Klaim Merugi Bukan Halangan, Pelindo Tetap Transformasi Pelabuhan Tanjung Harapan : Percantik Gerbang Utama Meranti
Site Plan Tranformasi Terminal Pelabuhan Tanjung Harapan Selatpanjang yang dipajang, agar penumpang bisa melihat detail rencana pembangunan. Foto : SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Suasana di Pelabuhan Tanjung Harapan, Selatpanjang, belakangan ini tak hanya dipenuhi hiruk-pikuk penumpang yang hendak bepergian, tetapi juga perbincangan hangat tentang rencana kenaikan tarif pass masuk penumpang. Dari warung kopi di tepi jalan hingga ruang tunggu pelabuhan, keluhan masyarakat bersahutan.
Banyak pihak menilai hal merupakan langkah yang tidak tepat di tengah keadaan ekonomi masyarakat yang tidak baik-baik saja. Keluh kesah seperti ini menjadi suara umum di tengah masyarakat, yang menilai kebijakan tersebut terasa berat di masa sulit.
Namun di balik gelombang kritik, dukungan justru datang dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti. Bupati menilai, penyesuaian tarif bukan sekadar angka, melainkan langkah menuju perbaikan layanan. Dukungan serupa juga muncul dari Komisi II DPRD, yang berharap kenaikan ini sebanding dengan peningkatan fasilitas dan kenyamanan bagi masyarakat.
PT Pelindo (Persero) Regional 1 Cabang Tanjung Balai Karimun menjelaskan, penyesuaian ini akan mulai berlaku 1 September 2025 nanti. Untuk keberangkatan domestik, tarif boarding pass naik 100 persen, dari Rp5 ribu menjadi Rp10 ribu. Sementara keberangkatan internasional naik 10 persen, dari Rp50 ribu menjadi Rp60 ribu. Sedangkan bagi Warga Negara Asing (WNA), lonjakan lebih tinggi diberlakukan, dari Rp50 ribu menjadi Rp150 ribu.
Di tengah pro kontra ini, masyarakat hanya bisa berharap bahwa angka yang mereka keluarkan di loket benar-benar kembali dalam bentuk pelayanan yang lebih baik. Sebab bagi penumpang, tiket bukan hanya kertas kecil untuk melewati pintu keberangkatan, melainkan janji akan kenyamanan, keamanan, dan penghargaan atas setiap rupiah yang mereka keluarkan.
Jelang penyesuaian dan pemberlakuan tarif baru pada awal September nanti, malam itu, Rabu (27/8/2025), suasana di Terminal Penumpang Tanjung Harapan, Selatpanjang, berbeda dari biasanya. Lampu terang menyinari ruang tunggu, deretan kursi tampak lebih rapi, dan layar dari proyektor yang ditembakkan ke dinding dinyalakan. Bukan penumpang yang bergegas naik kapal malam ini, melainkan jajaran manajemen PT Pelindo (Persero) Regional 1 Cabang Tanjung Balai Karimun yang kembali datang untuk memaparkan rencana besar yakni transformasi terminal sekaligus penyesuaian tarif pass masuk pelabuhan.
General Manager Pelindo, Jony Utama, berdiri di depan para awak media dengan nada tegas namun hati-hati. Ia tahu, wacana kenaikan tarif ini sudah menimbulkan riak di masyarakat.
Kenaikan ini bukan keputusan sepihak. Menurut Jony, rencana ini telah dibicarakan sejak lama dengan pemerintah daerah, bahkan melalui hearing bersama Komisi II DPRD Kepulauan Meranti.
Tarif pass masuk pelabuhan, katanya, sudah delapan tahun tak pernah berubah sejak 2017. Sementara selama kurun itu, Pelindo terus berbenah dimana perusahaan milik BUMN itu melakukan transformasi dan peningkatan pelayanan yang secara kontinyu.
