SabangMeraukeNEWS.com

  • Daerah
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Umum
  • Riau
  • Sport
  • Opini
  • Internasional
  • Advertorial
  • Indeks

  • Redaksi
  • Tentang
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • SOP Perlindungan Wartawan

    https://sabangmeraukenews.com

Copyright ©
sabangmeraukeNEWS.com
All rights reserved

https://sabangmeraukenews.com

  • Daerah
    • Saksi Mata: Teriakan Wanita Hanya Sebentar, Bayi Berlumuran Darah di Atas Rumah

      Saksi Mata: Teriakan Wanita Hanya Sebentar, Bayi Berlumuran Darah di Atas Rumah

      21/07/2026  ❘  17:48 WIB
    • Petani Sawit di Riau Selamat Dari Terkaman Harimau Sumatera

      Petani Sawit di Riau Selamat Dari Terkaman Harimau Sumatera

      21/07/2026  ❘  14:28 WIB
    • Cincin Tersangkut di Alat Kelamin, Pria di Dumai Minta Bantuan Petugas Damkar

      Cincin Tersangkut di Alat Kelamin, Pria di Dumai Minta Bantuan Petugas Damkar

      21/07/2026  ❘  14:12 WIB
    • Kru MT Pancaran Agility Meninggal di Selat Rupat, Basarnas Bergerak Cepat Evakuasi Jenazah

      Kru MT Pancaran Agility Meninggal di Selat Rupat, Basarnas Bergerak Cepat Evakuasi Jenazah

      21/07/2026  ❘  10:31 WIB
  • Nasional
    • Di Balik Kipas Angin Rp1,8 Triliun, KPK Ungkap Modus Lama yang Terus Berulang

      Di Balik Kipas Angin Rp1,8 Triliun, KPK Ungkap Modus Lama yang Terus Berulang

      21/07/2026  ❘  18:11 WIB
    • Evaluasi MBG Berlanjut, BGN Pastikan Tata Kelola dan Anggaran Lebih Efisien

      Evaluasi MBG Berlanjut, BGN Pastikan Tata Kelola dan Anggaran Lebih Efisien

      21/07/2026  ❘  15:22 WIB
    • DPR Lanjutkan Pembahasan RUU Perampasan Aset dan Sejumlah RUU Strategis Selama Reses

      DPR Lanjutkan Pembahasan RUU Perampasan Aset dan Sejumlah RUU Strategis Selama Reses

      21/07/2026  ❘  15:20 WIB
    • Walau Sudah Minta Maaf, PWI  Tetap Polisikan Hotman Paris

      Walau Sudah Minta Maaf, PWI Tetap Polisikan Hotman Paris

      21/07/2026  ❘  06:46 WIB
  • Ekonomi
    • BI Rate Dikabarkan Naik Lagi, Rupiah Langsung Jadi Mata Uang Terkuat Asia

      BI Rate Dikabarkan Naik Lagi, Rupiah Langsung Jadi Mata Uang Terkuat Asia

      21/07/2026  ❘  18:28 WIB
    • Update Harga Emas Perhiasan Hari Ini 21 Juli 2026, Cek Semua Kadar dari 24K hingga 5K

      Update Harga Emas Perhiasan Hari Ini 21 Juli 2026, Cek Semua Kadar dari 24K hingga 5K

      21/07/2026  ❘  12:49 WIB
    • Turun Rp9.000 Sekejap, Harga Emas Antam Makin Dekati Rp2,5 juta per Gram

      Turun Rp9.000 Sekejap, Harga Emas Antam Makin Dekati Rp2,5 juta per Gram

      21/07/2026  ❘  10:10 WIB
    • Sembilan Hari Tanpa Jeda, IHSG Terus Terbang ke Angkasa

      Sembilan Hari Tanpa Jeda, IHSG Terus Terbang ke Angkasa

      21/07/2026  ❘  09:31 WIB
  • Politik
    • Bupati Siak Afni Curhat Soal Pemangkasan DBH, Wapres Gibran: Sayakan Mantan Wali Kota Juga!

      Bupati Siak Afni Curhat Soal Pemangkasan DBH, Wapres Gibran: Sayakan Mantan Wali Kota Juga!

