Gasing Berpacu, Silat Beradu: Semarak Festival Budaya Melayu Sempena Hari Kemerdekaan di Teluk Belitung
Menyerahkan Cenderamata (miniatur berbentuk Gasing) Kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Kepulauan Meranti, diterima oleh Kabid Kebudayaan, Abdullah. Foto : SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Suara hentakan kaki para pesilat bergema di atas panggung, diiringi dentingan gasing kayu yang saling beradu di arena. Senin sore (11/8/2025), Lapangan Gasing H. Yahya Hulu Asam, Kelurahan Teluk Belitung, dipenuhi riuh tepuk tangan dan sorakan warga. Udara sore itu sarat semangat, seakan sejarah dan masa kini bertemu di satu titik: Festival Budaya Kemerdekaan.
Dua tradisi khas Melayu—silat pengantin (silat sembah) dan permainan gasing—menjadi pusat perhatian. Gerak anggun pesilat putra dan putri membawa penonton larut dalam irama langkah dan tatapan penuh hormat. Sementara itu, di sudut lapangan, gasing-gasing kayu berpacu, memutar cepat, saling beradu ketahanan di permukaan papan. Anak-anak menonton dengan mata berbinar, seakan melihat masa depan budayanya sendiri.
Festival ini dihelat oleh Organisasi Peduli Pemuda (OPP) bersama Komunitas Gasing (Komgas) Teluk Belitung, dengan dukungan PT Imbang Tata Alam (ITA). Mengusung tema “Semarak Festival Budaya Kemerdekaan”, gelaran ini menjadi bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, sekaligus upaya membangkitkan semangat kebudayaan Melayu di tengah arus globalisasi.
“Festival ini bukan sekadar hiburan, tapi pengikat jati diri,” ungkap panitia. Nilai-nilai kearifan lokal dan marwah Melayu ditanamkan sejak dini, agar generasi muda tumbuh dengan kebanggaan akan akar budayanya.
Puncak acara di malam hari menyajikan final pertandingan silat persembahan kategori putra dan putri. Esoknya, gemuruh gasing akan kembali terdengar dalam laga penentuan. Sebagai bentuk apresiasi, PT ITA menyerahkan cenderamata berupa miniatur gasing kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
“Miniatur ini dibuat oleh warga lokal. Kami pesan sepuluh untuk dijadikan oleh-oleh bagi tamu yang berkunjung ke ITA. Harapannya, ini bisa menjadi peluang ekonomi dan bagian dari promosi budaya,” kata perwakilan PT ITA.
Di bawah cahaya lampu lapangan, silat masih berlanjut, gasing masih berpacu, dan tawa anak-anak masih terdengar. Malam itu, Teluk Belitung tak hanya merayakan kemerdekaan, tapi juga meneguhkan janji: budaya Melayu akan terus hidup, berpacu seperti gasing, dan tegak setegar langkah para pesilatnya.
Festival silat pengantin dan gasing di Kecamatan Merbau itu menjadi bukti bahwa budaya Melayu masih hidup—bukan sekadar cerita di buku pelajaran. Dukungan penuh dari PT Imbang Tata Alam (ITA), melalui kerja sama OPP dan Komgas Teluk Belitung, membuat ajang perdana ini terasa istimewa.
“Seperti pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Harapannya, PT ITA bukan hanya dikenal, tetapi juga diterima dengan baik oleh masyarakat, Melalui ajang ini, kita kembangkan keunikan daerah sekaligus menggerakkan ekonomi berbasis lingkungan. Semoga generasi muda dapat mewarisi budaya Melayu," ujar Field Senior CSR PT ITA, Arip Hidayatuloh, di sela kegiatan.
Ketua LAMR Kecamatan Merbau, Syafruddin S.Hum, tampak sumringah melihat anak-anak memutar gasing dan memperagakan silat dengan penuh percaya diri.
“Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak. Budaya Melayu harus ditanamkan sejak dini agar tetap terjaga dan menjadi sumber semangat olahraga serta kepemudaan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kepulauan Meranti, Abdullah M.Pd, menegaskan pentingnya pelestarian tradisi di wilayah perbatasan.
“Silat dan gasing sudah berusia ratusan tahun di Meranti. Kolaborasi ini luar biasa dan harus berkelanjutan. Dua warisan ini bisa menjadi ikon budaya Kecamatan Merbau,” ucapnya.
Camat Merbau, Hj. Wan Jumiati SE MSi, pun berharap festival ini menjadi pemantik bagi generasi muda.
“Lewat ajang ini, kami ingin anak-anak semakin termotivasi untuk menjaga budaya Melayu,” tuturnya.
Tak hanya pejabat, tokoh masyarakat, dan perangkat desa yang hadir, puluhan peserta dari tingkat SD dan SMP ikut memeriahkan. Ada 19 pesilat putra, 7 pesilat putri, serta 12 peserta gasing putra yang saling unjuk kemampuan.
Di akhir lomba, tak ada yang benar-benar kalah. Karena lebih dari sekadar kompetisi, hari itu adalah perayaan identitas—tentang tanah yang dipijak, langit yang dijunjung, dan warisan Melayu yang terus berputar seperti gasing yang tak mau berhenti. (R-04)

