Helikopter Water Bombing Padamkan Karhutla di Tanjung Peranap, Api Masih Membara Meski 35 Kali Pengeboman Udara
Foto tampak dari atas helikopter, saat dilakukan water bombing di lahan terbakar di Dusun Kampung Balak, Tanjung Peranap, Kepulauan Meranti. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Memasuki hari ke-12 sejak kebakaran pertama kali muncul, perjuangan memadamkan api di lahan gambut Desa Tanjung Peranap belum juga usai. Tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, relawan desa, dan pihak perusahaan terus berjibaku melawan ganasnya si jago merah.
Namun perjuangan itu kini dihadapkan pada tantangan baru. Api yang sempat mereda, kini kembali membesar. Tiupan angin kencang dengan kecepatan 8 kilometer per jam meniup bara di bawah permukaan gambut, membuat lidah api menjalar cepat, membakar semak belukar dan kebun-kebun warga.
Luas lahan terbakar pun melonjak drastis. Dari semula hanya sekitar 50 hektare, kini meluas hingga lebih dari 120 hektare. Tak hanya hutan, kebun milik warga pun hangus dilalap api.
Inilah potret rumitnya kebakaran lahan gambut. Api di permukaan bisa saja padam, tapi bara di dalam tanah tetap menyala, menunggu celah untuk kembali menyembur keluar.
Meski begitu, langkah para petugas tak surut. Di bawah terik matahari dan bau asap yang menyengat, mereka terus berjalan menyusuri semak belukar, membawa peralatan pemadaman di pundak. Tak jarang, mereka harus berjalan kaki sejauh beberapa kilometer menuju titik api yang berada jauh di dalam kawasan gambut.
Salah satu titik terang dalam upaya ini adalah keberhasilan pembuatan 21 embung air di sekitar lokasi. Dengan bantuan alat berat yang didatangkan oleh perusahaan, embung-embung ini menjadi sumber air baru yang sangat vital bagi pemadaman. Di tengah ladang yang menghitam, keberadaan embung ibarat oase—memberi harapan dan energi baru bagi para petugas yang hampir kehabisan pasokan air.
Namun kondisi alam tak bersahabat. Suhu udara tinggi, vegetasi kering, dan angin kencang terus menjadi musuh yang harus ditaklukkan. Kabut asap yang tebal menurunkan jarak pandang dan meningkatkan risiko keselamatan.
Mereka tahu, ini bukan sekadar memadamkan api—tetapi menyelamatkan rumah, kebun, dan masa depan warga. Di balik kobaran api dan asap yang mengepul, ada tekad yang tak bisa dipadamkan: asa untuk pulih, dan semangat untuk tetap bertahan.
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Dusun Kampung Balak, Desa Tanjung Peranap, terus dilakukan secara intensif. Menghadapi medan yang sulit dijangkau dan sebaran api yang luas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Meranti akhirnya meminta bantuan udara dari BPBD Provinsi Riau.
Langit di atas Tanjung Peranap tampak kelabu. Asap mengepul dari balik semak gambut yang terbakar, membuat udara pekat dan jarak pandang terbatas. Di tengah situasi genting ini, satu per satu helikopter water bombing datang memecah langit.
Itulah respons cepat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau atas permintaan bantuan yang dikirimkan oleh BPBD Kabupaten Kepulauan Meranti.
Pada Rabu (30/7/2025), dua helikopter dikerahkan untuk melakukan pemadaman menggunakan metode Water Bombing (WB) dengan mengambil air dari laut sekitar.
Helikopter pertama, dengan nomor registrasi RA-22834, melakukan satu kali sortie (misi penerbangan) dan berhasil menjatuhkan air sebanyak 16 kali (16 X drops) ke titik api. Namun, hingga helikopter itu meninggalkan lokasi, fire spot masih berasap tebal, tanda bahwa bara api masih membara di dalam lapisan lahan gambut.
Penerbangan terpaksa dihentikan karena matahari terbenam (sunset) yang membuat visibilitas menurun dan membahayakan keselamatan penerbangan. Helikopter itu pun segera kembali dan diperkirakan tiba di Lanud Sultan Syarif Kasim II (RSN), Pekanbaru pada pukul 18:15 WIB.
Tidak lama berselang, helikopter kedua dengan nomor registrasi RA-31021 juga melakukan sortie pertama. Dengan semangat yang sama, pesawat ini berhasil melakukan 19 kali pengeboman air (19 X drops) ke lahan yang terbakar. Namun, karena telah mencapai batas maksimal durasi terbang (max endurance), helikopter tersebut harus kembali ke pangkalan.
Sama seperti sebelumnya, titik api masih menunjukkan asap tebal ketika pesawat meninggalkan lokasi, menandakan bahwa proses pemadaman belum sepenuhnya berhasil. Helikopter RA-31021 kembali ke Lanud RSN Pekanbaru dan diperkirakan tiba pada pukul 16:50 WIB.
Total, sebanyak 35 kali pengeboman air telah dilakukan dalam operasi pemadaman hari itu. Namun, kondisi lahan gambut yang dalam, cuaca panas, dan angin kencang membuat kebakaran belum bisa ditaklukkan sepenuhnya.
BPBD Kepulauan Meranti bersama tim gabungan dari TNI, Polri, dan masyarakat peduli api (MPA) masih terus berjibaku di darat, sembari menunggu kelanjutan operasi udara di hari berikutnya.
Kepala BPBD Riau, M. Edy Afrizal, mengatakan bahwa operasi udara ini dilakukan setelah menerima laporan dan permintaan resmi dari Meranti. “Hari ini kita lakukan dua sortie dengan dua helikopter, menggunakan air laut untuk water bombing,” jelasnya saat dikonfirmasi.
Operasi udara bukanlah tindakan sembarangan. Edy menyebut bahwa setiap permintaan dari daerah terlebih dahulu dipelajari dan dipastikan urgensinya. Salah satunya dengan melihat dokumentasi terbaru dari lokasi kebakaran.
“Permintaan akan kita akomodasi selama helikopter tidak mengalami kerusakan. Tapi sebelum helikopter turun, kita minta dikirim dokumentasi terbaru untuk mempelajari apakah memang diperlukan atau tidak. Kalau dianggap perlu, baru kita ajukan ke BNPB,” tambahnya.
Di musim kemarau seperti saat ini, potensi kebakaran hutan dan lahan semakin tinggi. Oleh karena itu, Edy menegaskan pentingnya peran pemerintah kabupaten dalam pencegahan.
Ia mengingatkan agar setiap kepala daerah menindaklanjuti arahan Gubernur Riau untuk membentuk patroli dan melakukan sosialisasi hingga ke tingkat RT. “Kita minta agar jangan ada lagi pembukaan lahan dengan cara membakar,” tegasnya.
Di tengah asap dan bara yang masih menyala di bawah gambut, kerja sama lintas wilayah menjadi kunci. Hari ini, langit Meranti tak hanya diselimuti kabut asap—tetapi juga disusupi harapan, dibawa oleh helikopter yang menjatuhkan air dari ketinggian demi menekan kobaran api yang tak kenal ampun. (R-01)

