Rumah Budaya Tengku Mahkota Riau Hadiri Simposium Bangsawan Nusantara di Malaysia, Mahasiswa UIN Suska Tampil Usung Fragmen 'Mahkota Sultan'
Indonesia mempersembahkan karya Mahkota Sultan yang mengangkat kisah Kesultanan Siak Sri Indrapura, khususnya perjuangan Sultan Syarif Kasim II melawan penjajah dan penyerahan 13 juta gulden emas untuk modal kemerdekaan Indonesia. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Rumah Budaya Tengku Mahkota Riau turut menghadiri Majlis Simposium Bangsawan Nusantara yang digelar sempena Jarayawara Bangsawan Nusantara di University Kuala Lumpur Royal College of Medicine Perak, Sabtu (27/9/2025). Acara ini ditaja oleh Waris Moraza Negeri Perak.
Simposium tersebut menjadi wadah pertemuan penggiat seni, akademisi, pelajar, dan masyarakat serumpun untuk membincangkan serta meraikan teater bangsawan sebagai warisan budaya Melayu. Peserta datang dari empat negara, yaitu Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Rangkaian kegiatan meliputi diskusi ilmiah, bengkel pendidikan, persembahan jarayawara, hingga pembentukan jaringan kerja sama lintas negara.
Perwakilan Indonesia, Muhammad Reza Akmal, S.Psi., yang hadir sebagai panelis, menegaskan bangsawan bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan budaya yang diwariskan leluhur.
“Simposium ini menjadi ruang penting mempertemukan pelaku, akademisi, dan generasi muda serumpun dalam menjaga, mengembangkan, serta menghidupkan kembali semangat kebangsawanan di era modern,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Indonesia mempersembahkan karya Mahkota Sultan yang mengangkat kisah Kesultanan Siak Sri Indrapura, khususnya perjuangan Sultan Syarif Kasim II melawan penjajah dan penyerahan 13 juta gulden emas untuk modal kemerdekaan Indonesia.
“Melalui kisah ini, kami ingin menampilkan nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, dan marwah budaya Melayu agar terus dikenang serta menginspirasi generasi masa kini,” tambah Reza.
Datin Shahnoor Zahutin Mohd Haslan Mayudin selaku penganjur menyebut, Simposium Bangsawan Nusantara bertujuan memperkukuh peran bangsawan sebagai warisan budaya, menghubungkan penggiat seni lintas negara, serta membuka ruang kolaborasi akademik dan pertukaran ilmu.
“Kehadiran dan komitmen para tokoh, sarjana, pelajar, dan penggiat seni dari Indonesia, Singapura, Brunei, dan Malaysia amat kami hargai,” ujarnya.
Dengan terselenggaranya simposium ini, para peserta berharap teater bangsawan tetap hidup sebagai bagian dari sejarah dan peradaban Melayu, serta menjadi ikon kebudayaan yang bisa diperkenalkan di pentas dunia.
Dalam rangkaian Jerayawara Bangsawan Nusantara dan Majlis Simposium Bangsawan Nusantara di Universiti Kuala Lumpur Royal College of Medicine Perak, Sanggar Latah Tuah Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau sukses mempersembahkan pertunjukan musikal fragmen berjudul Mahkota Sultan, Sabtu (27/9/2025).
Delegasi Indonesia yang terdiri dari 20 mahasiswa dan mahasiswi ini tampil bukan hanya sebagai duta seni kampus, tetapi juga pembawa marwah kebudayaan Melayu Riau di pentas internasional.
Dengan durasi 15 menit, pementasan Mahkota Sultan mengangkat potongan kisah Kesultanan Siak Sri Indrapura di masa Sultan Syarif Kasim II. Melalui musik, syair, gerak, dan dramatik teatrikal, fragmen ini menampilkan nilai patriotisme sang Sultan yang menyerahkan 13 juta gulden emas untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Pembina teknis Sanggar Latah Tuah sekaligus panelis perwakilan Indonesia, Muhammad Reza Akmal, S.Psi., menyebut pementasan ini dirancang sebagai medium edukasi sejarah Melayu bagi generasi muda.
“Mahkota Sultan bukan sekadar tontonan, melainkan perwujudan seni yang menyampaikan nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, dan kebanggaan Melayu Siak dalam format pertunjukan singkat yang menyentuh,” ujarnya.
Pertunjukan yang ditampilkan di panggung Jabatan Kesenian dan Kebudayaan Negeri Perak ini dikemas dengan tata busana kerajaan, dialog berbahasa Melayu, serta iringan musik tradisional. Audiens dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Indonesia memberikan apresiasi atas penampilan delegasi Riau yang menonjolkan identitas budaya Melayu.
Reza berharap karya serupa dapat membuka ruang lebih luas bagi Riau di tingkat internasional.
“Melalui pementasan singkat ini, kami ingin menunjukkan bahwa Riau adalah pusat budaya Melayu yang patut dikenal dunia. Bangsawan dan musikal Melayu bisa menjadi kekuatan diplomasi budaya Nusantara,” katanya.
Apresiasi juga disampaikan Datin Shahnoor Zahurin Mohd Haslan, selaku Yang Dipertua Pertubuhan Bangsawan Warisan Moraza. Ia menilai fragmen Mahkota Sultan menghadirkan kebanggaan sejarah sekaligus memperlihatkan kekayaan seni Melayu Riau.
“Kehadiran karya ini memperkuat hubungan budaya serumpun dalam semangat Nusantara,” ucapnya.
Dengan penampilan ini, Sanggar Latah Tuah membuktikan peran aktif mahasiswa sebagai duta seni. Melalui fragmen sejarah yang singkat namun sarat makna, mereka menunjukkan bahwa seni bangsawan tetap relevan sebagai warisan yang hidup di tengah masyarakat modern. (R-01)