      17/07/2026  ❘  20:17 WIB
    • Memalukan! Pimpinan Pusat Golkar Murka Lihat Kericuhan 2 Kadernya di DPRD Riau

      Memalukan! Pimpinan Pusat Golkar Murka Lihat Kericuhan 2 Kadernya di DPRD Riau

      17/07/2026  ❘  14:01 WIB
    • KPK Tetapkan Bupati Sukoharjo Tersangka, PDIP Tegaskan OTT Langsung Dipecat

      KPK Tetapkan Bupati Sukoharjo Tersangka, PDIP Tegaskan OTT Langsung Dipecat

      12/07/2026  ❘  13:39 WIB
    • PDIP Sebut Diri Partai Penyeimbang, PSI Minta Penjelasan Terbuka untuk Publik

      PDIP Sebut Diri Partai Penyeimbang, PSI Minta Penjelasan Terbuka untuk Publik

      10/07/2026  ❘  09:35 WIB
  • Hukrim
    • Karyawan Pabrik Sawit PTPN IV di Rokan Hilir Tewas Kecelakaan Kerja, Manajemen Buka Suara

      Karyawan Pabrik Sawit PTPN IV di Rokan Hilir Tewas Kecelakaan Kerja, Manajemen Buka Suara

      21/07/2026  ❘  13:59 WIB
    • Kepala Karyawan Hancur Akibat Kecelakaan Kerja Kemarin, Pihak PTPN IV Regional 3 Riau Baru Melapor Lisan Pagi Tadi, Disnaker Turunkan Tim

      Kepala Karyawan Hancur Akibat Kecelakaan Kerja Kemarin, Pihak PTPN IV Regional 3 Riau Baru Melapor Lisan Pagi Tadi, Disnaker Turunkan Tim

      21/07/2026  ❘  10:02 WIB
    • Bupati Kena OTT KPK Lagi, Terkait Kasus Suap Proyek Pemkab

      Bupati Kena OTT KPK Lagi, Terkait Kasus Suap Proyek Pemkab

      21/07/2026  ❘  08:59 WIB
    • Warga Temukan Bocah Kebingungan di Kampung Bandar, Polisi Sebar Pencarian Keluarga

      Warga Temukan Bocah Kebingungan di Kampung Bandar, Polisi Sebar Pencarian Keluarga

      21/07/2026  ❘  06:59 WIB
  • Umum
    • 2 Orang Tewas Dimangsa Harimau Sumatera, Hasil Audit Ini Ungkap Masalah di PT Madukoro Lestari

      2 Orang Tewas Dimangsa Harimau Sumatera, Hasil Audit Ini Ungkap Masalah di PT Madukoro Lestari

      21/07/2026  ❘  16:16 WIB
    • Mulut Terasa Pahit Saat Bangun Tidur? Bisa Jadi Tanda Asam Lambung hingga Kurang Minum

      Mulut Terasa Pahit Saat Bangun Tidur? Bisa Jadi Tanda Asam Lambung hingga Kurang Minum

      19/07/2026  ❘  12:29 WIB
    • Jangan Buang Sisa Nasi! Begini Cara Mengubahnya Jadi Kompos yang Bikin Tanaman Subur

      Jangan Buang Sisa Nasi! Begini Cara Mengubahnya Jadi Kompos yang Bikin Tanaman Subur

      19/07/2026  ❘  08:22 WIB
    • AI Mengubah Dunia Kerja, Anak Muda Wajib Kuasai Keterampilan Ini Sebelum Terlambat

      AI Mengubah Dunia Kerja, Anak Muda Wajib Kuasai Keterampilan Ini Sebelum Terlambat

      18/07/2026  ❘  13:30 WIB
  • Riau
    • Penanganan Banjir Sudirman Dibagi, Pemprov Bangun Box Culvert

      Penanganan Banjir Sudirman Dibagi, Pemprov Bangun Box Culvert

      21/07/2026  ❘  16:38 WIB
    • Tiga Tahun Bertugas di Riau, Konsul Malaysia Soroti Eratnya Kolaborasi Lintas Sektor

      Tiga Tahun Bertugas di Riau, Konsul Malaysia Soroti Eratnya Kolaborasi Lintas Sektor

