Permainan Tradisional Rimau Jadi Daya Tarik di Pekan Budaya Melayu Serumpun
Rimau, sebuah permainan adu strategi khas perkampungan Melayu pesisir yang kini mulai langka. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Meski terik matahari, muka-muka sumringah pengunjung mewarnai sudut halaman pameran Pekan Budaya Melayu Serumpun di Jalan Sultan Syarif Kasim Pekanbaru. Pengunjung dari berbagai usia terlihat antusias menjajal permainan tradisional yang dipamerkan.
Beragam permainan rakyat seperti enggrang, bakiak, congklak, yeye, layang-layang, gasing, hingga rimau disuguhkan secara terbuka. Semuanya disediakan untuk menghidupkan kembali kenangan masa kecil tempo dulu, sekaligus memperkenalkan warisan budaya kepada Gen-Z yang mulai asing dengan mainan-mainan tradisional.
Penuh nostalgia, permainan yang paling menyedot perhatian pengunjung adalah rimau, sebuah permainan adu strategi khas perkampungan Melayu pesisir yang kini mulai langka. Tak hanya menarik perhatian, permainan ini bahkan dicoba langsung oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Riau Boby Rachmat, serta Sekretaris Dinas Kebudayaan Riau, Ninno Wastikasari. Keduanya tampak larut dalam keseruan bermain rimau.
Diketahui, permainan rimau ini dulunya dimainkan oleh para remaja hingga dewasa, terutama di daerah nelayan di wilayah pesisir Melayu. Biasanya dimainkan sore hari menjelang turun ke laut atau malam hari saat angin kencang. Bahkan di bulan Ramadhan, permainan ini kerap jadi pelengkap waktu menunggu berbuka puasa.
Achmad Al Azhari, perwakilan Dinas Kebudayaan Riau, mengatakan rimau dimainkan oleh dua orang. Satu orang memerankan rimau, sementara satu lagi memerankan kumpulan kambing. Permainan ini menggunakan papan kayu yang diberi pola geometris dan 24 biji pelambang kambing dari kulit kerang kecil (remis), serta satu biji pelambang rimau dari kulit kerang siput yang lebih besar.
"Permainannya mirip strategi bertahan dan menyerang. Rimau bebas bergerak ke berbagai arah, sementara kambing harus diletakkan satu persatu dan hanya bisa bergerak satu langkah" ujarnya saat menjelaskan kepada tim Media Center Riau, Kamis (07/08/2025).
Ia menjelaskan, jika rimau tidak bisa bergerak atau tak dapat memakan kambing lagi, maka pemainan rimau dianggap kalah. Namun, jika kambing termakan habis atau gagal mengepung rimau, maka kemenangan berpihak kepada si rimau.
"Ini permainan yang mengajarkan banyak nilai, seperti kesabaran, strategi, dan kejujuran,” jelasnya.
Diungkapkan, meski terlihat sederhana permainan ini sesungguhnya sarat nilai. Rimau dianggap sebagai simbol kekuatan, sedangkan kambing melambangkan kebersamaan. Dalam permainan ini, banyak pelajaran yang bisa dipetik.
"Permainan ini sangat populer pada tahun 1890an. Meski tak ada catatan pasti kapan mulai dimainkan, diperkirakan telah diwariskan secara turun-temurun dalam budaya Melayu. Rimau adalah contoh konkret bagaimana budaya bisa dijaga lewat permainan," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Riau, Roni Rahmat, yang juga Ketua Panitia Penyelenggara Pekan Budaya Melayu Serumpun, menegaskan bahwa tujuan utama ditampilkannya permainan tradisional adalah untuk edukasi budaya. Terlebih, kepada anak-anak dan remaja.
“Kita ingin mengajak anak-anak hari ini untuk melihat bahwa sebelum era gadget dan teknologi, anak-anak kita punya cara bermain yang penuh nilai sosial dan kebersamaan,” tuturnya.
Menurutnya, gawai dan gim digital memang tak bisa dielakkan. Namun, nilai-nilai budaya yang terkandung dalam permainan tradisional tak bisa digantikan.
“Anak-anak zaman sekarang terlalu cepat dewasa lewat dunia digital. Lewat permainan rakyat seperti ini, mereka bisa belajar banyak hal tanpa sadar sedang belajar,” tambahnya.
Sehingga, ia berharap melalui Pekan Budaya ini, masyarakat terutama generasi muda bisa kembali mengenali dan mencintai permainan tradisional. Ia mengajak sekolah-sekolah dan komunitas untuk mulai mengaktifkan permainan ini dalam kegiatan sehari-hari atau event kebudayaan lokal.
"Kita ingin permainan ini tidak hanya menjadi tontonan di acara festival, tapi juga kembali hidup di halaman-halaman rumah. Sehingga, permainan ini tidak punah dan terus lestari dari generasi ke generasi selanjutnya," pungkasnya. (R-05)

