Panggung Baru Birokrasi Kepulauan Meranti: Delapan Calon Berebut Kursi Sekda, Puluhan ASN Bidik OPD Strategis
Masa pendaftaran seleksi terbuka jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) serta tiga Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Kepulauan Meranti resmi ditutup pada, Rabu (17/9/2025), tepat pukul 00.00 WIB. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Masa pendaftaran seleksi terbuka jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) serta tiga Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Kepulauan Meranti resmi ditutup pada, Rabu (17/9/2025), tepat pukul 00.00 WIB.
Suasana sunyi di penghujung hari justru menyimpan ketegangan baru—siapa yang kelak akan mengisi kursi strategis yang akan ditinggalkan Bambang Suprianto, sang Sekda yang segera memasuki masa pensiun pada November mendatang.
Dari catatan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM), ada delapan nama yang mendaftarkan diri untuk merebut posisi tertinggi birokrasi di Pemkab Kepulaian Meranti tersebut. Semuanya berasal dari internal, seakan menunjukkan bahwa estafet kepemimpinan birokrasi memang ingin dijaga di rumah sendiri.
Namun, cerita berbeda terlihat di tiga Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang juga sedang kosong. Persaingan justru lebih berwarna. Lima calon berebut kursi Kepala Dinas PUPR, lima calon lain mencoba peruntungan di Dinas Kesehatan, sementara empat kandidat siap bersaing di Dinas Perkim-LH. Dari nama-nama itu, terselip satu wajah dari luar daerah, yang dulunya juga sempat menjadi ASN di Meranti.
“Pendaftaran resmi ditutup tepat pukul 00.00 WIB tadi malam. Seluruh calon Sekda berasal dari internal Pemkab, sedangkan untuk calon Kepala OPD ada satu dari luar daerah,” ujar Kepala BKPSDM Meranti, Bakharuddin, Kamis (18/9/2025).
Meski delapan orang telah mendaftar, Bakharuddin mengakui jumlah itu masih terbilang minim. Padahal, tercatat ada 23 pejabat di Meranti yang sudah memenuhi syarat formal: berpangkat minimal IV/b dan lulus Diklat Pim II. Tetapi tak semua berani melangkah. “Pertimbangan pribadi tentu ada, mungkin soal kesiapan, tanggung jawab, atau sekadar pilihan hati,” tambahnya.
Seleksi ini dipastikan berlangsung ketat. Hanya sehari setelah penutupan, berkas administrasi mulai diperiksa. Khusus untuk jabatan Sekda, jadwal diperketat—tak boleh ada kekosongan. “Sekda adalah motor penggerak birokrasi. Transisi harus berjalan mulus,” tegas Bakharuddin.
Dengan Peraturan Teknis (Pertek) dari BKN dan STJM dari PPK yang sudah di kantong panitia, Pemkab Meranti berharap proses hingga pelantikan nanti bisa berjalan lancar. Semua mata kini tertuju pada proses ini. Sebab, lebih dari sekadar jabatan, ini adalah tentang masa depan tata kelola birokrasi di negeri sagu.
Lampu suksesi birokrasi di Kabupaten Kepulauan Meranti kini tengah menyala terang. Setelah pendaftaran resmi ditutup, daftar nama yang masuk ke meja panitia mulai menyingkap peta persaingan.
Untuk kursi Sekretaris Daerah atau jabatan paling strategis dalam menggerakkan roda birokrasi ada delapan nama yang siap unjuk diri. Mereka adalah Abu Hanifah MPd, Agustia Widodo SE MSi, Drs. Irmansyah MSi, Rawelly Anelia SSTP MSi, Rokhaizal SPd MPd, Suardi MPd, Sudandri SH, dan Tunjiarto. Satu per satu nama ini sudah akrab di telinga jajaran Pemkab Meranti, sebab seluruhnya merupakan putra rumah sendiri.
Tak kalah menarik, persaingan juga mencuat di kursi tiga kepala OPD. Untuk Dinas Kesehatan, lima calon telah mendaftar: Ade Suhartian SH MM, Agustiono ST MSi, Husni Mubarak SAg MPdi, Rahmat Kurnia ST, serta Refiardi S Farm Apt. Nama-nama ini membawa latar belakang berbeda—dari administrasi, kesehatan, hingga manajemen pendidikan.
Di Dinas PUPR, arena kompetisi kembali diisi lima kandidat, sebagian di antaranya juga muncul di daftar calon Dinkes. Mereka adalah Ade Suhartian SH MM, Jone Simanungkalit SE Ak, Syafrizal Ahmadi SPd MSi, Rahmat Kurnia ST, dan Refiardi S Farm Apt.
Sementara itu, Dinas Perkim-LH diramaikan oleh empat calon: Jone Simanungkalit SE Ak, Agustiono ST MSi, Husni Mubarak SAg MPdi, dan Syafrizal Ahmadi SPd MSi.
Daftar ini seakan menunjukkan bahwa peta birokrasi Meranti diwarnai oleh figur-figur yang berulang, menandakan betapa ketat dan cairnya persaingan antarposisi.
Kini, nama-nama itu tinggal menanti hasil pemeriksaan administrasi dan tahapan seleksi berikutnya. Namun satu hal yang pasti: bagi publik Meranti, proses ini lebih dari sekadar perebutan kursi. Ia adalah penentu wajah baru birokrasi, yang kelak akan mengarahkan langkah kabupaten kepulauan ini menuju babak pembangunan berikutnya. (R-01)

