PGLII Jakarta Gelar Gathering 2025: Pererat Persaudaraan dan Teguhkan Integritas Pelayanan
Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) Pengurus Wilayah DKI Jakarta menggelar Gathering 2025 yang diikuti para gembala, koster, dan guru Sekolah Minggu pada Rabu–Jumat, 6–8 Agustus 2025. Foto: Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Bogor – Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) Pengurus Wilayah DKI Jakarta menggelar Gathering 2025 yang diikuti para gembala, koster, dan guru Sekolah Minggu pada Rabu–Jumat, 6–8 Agustus 2025. Acara bertema “Integrity for Him” ini diselenggarakan di Taman Bukit Palem Resort, Pancawati, Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Kegiatan bertujuan mempererat persaudaraan seluruh anggota PGLII DKI Jakarta, yang saat ini dipimpin Ketua Pdt. Dr. R. B. Royke Bovie Rory, M.Th., dan Sekretaris Wilayah Pdt. Dr. Marthen Neolaka, M.Th. Ketua Pelaksana Gathering 2025 adalah Pdt. Dr. Marthen Neolaka, M.Th., dengan Sekretaris Panitia Pdt. Dr. Herry Aleng, M.Th.
Acara dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Menteri Agama, Prof. Muhammad Ali Ramdani, STP, MT, mewakili Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, yang berhalangan hadir karena tugas kenegaraan. Dalam sambutannya, Ketua PGLII DKI Jakarta menegaskan bahwa tema “Integrity for Him” diangkat untuk memperkuat kebersamaan dan pelayanan yang berlandaskan iman Kristen.
Pembukaan pada Rabu (6/8) diawali dengan tabuhan kentongan simbolis dan ibadah yang dipimpin Ketua Umum PGLII, Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th. Keesokan harinya, Kamis (7/8), peserta mengikuti sejumlah sesi penting, antara lain sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan, penyuluhan hukum dan HAM, serta penyuluhan penanganan stunting oleh BKKBN.
Pada hari yang sama, digelar dialog moderasi beragama dengan pembicara tokoh lintas agama, Habib Jindan bin Novel bin Salim. Dalam paparannya, Habib Jindan menekankan bahwa Nabi Isa memiliki kedudukan istimewa dalam Islam dan bahwa iman seorang Muslim tidak lengkap tanpa mengimani Nabi Isa. Ia mengajak seluruh peserta untuk menjunjung kemanusiaan dan kebaikan tanpa pamrih serta menegaskan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk perpecahan.
Habib Jindan juga membagikan dua kisah sejarah sebagai contoh moderasi beragama. Pertama, ketika rombongan pendeta Kristen berkunjung ke Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW. Mereka disambut dengan penuh kehormatan dan bahkan disediakan tempat di bagian belakang masjid untuk melaksanakan ibadah mereka. Kedua, peristiwa saat Khalifah Umar bin Khattab menerima kunci Baitul Maqdis. Saat ditawari beribadah di dalam Gereja Makam Kudus, Umar menolak bukan karena alasan ibadah, melainkan demi menjaga agar tempat suci tersebut tetap menjadi milik umat Kristiani dan tidak diklaim di kemudian hari.
Kisah-kisah tersebut, menurut Habib Jindan, menunjukkan teladan toleransi dan penghormatan lintas iman yang patut dicontoh di era modern.
Menanggapi paparan tersebut, Pdt. Dr. R. B. Royke Bovie Rory menyampaikan apresiasi dan menegaskan pentingnya memelihara kebersamaan di tengah perbedaan. Sementara itu, Ketua Umum PGLII, Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th., mengingatkan bahwa fokus utama dalam kehidupan berbangsa dan beragama adalah mencari persamaan, bukan memperuncing perbedaan. “Kita harus bisa hidup di tengah keberagaman ini, menyadari bahwa meskipun keyakinan berbeda, kita tetap dapat menemukan titik temu,” ujarnya.
Gathering 2025 ditutup pada Jumat (8/8) dengan pemutakhiran data penerima Bantuan Operasional Tempat Ibadah (BOTI) Tahun 2026, diikuti ibadah penutup yang dipimpin Ps. Jimmy Boaz Oentoro. Acara berlangsung dalam suasana akrab dan hangat, serta dihadiri pengurus PGLII dari berbagai daerah, termasuk PD Jakarta Selatan, PD Jakarta Utara, PD Jakarta Timur, dan PD Jakarta Barat. (R-03)