Renovasi demi renovasi dikerjakan yang mulai dari penataan fasad dan teras bangunan, perbaikan ruang tunggu, penambahan AC, renovasi toilet, hingga penataan jalur kedatangan dan keberangkatan domestik maupun internasional. Mushola pun direnovasi, pengeras suara baru dipasang, ruang tunggu VIP dipercantik, sementara CCTV dan ruang petugas QICP turut ditingkatkan.
“Semua ini demi kenyamanan penumpang. Kami ingin penumpang merasakan layanan yang lebih baik saat menginjakkan kaki di terminal ini,” lanjut Jony.
Lebih jauh, Jony yang juga menjabat sebagai Branch Manager SPMT Tanjung Balai Karimun ini mengungkapkan bahwa PT Pelindo sudah melakukan transformasi dan penataan sejak 2024. Perubahan itu, kata dia, bisa dilihat secara nyata dari kondisi terminal sebelum dan sesudah penataan.
Transformasi ini bukan sekadar wacana di atas kertas. Tahun 2024 lalu, Rp6,7 miliar digelontorkan untuk membiayai proyek pengembangan terminal. Anggaran itu terbagi untuk pembangunan trestle menuju pelabuhan internasional senilai Rp1,5 miliar, serta penataan terminal sebesar Rp4,2 miliar.
Namun di balik deretan angka dan jargon transformasi, suara masyarakat masih nyaring terdengar. Bagi mereka, kenaikan tarif yang akan berlaku 1 September 2025 mendatang bukan hal mudah. Dari Rp5 ribu menjadi Rp10 ribu untuk domestik, Rp50 ribu menjadi Rp60 ribu untuk internasional, dan bahkan hingga Rp150 ribu bagi WNA, angka itu terasa berat di tengah situasi ekonomi yang belum pulih sepenuhnya.
Sementara itu, di dalam terminal malam itu, manajemen Pelindo terus menjelaskan bahwa setiap rupiah tambahan yang dibayar penumpang akan kembali dalam bentuk kenyamanan. Tapi bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada pelayaran rutin, pertanyaan sederhana masih tertinggal: apakah benar kenyamanan itu bisa dirasakan sepadan dengan beban yang bertambah?
Pelabuhan Tanjung Harapan di Selatpanjang bukan sekadar dermaga tempat kapal singgah. Ia adalah pintu gerbang utama yang setiap hari menjadi nadi keluar-masuknya masyarakat Kepulauan Meranti. Di sinilah ribuan langkah dimulai, dari para pekerja, pelajar, hingga pedagang kecil yang menggantungkan hidup pada lalu lintas laut. Pelabuhan ini bahkan disebut sebagai salah satu yang tersibuk di Indonesia untuk kelasnya.
General Manager Pelindo, Jony Utama memaklumi adanya dinamika yang terjadi terhadap kebijakan ini yang mungkin sebagian pihak tidak banyak mendapatkan informasi mengenai hal ini, namun pihaknya berusaha untuk menjelaskan hal tersebut lebih detail.
PT Pelindo (Persero) Regional 1 Cabang Tanjung Balai Karimun, sebagai pengelola, mencoba meredam keresahan itu. Dengan suara tenang ia menegaskan bahwa penyesuaian tarif ini bukanlah keputusan sepihak.
"Kami akan menata terminal Pelabuhan Selatpanjang ini karena banyak yang kurang terhadap fasilitasnya. Yang paling penting untuk dipahami adalah terminal adalah milik masyarakat dan Pelindo hanyalah sebagai pengelola. Masterplan pengembangannya sudah disusun dan akan kita bangun bertahap sampai 2030,” katanya.
Alasan yang disampaikan Pelindo jelas, selain
delapan tahun tarif tak pernah berubah sejak 2017, sementara fasilitas terus diperbaiki dan puncaknya renovasi terminal bernilai Rp6,7 miliar sudah dijalankan pada 2024 dan Tahun-tahun ke depan, rencana investasi lanjutan juga sudah menunggu.