      21/07/2026  ❘  16:30 WIB
    • Audiensi Pemprov Riau dan BPS, Matangkan Persiapan Data KIP Kuliah

      Audiensi Pemprov Riau dan BPS, Matangkan Persiapan Data KIP Kuliah

      21/07/2026  ❘  13:53 WIB
    • Harimau Sumatera Tiba-Tiba Lompat ke Atas Motor Pekerja Sawit di Mengkapan Siak

      Harimau Sumatera Tiba-Tiba Lompat ke Atas Motor Pekerja Sawit di Mengkapan Siak

      21/07/2026  ❘  13:08 WIB
  • Sport
    • Spanyol Geser Posisi Argentina, Ini Daftar 25 Besar Ranking FIFA Usai Piala Dunia 2026

      Spanyol Geser Posisi Argentina, Ini Daftar 25 Besar Ranking FIFA Usai Piala Dunia 2026

      21/07/2026  ❘  10:19 WIB
    • 6 Negara Jadi Tuan Rumah FIFA World Cup 2030, Ini Alasannya

      6 Negara Jadi Tuan Rumah FIFA World Cup 2030, Ini Alasannya

      21/07/2026  ❘  09:12 WIB
    • Spanyol Lengkapi Gelar Piala Dunia 2026 Setelah Menjuarai Piala Eropa 2024

      Spanyol Lengkapi Gelar Piala Dunia 2026 Setelah Menjuarai Piala Eropa 2024

      20/07/2026  ❘  09:19 WIB
    • Resmi Juara Piala Dunia 2026, Spanyol Kantongi Hampir Rp1 Triliun dan Cincin Bersejarah FIFA

      Resmi Juara Piala Dunia 2026, Spanyol Kantongi Hampir Rp1 Triliun dan Cincin Bersejarah FIFA

      20/07/2026  ❘  09:06 WIB
  • Opini
    • 2 Orang Tewas Dimangsa di Konsesi PT Madukoro Lestari, Mengapa Kementerian Kehutanan Gegabah Terbitkan Izin HTI di Sarang Harimau? 

      2 Orang Tewas Dimangsa di Konsesi PT Madukoro Lestari, Mengapa Kementerian Kehutanan Gegabah Terbitkan Izin HTI di Sarang Harimau? 

      17/07/2026  ❘  10:49 WIB
    • Catatan Kritis tentang Masa Depan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu

      Catatan Kritis tentang Masa Depan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu

      14/07/2026  ❘  13:51 WIB
    • Republik Amplop

      Republik Amplop

      13/07/2026  ❘  13:17 WIB
    • Terjebak Paradigma Daratan: Anggota DPR-DPD Dapil Riau Harus Kepung Pansus Demi Kepulauan Meranti

      Terjebak Paradigma Daratan: Anggota DPR-DPD Dapil Riau Harus Kepung Pansus Demi Kepulauan Meranti

      13/07/2026  ❘  12:14 WIB
  • Internasional
    • Bukan Pelit! Crazy Rich Dunia Warren Buffett Punya Alasan Mengejutkan Tak Wariskan Kekayaan

      Bukan Pelit! Crazy Rich Dunia Warren Buffett Punya Alasan Mengejutkan Tak Wariskan Kekayaan

      21/07/2026  ❘  08:33 WIB
    • Heboh! Walkot New York Tantang Kebijakan Trump, Netanyahu Bisa Ditahan Saat Sidang PBB

      Heboh! Walkot New York Tantang Kebijakan Trump, Netanyahu Bisa Ditahan Saat Sidang PBB

      21/07/2026  ❘  08:14 WIB
    • Tangis Berubah Amarah, Kekalahan Argentina Picu Kerusuhan Besar di Buenos Aires

      Tangis Berubah Amarah, Kekalahan Argentina Picu Kerusuhan Besar di Buenos Aires

      21/07/2026  ❘  07:10 WIB
    • PBB Selidiki Serangan AS ke Proyek Nuklir Iran di Khuzestan

      PBB Selidiki Serangan AS ke Proyek Nuklir Iran di Khuzestan

      20/07/2026  ❘  11:56 WIB
  • lain
      -->
    • Advertorial
    • -->
    • Foto
    • Indeks
Bukan omon omon

