Disperindag UKM Kepulauan Meranti Menyisir Gudang dan Swalayan, Ada Lima Merek Beras Terindikasi Oplosan di Selatpanjang
Kepala Disperindag UKM, Marwan, memimpin langsung penyisiran ke sejumlah gudang dan toko ritel di Kota Selatpanjang, ibukota kabupaten yang mulai ikut waspada. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di balik tumpukan karung-karung beras yang tampak biasa, tersembunyi kekhawatiran yang tak kasat mata. Bukan soal harga yang naik turun, tapi tentang keaslian butir demi butir beras yang menjadi makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Sebuah rilis dari Kementerian Pertanian (Kementan) tentang beras oplosan sontak mengguncang ketenangan banyak pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti.
Tak menunggu lama, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindag UKM) Kepulauan Meranti bergerak cepat. Kepala Disperindag UKM, Marwan, memimpin langsung penyisiran ke sejumlah gudang dan toko ritel di Kota Selatpanjang, ibukota kabupaten yang mulai ikut waspada.
Tim Satgas Pangan Kabupaten yang terdiri dari unsur Disperindag UKM dan aparat kepolisian turut dilibatkan dalam operasi itu. Suasana yang biasanya riuh oleh canda seketika berubah hening saat para petugas memeriksa satu per satu kemasan beras untuk memastikan tidak ada yang terlibat dalam praktik nakal itu.
“Kami tidak ingin kecolongan. Begitu mendapatkan daftar merek beras yang dicurigai telah dioplos dari pihak kementerian, kami langsung ambil tindakan,” tegas Marwan, sembari memeriksa label kemasan beras di salah satu toko grosir.
Langkah yang diambil bukan sekadar seremonial. Para petugas benar-benar meneliti kondisi fisik beras, mengecek perizinan edar, serta mencocokkan nama-nama yang telah dirilis oleh Kementan. Kegiatan ini bukan hanya bentuk pengawasan semata, tetapi juga upaya memulihkan kepercayaan publik di tengah isu yang sudah lebih dulu menyebar melalui media sosial dan grup percakapan warga.
Di salah satu gudang penyimpanan, seorang pemilik tampak pasrah saat kemasan beras dagangannya dibuka satu per satu. Ia meyakinkan bahwa seluruh stok yang dijual berasal dari distributor resmi. Namun, Marwan dan tim tak ingin berspekulasi. Semua harus diperiksa, karena kepercayaan masyarakat adalah taruhan besar.
“Langkah ini kami ambil sebagai bentuk antisipasi dan pencegahan agar tidak menimbulkan keresahan. Masyarakat perlu tahu bahwa pemerintah hadir dan bertindak cepat,” tambah Marwan.
Aksi cepat ini juga menjadi sinyal kuat bahwa Meranti tidak memberi ruang bagi permainan pangan, apalagi menyangkut kebutuhan dasar seperti beras. Pemeriksaan akan terus dilakukan secara berkala hingga situasi dianggap benar-benar aman.
Dalam sidak yang dipimpin oleh Kepala Dinas Disperindag UKM Marwan, tim menemukan sesuatu yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Lima merek beras terindikasi sebagai beras oplosan. Kelimanya tercantum dalam daftar resmi dari Kementan.
"Dari hasil pengecekan beberapa gudang beras ditemukan beberapa beras yang diduga oplosan. Dari 25 macam beras yang kami telusuri, hanya ada lima yang beredar di pasar Selatpanjang diantaranya Sania, Fortune, beras premium Senta Ramos, Topi Koki, dan Ramos Premium Sentra Ramos. Untuk itu kami harapkan masyarakat untuk pandai-pandai memilih," ungkap Marwan dengan nada tegas.
Temuan ini langsung ditindaklanjuti. Pihaknya memberikan imbauan tegas kepada toko-toko ritel agar untuk sementara waktu tidak memperjualbelikan merek-merek tersebut. Bukan untuk menghukum, tapi demi mencegah kepanikan dan keresahan yang bisa meluas di tengah masyarakat.
Namun, langkah ini tetap dalam koridor kehati-hatian. Tidak ada penarikan paksa atau penyitaan. Semua menunggu hasil uji laboratorium yang kini tengah diproses oleh pemerintah pusat. "Kami masih menunggu hasil pemeriksaan. Belum bisa ambil tindakan lebih lanjut sebelum ada kepastian dari pusat,” terang Marwan.
Di satu sisi, masyarakat mulai bertanya-tanya apakah beras yang selama ini mereka konsumsi masih layak dan aman? Di sisi lain, toko-toko ritel mulai berhitung ulang antara menjaga kepercayaan konsumen dan tetap mengikuti regulasi yang belum final.
Meski belum ada kepastian hukum terhadap kelima merek tersebut, imbauan dari pemerintah setempat menjadi peringatan dini. Marwan pun berharap agar masyarakat mulai lebih cermat dalam memilih beras, tak hanya melihat merek atau kemasan, tetapi juga memperhatikan label resmi dan asal produk.
“Pandai-pandailah memilih,” pesannya. Sebuah kalimat sederhana, tapi punya makna mendalam di tengah situasi yang masih abu-abu.
Hari itu, di balik tumpukan karung beras dan catatan merek yang ditandai, Satgas Pangan tidak hanya menemukan indikasi, tetapi juga menegakkan kepastian bahwa negara hadir meski di tengah kekhawatiran yang belum sepenuhnya jelas.
Di tengah gempuran isu dan kekhawatiran, aksi nyata dan sigap seperti ini adalah butir kepercayaan yang mampu menguatkan kembali rasa aman. Karena sejatinya, di setiap butir nasi yang kita santap, tersimpan harapan dan kejujuran dari hulu hingga ke meja makan. (R-01)

