SabangMeraukeNEWS.com

  • Daerah
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Umum
  • Riau
  • Sport
  • Opini
  • Internasional
  • Advertorial
  • Indeks

  • Redaksi
  • Tentang
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • SOP Perlindungan Wartawan

    https://sabangmeraukenews.com

Copyright ©
sabangmeraukeNEWS.com
All rights reserved

https://sabangmeraukenews.com

  • Daerah
    • Anggota DPRD Pelalawan Sunardi Banding Usai Divonis 4 Tahun Penjara Kasus Ijazah Palsu

      Anggota DPRD Pelalawan Sunardi Banding Usai Divonis 4 Tahun Penjara Kasus Ijazah Palsu

      21/07/2026  ❘  20:29 WIB
    • Saksi Mata: Teriakan Wanita Hanya Sebentar, Bayi Berlumuran Darah di Atas Rumah

      Saksi Mata: Teriakan Wanita Hanya Sebentar, Bayi Berlumuran Darah di Atas Rumah

      21/07/2026  ❘  17:48 WIB
    • Petani Sawit di Riau Selamat Dari Terkaman Harimau Sumatera

      Petani Sawit di Riau Selamat Dari Terkaman Harimau Sumatera

      21/07/2026  ❘  14:28 WIB
    • Cincin Tersangkut di Alat Kelamin, Pria di Dumai Minta Bantuan Petugas Damkar

      Cincin Tersangkut di Alat Kelamin, Pria di Dumai Minta Bantuan Petugas Damkar

      21/07/2026  ❘  14:12 WIB
  • Nasional
    • Bahlil Pastikan Relaksasi RKAB Batu Bara Tak Ganggu Pasokan PLN, Kebutuhan Dalam Negeri Jadi Prioritas

      Bahlil Pastikan Relaksasi RKAB Batu Bara Tak Ganggu Pasokan PLN, Kebutuhan Dalam Negeri Jadi Prioritas

      21/07/2026  ❘  21:31 WIB
    • BRIN Bongkar Penyebab Menyusutnya Ketinggian Air Danau Toba

      BRIN Bongkar Penyebab Menyusutnya Ketinggian Air Danau Toba

      21/07/2026  ❘  20:31 WIB
    • Kembali Dilaporkan Wartawan, Polda Metrojaya Mulai Proses Kasus Hotman Paris

      Kembali Dilaporkan Wartawan, Polda Metrojaya Mulai Proses Kasus Hotman Paris

      21/07/2026  ❘  19:03 WIB
    • Di Balik Kipas Angin Rp1,8 Triliun, KPK Ungkap Modus Lama yang Terus Berulang

      Di Balik Kipas Angin Rp1,8 Triliun, KPK Ungkap Modus Lama yang Terus Berulang

      21/07/2026  ❘  18:11 WIB
  • Ekonomi
    • Resmi! Pemprov Riau Tetapkan Harga TBS Sawit Mitra Swadaya Rp3.846 per Kg, Ini Daftar Lengkapnya

      Resmi! Pemprov Riau Tetapkan Harga TBS Sawit Mitra Swadaya Rp3.846 per Kg, Ini Daftar Lengkapnya

      21/07/2026  ❘  21:21 WIB
    • Sembilan Hari Melesat Tanpa Henti, IHSG Kembali Tunjukkan Taringnya

      Sembilan Hari Melesat Tanpa Henti, IHSG Kembali Tunjukkan Taringnya

      21/07/2026  ❘  18:48 WIB
    • BI Rate Dikabarkan Naik Lagi, Rupiah Langsung Jadi Mata Uang Terkuat Asia

      BI Rate Dikabarkan Naik Lagi, Rupiah Langsung Jadi Mata Uang Terkuat Asia

      21/07/2026  ❘  18:28 WIB
    • Update Harga Emas Perhiasan Hari Ini 21 Juli 2026, Cek Semua Kadar dari 24K hingga 5K

      Update Harga Emas Perhiasan Hari Ini 21 Juli 2026, Cek Semua Kadar dari 24K hingga 5K

      21/07/2026  ❘  12:49 WIB
  • Politik
    • Bupati Siak Afni Curhat Soal Pemangkasan DBH, Wapres Gibran: Sayakan Mantan Wali Kota Juga!

      Bupati Siak Afni Curhat Soal Pemangkasan DBH, Wapres Gibran: Sayakan Mantan Wali Kota Juga!