Sembilu Waktu di Tanah Kuning : Anyaman Bambu yang Menjaga Tradisi dan Harapan

14/07/2025  ❘  17:26 WIB • Riau
Bagikan :
Sembilu Waktu di Tanah Kuning : Anyaman Bambu yang Menjaga Tradisi dan Harapan

Nenek Nurhayati, seorang pengrajin anyaman bambu di Dusun Manggis atau yang lebih dikenal dengan sebutan lamanya, Dusun Tanah Kuning, Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti. Foto: SM News

SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Penglihatannya mungkin mulai kabur, keriput di wajahnya kian dalam, namun jemari Halijah tetap lincah menari di atas irisan bambu yang tajam, tak takut akan goresan tajamnya pisau dan irisan bambu yang diirisnya setiap waktu

Di tangannya, sembilu tak lagi jadi luka, tapi harapan—meski kecil, tetap utuh.

Pisau mungil di genggamannya bergerak cekatan, mengiris bambu-bambu muda menjadi helai tipis, lalu dianyam menjadi keranjang atau wadah sederhana lainnya. Dalam sehari, ia bisa menghasilkan olahan bambu berupan bakul dan bentuk lainnya lebih dari satu.

Di sudut Dusun Manggis atau yang lebih dikenal dengan sebutan lamanya, Dusun Tanah Kuning, Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti—perempuan-perempuan paruh baya dan lansia seperti Halijah masih setia menjalani tradisi. Mereka duduk di beranda rumah-rumah kayu, menganyam hidup dari sepotong demi sepotong bambu yang tak lagi semuda mereka. Satu demi satu hasil karya lahir dari tangan yang telah banyak melewati musim dan waktu.

Nenek Halijah, kini berusia 81 tahun, sudah akrab dengan anyaman sejak kecil. Ia sendiri sudah menekuni anyaman bambu sejak berusia muda, belajar dari orang tuanya.

“Waktu kecil saya diajarkan menganyam oleh orang tua. Kalau tidak pandai, saya bisa dipukul. Dulu orang tua kita begitu, karena takut kami tak punya keahlian dan akhirnya tidak bisa bekerja,” ucapnya, mengenang dengan tawa kecil yang menyimpan getir masa lalu.

Setiap hari, meskipun ia masih bisa menghasilkan satu atau dua keranjang bambu. Tapi di balik semangat itu, terselip satu kekhawatiran, dimana tak ada satu pun dari lima anaknya yang mewarisi keahliannya.

“Mereka tidak mau belajar. Saya pun tak memaksa, apalagi memukul seperti dulu. Zaman sudah berubah,” ucapnya pelan. Ada nada kecewa yang disembunyikan, tapi juga ada penerimaan dalam tatapan matanya.

 

Kini, sembilu bukan hanya sebilah bambu tajam, tapi juga potongan-potongan waktu yang tak lagi kembali. Anyaman Halijah bukan sekadar kerajinan tangan, tapi narasi diam dari warisan budaya yang perlahan mulai ditinggalkan generasinya.

Hari mulai beranjak siang ketika kami melangkah lebih dalam ke jantung Dusun Manggis. Sepintas, suasana tampak tenang—nyaris sunyi. Tak banyak lalu-lalang, hanya sesekali terdengar bunyi burung dari rerimbunan pepohonan. Warga dusun ini banyak yang bekerja di hutan atau merantau ke luar daerah. Yang tersisa di rumah hanyalah para perempuan yang setia menunggu, menjaga rumah, dan menekuni anyaman bambu yang telah diwariskan turun-temurun.

Di balik kerajinan sederhana itu, hidup sebuah warisan yang mengikat masa lalu dan masa kini dalam tenunan penuh makna.

Di bawah naungan pohon manggis yang rindang, pandangan kami tertumbuk pada sosok perempuan paruh baya yang tampak sibuk di halaman belakang rumah kayunya. Jemarinya cekatan mengayun di antara bilah bambu, menyulapnya menjadi keranjang—yang oleh warga setempat disebut “ghage”—dan berbagai bentuk kerajinan lainnya.

