Delapan Hari Melawan Api: Perjuangan Tanpa Lelah Tim Gabungan Padamkan Karhutla Seluas 110 Hektare di Tanjung Peranap
Di tengah teriknya matahari dan kepulan asap yang tak kunjung reda, suara mesin pompa air dan derap langkah para petugas terdengar tanpa henti di kawasan Tanjung Peranap, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di tengah teriknya matahari dan kepulan asap yang tak kunjung reda, suara mesin pompa air dan derap langkah para petugas terdengar tanpa henti di kawasan Tanjung Peranap, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti. Sudah delapan hari tim gabungan berjibaku melawan ganasnya api yang melahap hutan dan lahan. Dan kini, perjuangan itu belum juga usai.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Meranti mengerahkan kekuatan penuh, menambah personel untuk memperkuat barisan garda terdepan. Dari 50 hektare di awal kejadian, kini luas lahan yang terdampak mencapai lebih dari 110 hektare—termasuk perkebunan warga.
"Kemarin kita tambah tim untuk bantu petugas di lapangan. Ada 10 orang dari BPBD dan 2 personel tambahan dari Basarnas," ungkap Sekretaris BPBD Meranti, Eko Setiawan, Kamis (24/7/2025).
Medan yang berat dan minimnya sumber air menjadi tantangan besar. Namun semangat tak surut. Dibantu perusahaan sekitar, 18 embung air berhasil dibuat menggunakan alat berat yang diturunkan beberapa hari sebelumnya. Embung-embung ini menjadi titik balik dalam proses pendinginan, memberi nafas bagi para petugas yang nyaris kehabisan sumber air di tengah ladang yang menghitam.
"Sebelumnya, tim kesulitan mencari titik air. Tapi sekarang dengan embung-embung ini, upaya pemadaman bisa lebih maksimal," kata Eko.
Api kini berada dalam tahapan pendinginan. Namun pekerjaan belum selesai, hal itu dikarenakan lahan gambut yang masih tebal yang memungkinkan bara api masih menyala di dalamnya. Di lokasi, personel gabungan dari BPBD, TNI, Polri, relawan, MPA (Masyarakat Peduli Api), dan warga sekitar masih terus menyisir titik-titik api yang tersisa.
Kapolres Kepulauan Meranti AKBP Aldi Alfa Faruqi turut mengawal langsung penanganan karhutla ini. Ia mengimbau keras masyarakat untuk tidak sembarangan membuka lahan dengan cara membakar.
"Apapun alasannya, pembakaran lahan bukanlah solusi. Risiko dan dampaknya terlalu besar. Kita tidak ingin kebakaran seperti ini terus terjadi hanya karena kelalaian atau keputusan sesaat," tegasnya.
Tanjung Peranap saat ini tak hanya menjadi medan pertempuran melawan api, tapi juga simbol solidaritas—di mana petugas dan warga berdiri bersama, melindungi hutan, kebun, dan kehidupan dari ancaman yang membara. (R-01)