Tetapi di balik angka investasi itu, Pelindo ternyata juga beroperasi dengan catatan merah. Dari pemasukan Rp7,1 miliar pada 2024, setelah dipotong beban usaha, penyusutan, hingga biaya kerjasama mitra, pendapatan bersih hanya Rp3,6 miliar. Belum lagi jika dikurangi investasi miliaran rupiah yang membuat neraca keuangan merugi.
Dengan kata lain Pelindo menyatakan belum menguntungkan atau rugi secara bisnis namun pihaknya tetap berkomitmen berkontribusi membangun dan pengembangan daerah.
"Dalam sisi bisnis pengelolaan pelabuhan penumpang tidak profit oriented atau belum menguntungkan secara bisnis, namun kita lebih kepada memberikan pelayanan. Karena ini berhadapan dengan masyarakat, kecuali operasional pelabuhan barang yang notabene berhadapan dengan pengusaha," tuturnya.
Dari pemasukan itu, pada tahun 2025 pihaknya juga menyatakan akan kembali melakukan investasi yang pekerjaan renovasi dimulai tahun 2026 mendatang.
“Dengan jumlah investasi yang digelontorkan, kami masih terbilang rugi dan balik modal bisa puluhan tahun. Untuk menutupinya, kita menggunakan sistem subsidi silang dengan pelabuhan lain yang beroperasi di tempat lain. Bahkan saat pandemi COVID-19 lalu, arus penumpang berkurang, tapi operasional harus tetap berjalan,” jelas Jony.
PT Pelindo memastikan adanya kebijakan kenaikan tarif boarding pass di Pelabuhan Tanjung Harapan, Selatpanjang ini disebut sebagai syarat mutlak untuk menekan kerugian sekaligus membuka peluang investasi lanjutan.
"Untuk melanjutkan pembangunan ini, kami mendapat tugas dari manajemen untuk menaikkan tarif. Itu merupakan syarat mutlak dan akan direalisasikan secara bertahap selama tiga tahun berturut-turut. Kenaikan tarif ini juga menjadi persyaratan agar kami bisa mengusulkan investasi lanjutan,” jelas Jony.
Di tepi laut Selatpanjang, denyut nadi Kabupaten Kepulauan Meranti berdenyut dari sebuah pelabuhan yang menjadi ikon kota sagu itu. Pelabuhan Tanjung Harapan, yang dulu identik dengan kesemrawutan dan fasilitas seadanya, kini perlahan bertransformasi menjadi wajah baru Meranti yang lebih modern dan berkelas.
Langkah perubahan itu bukan sekadar mimpi di atas kertas. PT Pelindo Regional 1 Cabang Tanjung Balai Karimun sudah mengucurkan dana sebesar Rp 6,7 miliar pada 2024 untuk penataan kawasan pelabuhan tahap pertama. Sentuhan awal itu membuat suasana pelabuhan mulai terasa berbeda—lebih rapi, lebih tertata, dan tentu lebih nyaman bagi para pengguna jasa.
Tak berhenti di sana, tahun berikutnya Pelindo kembali menyiapkan investasi lebih besar, Rp 12,5 miliar, demi melanjutkan penataan tahap kedua. Rinciannya pun cukup detail: mulai dari revitalisasi jalan masuk sebesar Rp 1 miliar, pembangunan loket tiket Rp 1,5 miliar, hingga lahan parkir motor, becak, dan mobil yang menelan anggaran Rp 2,5 miliar.
Yang paling menyita perhatian adalah peningkatan kapasitas ponton internasional dengan dana mencapai Rp 6,342 miliar. Tak lupa, konsultan perencanaan turut digandeng dengan biaya Rp 500 juta. Semua itu, jika ditotal dengan kemungkinan adendum, dibulatkan menjadi Rp 12,5 miliar.
