Identitas Mayat di Kolam Selatpanjang Terungkap, Diduga Tersengat Listrik Saat Bekerja : Keluarga Tolak Autopsi
Sesosok mayat berjenis kelamin pria yang ditemukan di dalam kolam berisi air di belakang kos-kosan Jalan Pembangunan 1, Kelurahan Selatpanjang Kota, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, pada Sabtu (30/8/2025) sekitar pukul 11.55 WIB akhirnya terungkap. Foto : SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Sesosok mayat berjenis kelamin pria yang ditemukan di dalam kolam berisi air di belakang kos-kosan Jalan Pembangunan 1, Kelurahan Selatpanjang Kota, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, pada Sabtu (30/8/2025) sekitar pukul 11.55 WIB akhirnya terungkap.
Siang itu warga sekitar dikejutkan dengan penemuan sesosok tubuh mengapung di sebuah kolam berisi air di belakang rumah kos. Suasana yang semula tenang seketika berubah mencekam. Bisik-bisik warga berbaur dengan teriakan orang yang pertama kali melihat tubuh itu.
Mayat berjenis kelamin pria itu kemudian dievakuasi. Identitasnya perlahan terungkap: dia adalah Mulyadi (49), warga Desa Gemala Sari, Kecamatan Rangsang.
Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Aldi Alfa Faroqi melalui Kapolsek Tebingtinggi, Iptu Daniel Bakara menjelaskan, Mulyadi bukanlah orang asing di lokasi tersebut. Ia diketahui sedang menjalankan tugasnya sebagai pekerja, memperbaiki kebun hidroponik milik Deby Bayu Setya Putra, pemilik kontrakan yang berada tepat di area kejadian.
“Kami sudah memastikan identitas korban. Mulyadi memang pekerja yang ditugaskan memperbaiki kebun hidroponik di lokasi tersebut,” ujar Iptu Daniel.
Bagi sebagian warga sekitar, Mulyadi dikenal sebagai sosok pekerja keras. Ia datang dari Rangsang demi mencari nafkah. Namun siapa sangka, langkah kakinya di Selatpanjang justru berakhir tragis di kolam kecil di belakang kos-kosan itu.
Kapolsek menceritakan, pagi itu, Sabtu 30 Agustus 2025, suasana Jalan Pembangunan I, Kelurahan Selatpanjang Kota, masih berjalan seperti biasa. Seorang pria paruh baya bernama Mulyadi tampak melintas di depan kos-kosan. Ia melanjutkan pekerjaannya memperbaiki kebun hidroponik milik Deby Bayu Setya Putra, sang pemilik kontrakan. Beberapa saksi sempat melihatnya. Sekitar pukul 07.00 WIB, ia terlihat berjalan sambil membawa peralatan. Dua jam kemudian, saksi lain kembali melihat Mulyadi, kali ini sedang memegang besi. Namun tak seorang pun tahu pasti apa yang sedang ia kerjakan.
Menjelang siang, sekitar pukul 11.50 WIB, Deby Bayu datang ke kontrakannya. Ia ingin mengecek baja yang baru saja diantar untuk kebutuhan perbaikan kebun hidroponik. Dari kejauhan, matanya tertuju pada kebun hidroponik yang terlihat layu. Deby melangkah mendekat untuk melihat progres pekerjaan. Namun langkahnya terhenti ketika melewati sebuah kolam kecil di dekat kebun itu.
Dari jarak beberapa meter, Deby menangkap pemandangan yang membuat tubuhnya kaku: sebuah punggung dan kepala tampak mengapung di permukaan air. Hatinya tercekat, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bergegas ia memanggil tetangga di depan rumah, berharap penglihatannya keliru.
Namun ketika ia kembali menoleh ke arah kolam, rasa ngeri itu berubah nyata. Sosok yang terapung itu memang benar Mulyadi, pekerja yang ditugaskannya memperbaiki kebun hidroponik. Tubuh Mulyadi tampak mengapung kaku, tangan kanannya masih menggenggam mesin bor, sementara kaki kirinya terlilit kabel.