      17/07/2026  ❘  20:17 WIB
    • Memalukan! Pimpinan Pusat Golkar Murka Lihat Kericuhan 2 Kadernya di DPRD Riau

      Memalukan! Pimpinan Pusat Golkar Murka Lihat Kericuhan 2 Kadernya di DPRD Riau

      17/07/2026  ❘  14:01 WIB
    • KPK Tetapkan Bupati Sukoharjo Tersangka, PDIP Tegaskan OTT Langsung Dipecat

      KPK Tetapkan Bupati Sukoharjo Tersangka, PDIP Tegaskan OTT Langsung Dipecat

      12/07/2026  ❘  13:39 WIB
    • PDIP Sebut Diri Partai Penyeimbang, PSI Minta Penjelasan Terbuka untuk Publik

      PDIP Sebut Diri Partai Penyeimbang, PSI Minta Penjelasan Terbuka untuk Publik

      10/07/2026  ❘  09:35 WIB
  • Hukrim
    • Polda Riau Bongkar Penyelewengan BBM Subsidi di Rohil, Amankan 3 Tersangka dan 2 Unit Truk Tangki

      Polda Riau Bongkar Penyelewengan BBM Subsidi di Rohil, Amankan 3 Tersangka dan 2 Unit Truk Tangki

      21/07/2026  ❘  20:50 WIB
    • Karyawan Pabrik Sawit PTPN IV di Rokan Hilir Tewas Kecelakaan Kerja, Manajemen Buka Suara

      Karyawan Pabrik Sawit PTPN IV di Rokan Hilir Tewas Kecelakaan Kerja, Manajemen Buka Suara

      21/07/2026  ❘  13:59 WIB
    • Kepala Karyawan Hancur Akibat Kecelakaan Kerja Kemarin, Pihak PTPN IV Regional 3 Riau Baru Melapor Lisan Pagi Tadi, Disnaker Turunkan Tim

      Kepala Karyawan Hancur Akibat Kecelakaan Kerja Kemarin, Pihak PTPN IV Regional 3 Riau Baru Melapor Lisan Pagi Tadi, Disnaker Turunkan Tim

      21/07/2026  ❘  10:02 WIB
    • Bupati Kena OTT KPK Lagi, Terkait Kasus Suap Proyek Pemkab

      Bupati Kena OTT KPK Lagi, Terkait Kasus Suap Proyek Pemkab

      21/07/2026  ❘  08:59 WIB
  • Umum
    • 2 Orang Tewas Dimangsa Harimau Sumatera, Hasil Audit Ini Ungkap Masalah di PT Madukoro Lestari

      2 Orang Tewas Dimangsa Harimau Sumatera, Hasil Audit Ini Ungkap Masalah di PT Madukoro Lestari

      21/07/2026  ❘  16:16 WIB
    • Mulut Terasa Pahit Saat Bangun Tidur? Bisa Jadi Tanda Asam Lambung hingga Kurang Minum

      Mulut Terasa Pahit Saat Bangun Tidur? Bisa Jadi Tanda Asam Lambung hingga Kurang Minum

      19/07/2026  ❘  12:29 WIB
    • Jangan Buang Sisa Nasi! Begini Cara Mengubahnya Jadi Kompos yang Bikin Tanaman Subur

      Jangan Buang Sisa Nasi! Begini Cara Mengubahnya Jadi Kompos yang Bikin Tanaman Subur

      19/07/2026  ❘  08:22 WIB
    • AI Mengubah Dunia Kerja, Anak Muda Wajib Kuasai Keterampilan Ini Sebelum Terlambat

      AI Mengubah Dunia Kerja, Anak Muda Wajib Kuasai Keterampilan Ini Sebelum Terlambat

      18/07/2026  ❘  13:30 WIB
  • Riau
    • Catat! Mobil Pak Aman Keliling Pekanbaru Hingga 30 Juli, Sembako Murah Dijual di 6 Kelurahan

      Catat! Mobil Pak Aman Keliling Pekanbaru Hingga 30 Juli, Sembako Murah Dijual di 6 Kelurahan

      21/07/2026  ❘  21:39 WIB
    • Di Balik Ringgit Malaysia, Ada Air Mata Keluarga: Dua Warga Kepulauan Meranti Ditangkap Imigresen, Keberadaannya Masih Misterius

      Di Balik Ringgit Malaysia, Ada Air Mata Keluarga: Dua Warga Kepulauan Meranti Ditangkap Imigresen, Keberadaannya Masih Misterius

      21/07/2026  ❘  20:57 WIB
    • Densus 88 Turun Tangan! Pemprov Riau Siapkan Langkah Besar Cegah Terorisme 2026–2029

      Densus 88 Turun Tangan! Pemprov Riau Siapkan Langkah Besar Cegah Terorisme 2026–2029

      21/07/2026  ❘  20:54 WIB
    • SF Hariyanto Gerak Cepat Bantu Pemko Pekanbaru Atasi Banjir di Jalan Sudirman

      SF Hariyanto Gerak Cepat Bantu Pemko Pekanbaru Atasi Banjir di Jalan Sudirman

      21/07/2026  ❘  19:02 WIB
  • Sport
    • 4 Atlet NPCI Riau Siap Guncang Kapolri Cup 2026, Targetkan Hujan Medali Nasional!