“Dengan transformasi ini, pelayanan publik semakin baik dan masyarakat yang menikmatinya. Target kami, hingga 2030 nanti, Pelabuhan Selatpanjang bisa berstandar nasional bahkan menuju internasional, seperti pelabuhan lainnya,” ujar Jony, penuh optimisme.
Selain mengejar profit, kontribusi dari Pelindo juga akan masuk ke Pendapatan Asli Daerah (PAD). Apalagi ke depan ada rencana bermitra dengan BUMD PT Bumi Meranti untuk mengelola pelabuhan untuk meningkatkan pendapatan daerah melalui bagi hasil sesuai kesepakatan berdasarkan kontribusi yang diberikan nantinya.
"Selain mengejar profit, kami juga akan memberi kontribusi bagi daerah untuk pemasukan bagi PAD, selain itu banyak hal yang menguntungkan bagi daerah, untuk itu kami meminta kepada Pemda untuk segera merealisasikan BUMD agar kita bisa bekerjasama dalam hal meningkatkan pendapatan," kata Joni Utama.
Ia menyebut, bentuk kerja sama yang bisa dilakukan bersama BUMD nantinya mencakup berbagai sektor, mulai dari digitalisasi layanan, pengelolaan parkir, hingga investasi lain yang berpotensi menambah pemasukan bagi daerah.
Bagi masyarakat Kepulauan Meranti, pelabuhan bukan sekadar tempat naik turun kapal. Ia adalah pintu gerbang utama yang menghubungkan ribuan orang dengan dunia luar. Mulai dari pedagang, pelajar yang berangkat menuntut ilmu, hingga perantau yang pulang membawa rindu—semua berpangkal dari dermaga ini.
Karena itu, penataan kawasan pelabuhan menjadi sebuah keharusan. Revitalisasi bukan hanya perkara beton, aspal, atau bangunan baru, melainkan juga tentang kenyamanan, keamanan, dan kebanggaan warga Meranti.
“Pelabuhan ini akan jadi wajah pertama yang dilihat orang ketika menginjakkan kaki di Meranti. Kami ingin kesan itu modern, tertib, dan membanggakan,” kata Jony lagi
Masyarakat pun mulai menaruh harapan besar. Jika dahulu mereka harus berdesakan di ruang tunggu sempit, kini mereka membayangkan ruang yang lebih lapang. Dan jika dulu pelabuhan terasa hanya milik orang luar yang datang, kini ia benar-benar menjadi rumah bersama—ikon modern yang membuat warga Kepulauan Meranti merasa setara dengan daerah lain.
Pelabuhan Tanjung Harapan, perlahan namun pasti, tengah menjelma menjadi pintu gerbang modern Kabupaten Kepulauan Meranti. Sebuah wajah baru yang tak hanya memudahkan perjalanan, tetapi juga membawa kebanggaan dan membuka jendela ke dunia.
Kini, pelabuhan itu tengah bertransformasi. Tak hanya dengan bangunan baru dan infrastruktur yang lebih tertata, tetapi juga melalui kebijakan tarif yang sempat menjadi perbincangan hangat. PT Pelindo Regional 1 menegaskan, kenaikan tarif masuk pelabuhan bukan keputusan mendadak. Ada kajian panjang, ada hitungan yang diperhatikan, dan yang terpenting—ada dukungan penuh dari DPRD Meranti sebagai representasi suara masyarakat.
“Pelabuhan ini adalah pintu gerbang utama Kabupaten Kepulauan Meranti. Kalau pelabuhannya cantik dan bagus, maka jalan dan infrastruktur lainnya juga akan ikut bagus,” ujar salah seorang anggota DPRD, menegaskan pandangan bahwa penataan pelabuhan menyangkut citra daerah.
Bagi DPRD, dukungan ini bukan sekadar persetujuan terhadap tarif. Lebih jauh, ada semacam konsensus bersama yang terjalin antara Pelindo dan wakil rakyat. Penataan pelabuhan dipandang sebagai proyek strategis, bukan hanya soal kenyamanan pengguna, tetapi juga wajah Kabupaten Meranti di mata pengunjung dari luar daerah maupun luar negeri.