Dialah Nurhayati. Di usianya yang telah menginjak 53 tahun, ia tetap setia menekuni kerajinan bambu. Tak tampak lelah di wajahnya, hanya ketekunan dan kesabaran yang terpahat dalam tiap gerak tangannya. Empat puluh tahun sudah ia menggeluti dunia anyaman, sejak usia 12 tahun. Dan sejak 23 tahun lalu, saat sang suami berpulang, bambu-bambu itu menjadi tumpuan hidupnya, menjadi tulang punggung yang menyekolahkan dan membesarkan anak-anaknya.

Nurhayati sendiri membuat barang-barang dari anyaman bambu ini dengan cara otodidak. Memang awalnya coba-coba. Setelah mahir, dia terus membuatnya sampai sekarang.

"Saya mulai belajar menganyam umur 12 tahun sampai umur saya sekarang sudah 53 tahun, kalau kurang paham maka tangan pasti terluka terkena sembilu. Sudah 23 tahun ditinggal suami yang meninggal dunia, jadi ini menjadi pekerjaan tetap untuk anak sekolah dan dari pekerjaan inilah yang membesarkan anak kami," tuturnya sembari terus mengayunkan sembilu.

 

Tak mudah. Ketika awal belajar, luka di tangan jadi teman akrab. “Kalau salah, tangan pasti terluka kena sembilu,” tambahnya pelan. Tapi luka itu bukan alasan untuk berhenti. Justru dari bilah bambu yang tajam itu, Nurhayati menemukan cara bertahan.

Kini, ia bekerja sendirian. Anaknya yang tinggal bersamanya tidak meneruskan keahlian itu. Seperti halnya nenek Halijah, kekhawatiran akan punahnya tradisi ini sesekali menyelinap dalam benaknya. Namun ia tetap menjalani apa yang ia bisa: menyulam kehidupan lewat irisan bambu.

Dari hasil kerajinannya, ia mendapatkan penghasilan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. “Kalau keranjang besar bisa dijual Rp 35 ribu, yang kecil Rp 5 ribu. Sehari kadang bisa dapat Rp 80 ribu, itu sudah bersih setelah beli buluh seharga Rp 2 ribu per batang,” jelasnya dengan nada syukur.

Nurhayati juga mengenang masa kecilnya, ketika orang tuanya memaksa bahkan memukul jika ia enggan belajar menganyam.

“Dulu, kalau tak mau belajar, orang tua marah. Tapi niat mereka baik, takut kami tak bisa bekerja nanti,” ucapnya sambil tersenyum, meski tampak getir.

Kini, di tengah sepinya dusun, di antara keripik daun bambu yang berjatuhan, Nurhayati masih menyulam kehidupan. Bukan hanya demi bertahan, tapi agar warisan leluhur itu tak sekadar menjadi kenangan.

Waktu seolah berjalan lambat di Dusun Cempedak, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Tanah Kuning. Sebuah dusun kecil yang berada di Desa Bokor yang dihuni oleh sekitar 180 kepala keluarga, tempat ini menyimpan warisan budaya yang perlahan menipis—kerajinan anyaman bambu.

Namun, perjalanan mempertahankan tradisi ini tak semudah dulu. Saat ini, bahan baku berupa bambu tak lagi mudah didapatkan. Warga harus membelinya karena tunas-tunas bambu muda, yang seharusnya tumbuh menjadi batang, justru lebih dulu dimakan oleh sapi peliharaan warga. Kondisi ini membuat produksi kerajinan menjadi lebih berat, baik dari sisi tenaga maupun biaya.

 

Dahulu, dusun ini pernah berjaya. Dua perusahaan besar bergerak di bidang kayu olahan, Golden Bintangor dan Uniseraya, berdiri megah dan menyerap banyak tenaga kerja. Bukan hanya warga lokal, bahkan pendatang dari Pulau Jawa pun datang dan tinggal di sini, menciptakan denyut ekonomi yang hidup dan ramai. Namun semua itu kini tinggal kenangan. Seiring waktu, perusahaan tutup, dan aktivitas di dusun menjadi jauh lebih senyap.

Meski begitu, semangat warga untuk tetap bertahan tak pernah padam. Di antara keterbatasan, perempuan-perempuan tangguh Tanah Kuning masih duduk di halaman rumah, tangan mereka terus bergerak menganyam bambu menjadi beragam peralatan rumah tangga. Ada ghage (keranjang), leko (nampan bulat dari anyaman), sayak (tudung saji), dan aneka bentuk kerajinan lainnya.