Suasana yang semula lengang mendadak riuh. Warga berdatangan, sebagian berusaha memastikan kebenaran kabar yang tersebar begitu cepat. Polisi pun bergerak cepat ke lokasi setelah mendapat laporan.
“Benar, korban adalah Mulyadi, pekerja yang sedang memperbaiki kebun hidroponik milik Deby Bayu,” jelas Kapolsek Tebingtinggi, Iptu Daniel Bakara.
Mendapat laporan tersebut, aparat kepolisian bergerak cepat. Sekira pukul 11.55 WIB, anggota Polsek Tebingtinggi bersama tim identifikasi Polres Kepulauan Meranti tiba di lokasi. Dengan sigap mereka mengevakuasi jasad yang belakangan diketahui bernama Mulyadi, 49 tahun, warga Desa Gemala Sari, Kecamatan Rangsang.
Jasad korban kemudian dibawa ke RSUD Kepulauan Meranti untuk dilakukan pemeriksaan luar atau visum et repertum. Di tengah suasana duka, pihak keluarga menerima peristiwa ini dengan ikhlas. Mereka juga menolak dilakukan autopsi, yang dinyatakan secara resmi melalui surat pernyataan penolakan yang telah disampaikan kepada pihak kepolisian.
Hasil observasi di tempat kejadian memberikan gambaran yang memilukan. Saat ditemukan, tubuh Mulyadi mengapung dengan posisi badan dan kepala menghadap ke dasar kolam. Tangannya masih erat menggenggam mesin bor, sementara kaki kirinya terlilit kabel. Kondisi matanya terbuka lebar, tubuh sudah kaku, dan kedua tangan menyiku seakan masih menahan sesuatu di detik-detik terakhir hidupnya.
Pemeriksaan luar oleh dr. Novrita S. Sitorus mengungkap detail yang menguatkan dugaan awal. Di bagian perut sebelah kanan korban ditemukan luka bakar berukuran sekitar 7 cm x 7,2 cm. Kedua tangannya tampak keriput, pertanda ia sempat tenggelam di dalam air. Namun, dokter belum bisa memastikan penyebab pasti kematiannya tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Meski begitu, analisa sementara dari pihak kepolisian dan tim identifikasi mengarah pada satu kemungkinan. Diduga Mulyadi terjatuh ke dalam air saat tengah bekerja memperbaiki kebun hidroponik. Mesin bor listrik yang masih digenggamnya kuat diyakini menjadi sumber sengatan listrik yang merenggut nyawanya.
Suasana duka masih terasa di sekitar lokasi kontrakan. Warga yang mengenal Mulyadi mengenangnya sebagai pekerja sederhana yang datang hanya untuk menunaikan tanggung jawab. Tak ada yang menyangka, pekerjaannya pagi itu berakhir menjadi tragedi yang membawa pulang jasadnya ke kampung halaman.
Sebelumnya diberitakan, lokasi penemuan mayat ini bahkan tidak jauh dari Mapolsek Tebingtinggi, menambah nuansa mencekam sekaligus menyedihkan di tengah hari yang terik itu. Korban diketahui tinggal sendiri di kos tersebut, sementara keluarganya berada di kampung halaman.
Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Aldi Alfa Faroqi, melalui Kapolsek Tebingtinggi IPTU Daniel Bakara membenarkan kejadian itu.
“Benar, ditemukan lagi ada warga yang meninggal dunia. Kami langsung menuju ke TKP setelah mendapat laporan dari warga sekitar pukul 11.30 WIB. Saat ditemukan, korban dalam posisi terapung di kolam,” ujarnya.
Dari hasil pemeriksaan awal, dugaan kuat korban meninggal akibat kecelakaan kerja. Sebelum ditemukan, korban disebut tengah memperbaiki atap kebun hidroponik di belakang kosnya yang roboh. Namun entah apa yang terjadi, ia diduga tersengat listrik sebelum akhirnya terjatuh ke dalam kolam.
Ketika tubuhnya ditemukan terapung, ada bor listrik di dalam air, sementara kabel melilit tubuhnya. Skenario itu membuat aparat dan warga meyakini bahwa maut menjemput korban secara tragis saat ia sedang bekerja. (R-04)

