Gelombang Menelan Jejak, Tim SAR Belum Temukan Korban Kapal Gumbang di Rangsang Hingga Hari Keempat
Proses pencarian korban oleh Tim SAR Gabungan. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Memasuki hari keempat pencarian korban kecelakaan Kapal Nelayan Gumbang di Perairan Tanjung Medang, Kecamatan Rangsang, Kepulauan Meranti, masih menyisakan tanda tanya besar.
Gelombang laut terus bergulung, sementara harapan keluarga korban kian menipis. Meski area pencarian telah diperluas, hingga kini tim SAR gabungan belum menemukan satu pun tanda keberadaan korban.
Titik koordinat perkiraan lokasi kejadian berada di 0°54'51"N 103°11'15"E, menjadi pusat perhatian tim sejak hari pertama operasi. Setibanya di lokasi, tim segera berkoordinasi dengan berbagai unsur terkait dan langsung melakukan penyisiran di sekitar Last Known Position (LKP).
Hari demi hari berlalu, namun hasil pencarian tetap nihil. Hari kedua, pencarian dilakukan dengan radius sekitar 2 nautical mile (NM) dari titik LKP. Hari ketiga, pencarian kembali digelar sesuai rencana operasi (Renops) dengan radius yang sama, namun laut seakan menelan jejak korban.
Memasuki hari keempat, langkah pencarian diperluas hingga 9 NM² dari LKP. Kapal SAR bersama nelayan setempat menyisir gelombang, personel menatap tajam ke arah permukaan laut, berharap ada petunjuk sekecil apa pun. Namun, hasilnya tetap sama—kosong.
Pencarian terpaksa dihentikan sementara menjelang senja, untuk dilanjutkan kembali esok hari pada hari kelima. Operasi SAR sendiri dijadwalkan berlangsung hingga hari ketujuh sebagai batas maksimal pencarian sesuai prosedur.
Bagi keluarga, waktu yang berjalan bagai tik-tok jarum jam yang menyesakkan. Sementara bagi tim SAR, setiap detik adalah perjuangan, berpacu dengan alam, harapan, dan doa yang tak pernah putus.
Pada hari keempat pencarian korban tenggelamnya Kapal Nelayan Gumbang ini membawa tim SAR Kepulauan Meranti hingga ke perairan Tanjung Balai Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Ombak setinggi 1,5 meter terus menghantam RIB (Rigid Inflatable Boat) yang mereka gunakan, ditambah arus deras yang seolah menantang tekad para penyelamat.
“Situasinya cukup berat, tapi kami tidak akan menyerah sampai batas waktu yang ditentukan,” ujar Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti, Prima Herrie.
Di tengah kerasnya cuaca laut, semangat tim SAR tidak pernah surut. Kehadiran Kapolsek Rangsang Ipda Dominikus Turnip, bersama Kepala Desa Tanjung Medang Suyanto dan Kepala Desa Tanjung Kedabu Miswan setiap hari di lokasi pencarian, seolah menjadi energi tambahan bagi para personel yang berjibaku dengan ombak.
Prima Herrie juga mengingatkan seluruh warga yang turut membantu pencarian agar selalu mengutamakan keselamatan.
“Dalam melakukan aksi pencarian, kami sering mengimbau untuk selalu gunakan alat keselamatan diri. Jika korban ditemukan, kami akan segera menyerahkan ke rumah sakit atau puskesmas terdekat untuk penanganan lebih lanjut,” pesannya.
Meski hari berganti dan hasil masih nihil, laut bukanlah alasan untuk menyerah. Bagi tim SAR dan masyarakat, setiap gulungan ombak masih menyimpan harapan untuk membawa pulang korban ke pangkuan keluarga.
Diberitakan sebelumnya, gelombang laut di perairan Tanjung Medang, Kecamatan Rangsang, menjadi saksi bisu tragedi dinihari yang menyesakkan. Sabtu (30/8/2025) sekitar pukul 01.00 WIB, sebuah kapal motor milik nelayan gumbang karam setelah tertabrak kapal tugboat yang tengah menarik tongkang di jalur dekat Desa Gayung Kiri.
Dalam gelap pekat yang hanya diterangi lampu kapal, benturan keras itu seolah merobek kesunyian laut. Kapal kayu sederhana itu tak kuasa menahan hantaman baja raksasa. Sekejap, air laut menyerbu ke dalam lambung kapal, membuatnya oleng lalu tenggelam.
Dua awak kapal, Sujono alias Pelang (30) dan rekannya Nizar alias Ari (49), berusaha menyelamatkan diri. Sujono berhasil bertahan meski tubuhnya digempur ombak dan panik yang mencekam. Namun Ari, nelayan asal Desa Tanjung Kedabu, tak pernah muncul kembali ke permukaan. Hingga kini ia masih dinyatakan hilang.
“Tiba-tiba ponton itu menghantam sisi kapal. Air masuk deras, kapal langsung miring. Saya melompat ke laut, tapi Ari sudah tak kelihatan lagi,” tutur Sujono dengan suara bergetar.
Kejadian berawal pada malam itu, Jumat (29/8/2025), laut masih tenang ketika Sujono berangkat menuju Pelabuhan Gayung. Ia menjemput Ari, sahabat sekaligus rekan seperjuangannya. Bersama, mereka melaut menggunakan kapal gumbang milik seorang nelayan bernama Apoi untuk memeriksa jaring udang.
Di tengah kesunyian, keduanya sempat beristirahat di atas kapal. Namun menjelang dinihari, sebuah tugboat besar muncul menarik tongkang baja. Ari panik dan berusaha membuka tali kapal, sementara Sujono berupaya menghidupkan mesin. Semua berlangsung begitu cepat. Kayu kapal pecah, teriakan panik pecah, lalu lautan menelan segalanya.
Dalam kepanikan, Sujono berenang sambil berteriak minta tolong. Untungnya, jeritannya didengar Pijan (60) dan Rian (28), dua nelayan yang berada tak jauh dari lokasi. Mereka berhasil mengevakuasi Sujono yang hampir kehabisan tenaga.
Tak ingin tinggal diam, mereka bertiga mengejar tugboat. Kapal itu akhirnya berhenti. Dengan tubuh menggigil, Sujono naik ke atasnya dan menjelaskan bahwa tongkang telah menabrak kapalnya dan rekannya hilang. Ia meminta kru tugboat untuk membantu pencarian.
Namun pencarian tak membuahkan hasil. Lebih memilukan lagi, tugboat itu kemudian berlayar pergi, meninggalkan laut yang masih menyimpan satu nyawa dalam gelombangnya. (R-01)