Bagi mereka, menganyam bukan hanya pekerjaan, tapi juga warisan yang perlu dijaga. Tradisi yang menenun kebanggaan pada akar budaya lokal, dan pada saat bersamaan menjadi sumber penghidupan. Kerajinan ini tak hanya mempertahankan khazanah negeri, tetapi juga menjadi penopang ekonomi warga setempat. Dari bambu-bambu yang dirangkai, lahirlah harapan-harapan sederhana untuk terus bertahan di tanah sendiri.

Kepala Dusun Cempedak, Sutrisno, menghela napas panjang saat berbicara soal tradisi ini. Baginya, anyaman bambu bukan sekadar pekerjaan, tetapi simbol kehidupan yang diwariskan turun-temurun. “Kalau dulu, hampir satu dusun mata pencahariannya sebagai perajin anyaman bambu. Tapi sekarang, tinggal hitungan jari,” ujarnya lirih.

Zaman memang berubah. Deru mesin dan tuntutan ekonomi mendorong banyak warga beralih profesi. Dari yang semula penganyam menjadi petani, karyawan, bahkan perantau. Namun, di antara jejak-jejak itu, masih ada segelintir jiwa yang memilih bertahan
menjaga cerita dari helai-helai bambu yang mereka anyam sejak usia belia.

Para perajin, dengan tangan terampil, menenun cerita dan sejarah, menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Sutrisno menuturkan, hasil kerajinan dari Tanah Kuning masih diminati, bahkan telah dipasarkan ke ibukota kabupaten dan beberapa daerah lainnya. Namun keterbatasan promosi dan akses pasar membuat potensi ini belum optimal. “Mudah-mudahan ada pihak yang bisa bantu. Anyaman ini sudah jadi bagian hidup kami sejak lama,” tuturnya.

Ia tidak bicara soal keuntungan semata, melainkan nilai. Setiap anyaman menyimpan cerita—tentang kerjasama, ketekunan, dan cinta terhadap pekerjaan. Bambu yang digores dan dianyam itu bukan hanya produk, tapi pusaka budaya.

 

“Sayangnya, belum ada kaderisasi. Anak-anak muda kurang tertarik. Padahal kalau tak diwariskan, siapa yang akan melanjutkan?” keluhnya.

Sutrisno berharap pemerintah hadir, tidak hanya dengan kata-kata, tapi melalui pelatihan, pembinaan, dan dukungan pasar. Ia ingin generasi muda dilibatkan, diajarkan, dan diberi ruang agar warisan ini tak sekadar jadi pajangan sejarah.

“Kalau budaya ini hilang, kita kehilangan bagian dari jati diri kita sendiri. Semoga yang muda mau belajar, dan yang tua tetap diberi ruang untuk mengajarkan,” tukasnya.

Dusun Tanah Kuning, dengan segala keterbatasannya, masih menjaga denyut budaya dalam keheningan. Lewat anyaman bambu, mereka menenun waktu, menjaga ruh masa lalu agar tetap hidup di masa depan.

Bagi mereka, ada kebanggaan tersendiri atas warisan budaya yang terus hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi. Mereka berdiri di garis depan, menyuarakan pentingnya menjaga dan merawat budaya lokal agar tak tergerus zaman

Di tengah arus modernisasi, upaya ini adalah langkah berarti untuk menjaga jati diri, mengingatkan kita bahwa budaya lokal adalah harta yang tak ternilai.

Melalui anyaman bambu, kita belajar tentang keindahan kesederhanaan. Setiap anyaman bercerita tentang kerjasama, ketelitian, dan cinta terhadap pekerjaan. Ini adalah pelajaran berharga yang sering terabaikan di tengah kesibukan sehari-hari.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan berupa pelatihan dan akses pasar untuk menjaga keberlanjutan usaha dan tradisi ini.

Ia juga mengatakan perlunya kaderisasi agar generasi muda lebih aktif dalam mewarisi keahlian ini ke depannya.