Komitmen itu juga dijaga dengan janji. Jony, menuturkan bahwa pihaknya siap mengawal pembangunan pelabuhan hingga selesai sesuai target. Bahkan, jika perlu dituangkan dalam sebuah perjanjian resmi dengan DPRD, Pelindo tidak keberatan menandatangani.
“Dalam hal DPRD mendukung, kita sebenarnya ada janji dengan DPRD sebagai representasi masyarakat. Kenaikan tarif ini adalah syarat mutlak untuk transformasi. Jika progresnya tidak ada, ya silakan tarifnya diturunkan lagi,” ungkap Jony menutup pernyataannya.
Bagi masyarakat, ucapan itu membawa harapan baru. Bahwa kenaikan tarif bukan semata beban tambahan, melainkan investasi bagi kenyamanan mereka sendiri. Investasi agar ruang tunggu pelabuhan lebih layak, agar jalan masuk lebih tertata, agar ponton internasional bisa menampung lebih banyak kapal, dan agar wajah Kepulauan Meranti semakin membanggakan.
Dengan komitmen ini, Pelabuhan Tanjung Harapan bukan sekadar tempat bersandar kapal. Ia sedang tumbuh menjadi simbol kemajuan, ikon daerah, dan gerbang cantik yang dijaga bersama—oleh masyarakat, oleh DPRD, dan oleh Pelindo yang berjanji tak hanya membangun, tapi juga menepati kata-kata.
Sebelumnya, Wakil Ketua II DPRD Kepulauan Meranti, Antoni Shidarta, menegaskan dukungannya terhadap rencana kenaikan tarif pass masuk pelabuhan. Menurutnya, kebijakan tersebut bukan semata soal angka, tetapi tentang bagaimana pelayanan masyarakat bisa ditingkatkan dan bagaimana peluang tambahan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bisa terbuka lebih luas.
Nada serupa datang dari Ketua Komisi II DPRD Kepulauan Meranti, Syafi’i Hasan. Ia melihat, rencana kenaikan tarif ini sejalan dengan komitmen PT Pelindo yang telah menyiapkan rencana besar untuk menata kawasan pelabuhan menjadi lebih representatif.
“Kita dari Komisi II ini sebenarnya sangat setuju adanya kenaikan tarif ini. Untuk ke depan, pelabuhan kita harus lebih baik dan bagus lagi, karena tahun 2024 sudah mulai berubah total. Kami sudah meminta komitmen kepada Pelindo untuk membangun pelabuhan ini lebih bagus lagi, bahkan site plan yang sudah kami lihat sangat bagus sekali. Ini sangat perlu kita dukung untuk masyarakat,” ujar Syafi’i dengan nada optimis.
Di balik pernyataan itu, terhampar angka investasi yang tidak kecil. Pelindo telah menyiapkan rencana anggaran Rp 12,7 miliar untuk kurun waktu 2026–2030. Dana tersebut ditujukan bagi peningkatan pelayanan, kenyamanan, dan citra pelabuhan sebagai pintu masuk utama Kepulauan Meranti.
“Kenapa tidak kita sambut dengan baik? Sebelum uang ini digelontorkan, saat hearing juga sudah kami tanyakan kapan direalisasikan. Saya sebagai Ketua Komisi II akan terus menekan agar komitmen yang disepakati bisa benar-benar dijalankan, apalagi terkait penambahan PAD. Misalnya, untuk pengelolaan seperti parkir melalui BUMD, kita harapkan juga BUMD bekerja dengan baik,” pungkasnya.
Bagi masyarakat, pelabuhan bukan sekadar tempat menunggu kapal berangkat. Ia adalah wajah pertama Kepulauan Meranti yang dilihat pendatang. (R-01)

