Tujuh Hari Bertungkus Lumus di Karhutla Tanjung Peranap, Belasan Embung Dibangun Untuk Sumber Air
Upaya penanganan karhutla terus dilakukan, salah satunya dengan membangun embung sebagai pasokan air. Foto : SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Kabut tipis masih menyelimuti Jalan Poros Desa Tanjung Peranap, Kecamatan Tebingtinggi Barat, saat tim pemadam Karhutla kembali menyusuri lahan yang hangus terbakar. Sudah tujuh hari mereka berjibaku di medan yang sulit—melewati semak belukar, gambut yang mudah amblas, serta udara panas yang sesak oleh sisa asap.
Penanganan Karhutla di Jalan Poros Desa Tanjung Peranap, Kecamatan Tebingtinggi Barat itu terus dilakukan secara intensif. Dengan segala kendala yang terjadi di lapangan, akhirnya tim satuan tugas karhutla setempat berhasil menjalani proses pendinginan setelah beberapa hari berjibaku, dampak sulitnya medan dan minimnya sumber air.
Malam dan siang tak lagi dibedakan. Mereka tetap bertahan. Berlumur lumpur, basah oleh peluh dan air yang mereka semprotkan tanpa henti. Ini bukan sekadar pemadaman api. Ini soal menyelamatkan tanah, udara, dan kehidupan masyarakat.
Pada Kamis (23/7/2025), operasi memasuki hari ketujuh tahap pendinginan. Sebelumnya, kobaran api sempat melahap lahan di 11 titik, dengan luas terbakar ditaksir mencapai 20 hingga 50 hektare. Titik-titik panas (hotspot) itu berkategori sedang, namun cukup untuk mengancam seluruh kawasan.
Upaya penanganan karhutla terus dilakukan, salah satunya dengan membangun embung sebagai pasokan air. Pembangunan embung (kolam kecil atau cekungan penampung air) dapat menjadi langkah efektif dalam upaya pencegahan dan penanggulangan Karhutla.
Embung berfungsi sebagai sumber air cadangan yang dapat digunakan untuk memadamkan api saat terjadi kebakaran, serta membantu menjaga kelembaban lahan untuk mencegah kebakaran.
“Alhamdulillah, saat ini proses pendinginan terus berjalan. Dukungan semua pihak sangat berarti, terutama dalam pembuatan embung karena di hari pertama dan kedua kami kesulitan air untuk pemadaman,” ujar Kapolres Kepulauan Meranti AKBP Aldi Alfa Faroqi.
Embung menjadi kunci. Cekungan air darurat yang dulunya tak dianggap penting, kini menjadi penyambung harapan. Sebanyak 18 embung dengan ukuran 5x4 meter dan kedalaman 3,5 meter telah berhasil dibuat dan terisi penuh air. Dibantu alat berat dari PT ITA, proses pembangunan berlangsung cepat dan efisien.
“Tanpa embung, kami mungkin masih memadamkan api sampai hari ini,” tutur Iptu Iskandar Nopianto, Kapolsek Tebingtinggi Barat yang siang itu mendampingi langsung di lapangan bersama Bhabinkamtibmas Brigadir Rizqi dan masyarakat Tanjung Peranap.
Kolaborasi jadi kunci lain dari keberhasilan ini. TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga relawan lokal bahu-membahu dalam operasi ini. Mereka menyatu, tak peduli pangkat atau jabatan, hanya satu tujuan: api harus padam.
Langit pun seolah berpihak. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang digelar selama operasi membawa hujan dalam dua hari terakhir. Hujan deras membantu mempercepat pemadaman, menyirami bara yang masih menyala di bawah tanah gambut.
"Syukur hujan turun di tengah operasi. Tapi ke depan kita tidak bisa hanya berharap pada cuaca. Edukasi dan kesadaran masyarakat harus diperkuat," tambah Kapolres.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan membuka lahan dengan cara membakar. “Kita tak ingin hal yang merugikan banyak orang terjadi hanya karena keputusan sesaat. Jangan bakar lahan, apapun alasannya,” tegasnya.
Asap memang telah menipis. Tapi pesan dari peristiwa ini tak boleh ikut menguap. Butuh lebih dari sekadar pasukan dan air untuk mencegah karhutla. Dibutuhkan kesadaran kolektif, perlindungan jangka panjang, dan penghargaan terhadap tanah yang memberi hidup.
Tanjung Peranap mungkin telah kembali tenang. Namun bara kesadaran harus tetap menyala. (R-04)