“Dengan melibatkan generasi muda, kami berharap warisan budaya ini akan terus hidup dan berkembang,” tukasnya. (R-01)

Editor: Raya Desmawanto
Tags :Nenek HalijahPengrajin Anyaman BambuKepulauan MerantiSabangmeraukenews.com

BERITA TERKAIT :

  • Tanam 10 Bibit Pohon, Pelajar di Pekanbaru Bisa Bikin SIM Gratis  

    Tanam 10 Bibit Pohon, Pelajar di Pekanbaru Bisa Bikin SIM Gratis  

    Riau •
    14/07/2025 ❘ 16:50 WIB
  • Empat Varietas Durian Kepulauan Meranti Diakui Nasional, Namun Sertifikasi Masih Tertunda Karena Anggaran

    Empat Varietas Durian Kepulauan Meranti Diakui Nasional, Namun Sertifikasi Masih Tertunda Karena Anggaran

    Riau •
    14/07/2025 ❘ 15:19 WIB
  • Sebagian Wilayah Riau Masih Akan Diguyur Hujan Hari Ini

    Sebagian Wilayah Riau Masih Akan Diguyur Hujan Hari Ini

    Riau •
    14/07/2025 ❘ 14:16 WIB
  • PSPS Pekanbaru Datangkan 5 Pemain Baru, Ini Nama-namanya  

    PSPS Pekanbaru Datangkan 5 Pemain Baru, Ini Nama-namanya  

    Sport •
    14/07/2025 ❘ 12:03 WIB
  • Inventarisasi Aset Bongkar Fakta: 103 Unit Kendaraan Dinas Hilang Tanpa Bekas, Pemkab Kepulauan Meranti Lakukan Penelusuran

    Inventarisasi Aset Bongkar Fakta: 103 Unit Kendaraan Dinas Hilang Tanpa Bekas, Pemkab Kepulauan Meranti Lakukan Penelusuran

    Daerah •
    13/07/2025 ❘ 19:21 WIB
Lindawati Tahun Baru Islam HUT 60 tahun BRK syariah Lowongan kerja Novotel Terbaru

TERPOPULER

  • 35 Kolonel TNI AD Pecah Bintang Jadi Jenderal, Ini Daftar Lengkapnya

    35 Kolonel TNI AD Pecah Bintang Jadi Jenderal, Ini Daftar Lengkapnya

    10/07/2026  ❘  21:35 WIB
  • KPK Tuntut Gubernur Riau Abdul Wahid 8,5 Tahun Penjara, Denda Rp 500 Juta dan Bayar Uang Pengganti Rp 1,45 Miliar 

    KPK Tuntut Gubernur Riau Abdul Wahid 8,5 Tahun Penjara, Denda Rp 500 Juta dan Bayar Uang Pengganti Rp 1,45 Miliar 

    09/07/2026  ❘  12:45 WIB
  • Laba Agrinas Palma Nusantara Cuma Rp 2,7 Miliar Padahal Kelola 4 Juta   Hektare Kebun Sawit, Ada Apa?

    Laba Agrinas Palma Nusantara Cuma Rp 2,7 Miliar Padahal Kelola 4 Juta   Hektare Kebun Sawit, Ada Apa?

    06/07/2026  ❘  23:23 WIB
  • Kuasa Hukum Don Ritto Klaim Uang Sitaan Berasal dari Proyek Pelabuhan Kalimantan Timur

    Kuasa Hukum Don Ritto Klaim Uang Sitaan Berasal dari Proyek Pelabuhan Kalimantan Timur

    14/07/2026  ❘  17:07 WIB
  • Sopir Truk Tangki Dipecat Massal, TNI Polri Diterjunkan Pasok BBM di SPBU Medan

    Sopir Truk Tangki Dipecat Massal, TNI Polri Diterjunkan Pasok BBM di SPBU Medan

    14/07/2026  ❘  21:00 WIB
Kempo Dojo AKRI cafe Idul adha dprd pekanbaru

    Follow Us

  • Copyright ©
    SabangMeraukeNEWS.com

    Berita

  • Daerah
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Umum

    Berita

  • Riau
  • Sport
  • Opini
  • Internasional
  • Advertorial
  • Indeks

    Halaman

  • Redaksi
  • Tentang
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • SOP Perlindungan Wartawan