yusran.
Kendala lain pun muncul. Jalan menuju lokasi yang padat sore itu membuat mobil pemadam tersendat. Dua unit mobil tangki berkapasitas 3.000 liter harus bolak-balik puluhan kali ke Kolam Telaga Bening sejauh satu kilometer, karena di sekitar sekolah tak ada sumber air memadai.
Sirene meraung tanpa henti. Selang pemadam memuntahkan semburan air, beradu dengan teriakan warga yang cemas. Malam mulai turun, tetapi halaman SMA Negeri 1 Tebingtinggi masih penuh hiruk pikuk kepanikan. Hingga pukul 20.00 WIB, petugas bersama masyarakat terus berjibaku melakukan pendinginan, memastikan tak ada bara api yang tersisa.
“Kami turun dengan kekuatan penuh, tiga regu dengan dua unit mobil damkar, dibantu BPBD, TNI, Polri, serta mobil penyiram taman milik Dinas Perkintan-LH. Alhamdulillah, api berhasil dipadamkan satu setengah jam kemudian,” jelas Yusran lega.
Namun, minimnya armada membuat petugas kewalahan. Dari total 34 ruangan yang ada, hampir seluruh lantai atas habis dilalap api. Hanya sebagian lantai bawah yang bisa diselamatkan. Di sekitar lokasi, rumah dinas pimpinan bank, sekolah dasar, hingga rumah warga nyaris terancam jika api tidak segera dilokalisir.
“Kendala lainnya yang tak kalah penting, jumlah ruangan yang terbakar cukup banyak. Armada kita sangat minim, jadi harus bolak-balik menjemput air. Itu menyulitkan sekali,” pungkasnya.
Malam itu, di antara bara dan puing yang masih mengepulkan asap, perjuangan para petugas damkar menjadi saksi betapa api bukan hanya membakar bangunan, tapi juga harapan. Namun berkat kerja sama dan keberanian, bencana yang lebih besar akhirnya bisa dicegah.
Namun, dari musibah itu lahirlah kepedulian. Salah satunya datang dari Perhimpunan Masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti (Permaskab Meranti). Ketuanya, Nazaruddin Nasir, mengaku langsung bergerak begitu kabar kebakaran sampai ke telinganya.
“Mendengar peristiwa itu, kita langsung berkoordinasi ke Gubernur Riau. Alhamdulillah, respon beliau segera akan ditangani. Demikian sebagai update kepada kita semua,” ujar Nazaruddin.
Bagi masyarakat, peristiwa ini bukan sekadar kebakaran sekolah. Ia menjadi pengingat bahwa solidaritas dan kepedulian adalah cahaya yang selalu muncul di tengah kegelapan. Dari abu yang tersisa, tumbuh harapan baru, bahwa ratusan siswa yang kini kehilangan ruang belajarnya tidak akan kehilangan masa depan.
Dengan halaman SMA Negeri 1 Tebingtinggi yang masih dipenuhi puing-puing hitam sisa kebakaran hebat yang meluluhlantakkan bangunan sekolah sehari sebelumnya.
Di tengah suasana muram itu, Rabu pagi, (1/10/2025), Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar, hadir meninjau lokasi. Dengan raut wajah prihatin, ia menyampaikan bela sungkawa mendalam kepada seluruh civitas sekolah.
Ia hadir dengan didampingi beberapa Kepala OPD, diantaranya Kepala Satpol-PP Damkar, Kepala Dinas Kominfotik, Kepala Bagian Kesra, dan beberapa pejabat lainnya.
“Kami dari pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti mengucapkan belasungkawa atas musibah ini. Memang kita tidak menginginkan hal ini terjadi, tapi ini takdir. Semoga ada hikmah di balik semua ini,” ujar Asmar, menenangkan para guru dan siswa yang masih terlihat terpukul.
Asmar menegaskan pemerintah daerah sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah agar laporan segera diteruskan ke Pemerintah Provinsi Riau. Respons cepat pun datang—Gubernur Riau telah menerima laporan, bahkan Komisi V DPRD Provinsi dijadwalkan turun langsung ke Selatpanjang untuk meninjau kondisi sekolah.
Namun, di balik puing yang berserakan, roda pendidikan tak boleh berhenti. Asmar menyebutkan, ruang kelas yang masih tersisa bisa dimanfaatkan dengan sistem pembelajaran dua shift—pagi dan sore. Untuk satu pekan ke depan, siswa diarahkan belajar mandiri di rumah dengan pendampingan daring dari guru.
“Pihak sekolah sudah menginformasikan jika tahapan belajar mengajar akan dibagi dua shift, sehingga tidak ada kendala lagi,” jelasnya.
Solusi juga disiapkan bagi siswa kelas XII yang akan mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA). Sekolah Kalam Kudus bersedia meminjamkan dua laboratorium komputer mereka agar ujian bisa tetap terlaksana tanpa hambatan.
Selain fokus pada solusi jangka pendek, Asmar juga menyinggung soal pencegahan. Ia mengingatkan kembali pentingnya pengecekan instalasi listrik untuk menghindari korsleting, serta mewajibkan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di sekolah-sekolah maupun rumah ibadah.
“Saya yakin setiap sekolah sudah memiliki APAR. Tapi untuk tindak lanjutnya, saya akan perintahkan pihak Damkar agar kembali mensosialisasikan hal ini,” tegasnya.
Di tengah abu yang masih mengepul, pesan Bupati Asmar menjadi secercah penguat
Dimana sekolah boleh terbakar, tapi semangat belajar tak boleh padam. (R-01)