      4 Atlet NPCI Riau Siap Guncang Kapolri Cup 2026, Targetkan Hujan Medali Nasional!

      21/07/2026  ❘  19:22 WIB
    • Spanyol Geser Posisi Argentina, Ini Daftar 25 Besar Ranking FIFA Usai Piala Dunia 2026

      Spanyol Geser Posisi Argentina, Ini Daftar 25 Besar Ranking FIFA Usai Piala Dunia 2026

      21/07/2026  ❘  10:19 WIB
    • 6 Negara Jadi Tuan Rumah FIFA World Cup 2030, Ini Alasannya

      6 Negara Jadi Tuan Rumah FIFA World Cup 2030, Ini Alasannya

      21/07/2026  ❘  09:12 WIB
    • Spanyol Lengkapi Gelar Piala Dunia 2026 Setelah Menjuarai Piala Eropa 2024

      Spanyol Lengkapi Gelar Piala Dunia 2026 Setelah Menjuarai Piala Eropa 2024

      20/07/2026  ❘  09:19 WIB
  • Opini
    • 2 Orang Tewas Dimangsa di Konsesi PT Madukoro Lestari, Mengapa Kementerian Kehutanan Gegabah Terbitkan Izin HTI di Sarang Harimau? 

      2 Orang Tewas Dimangsa di Konsesi PT Madukoro Lestari, Mengapa Kementerian Kehutanan Gegabah Terbitkan Izin HTI di Sarang Harimau? 

      17/07/2026  ❘  10:49 WIB
    • Catatan Kritis tentang Masa Depan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu

      Catatan Kritis tentang Masa Depan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu

      14/07/2026  ❘  13:51 WIB
    • Republik Amplop

      Republik Amplop

      13/07/2026  ❘  13:17 WIB
    • Terjebak Paradigma Daratan: Anggota DPR-DPD Dapil Riau Harus Kepung Pansus Demi Kepulauan Meranti

      Terjebak Paradigma Daratan: Anggota DPR-DPD Dapil Riau Harus Kepung Pansus Demi Kepulauan Meranti

      13/07/2026  ❘  12:14 WIB
  • Internasional
    • Bukan Pelit! Crazy Rich Dunia Warren Buffett Punya Alasan Mengejutkan Tak Wariskan Kekayaan

      Bukan Pelit! Crazy Rich Dunia Warren Buffett Punya Alasan Mengejutkan Tak Wariskan Kekayaan

      21/07/2026  ❘  08:33 WIB
    • Heboh! Walkot New York Tantang Kebijakan Trump, Netanyahu Bisa Ditahan Saat Sidang PBB

      Heboh! Walkot New York Tantang Kebijakan Trump, Netanyahu Bisa Ditahan Saat Sidang PBB

      21/07/2026  ❘  08:14 WIB
    • Tangis Berubah Amarah, Kekalahan Argentina Picu Kerusuhan Besar di Buenos Aires

      Tangis Berubah Amarah, Kekalahan Argentina Picu Kerusuhan Besar di Buenos Aires

      21/07/2026  ❘  07:10 WIB
    • PBB Selidiki Serangan AS ke Proyek Nuklir Iran di Khuzestan

      PBB Selidiki Serangan AS ke Proyek Nuklir Iran di Khuzestan

      20/07/2026  ❘  11:56 WIB
  • lain
      -->
    • Advertorial
    • -->
    • Foto
    • Indeks
Bukan omon omon

Sentra Budidaya Kakap Putih Nasional, Kepulauan Meranti Diapit Harapan dan Realita : Belum Ada Impak Untuk Kesejahteraan Nelayan

09/07/2025  ❘  20:24 WIB • Riau
Bagikan :
Sentra Budidaya Kakap Putih Nasional, Kepulauan Meranti Diapit Harapan dan Realita : Belum Ada Impak Untuk Kesejahteraan Nelayan

Sentra Budidaya Kakap Putih Nasional, Kepulauan Meranti. Foto: SM News

SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Harapan besar sempat menggelora ketika Kabupaten Kepulauan Meranti ditetapkan sebagai kawasan pengembangan budidaya kakap putih nasional oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kesepakatan itu ditandatangani melalui nota bersama antara Ditjen Perikanan Budidaya, Pemerintah Provinsi Riau, dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti.

Angin optimisme sempat bertiup kencang di pesisir-pesisir desa. Masyarakat nelayan menyambut penetapan ini sebagai peluang emas untuk meningkatkan taraf hidup. Tapi waktu berjalan, dan yang tinggal hanyalah tanya: "Mengapa kami masih sulit sejahtera?"

Laut Kaya, Namun Hasil Belum Terasa

Wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti, dengan status kepulauannya yang strategis, memiliki kekayaan laut yang luar biasa. Berdasarkan Perda Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Provinsi Riau, potensi pengembangan budidaya laut di kawasan ini mencapai 438 hektar. Bahkan secara spesifik, sekitar 145 hektar lahan budidaya laut di Meranti diprediksi bisa memproduksi hingga 10.500 ton kakap putih per tahun.

Namun, potensi besar itu masih tergantung di awang-awang. Di daratan pesisir, para nelayan masih bertahan dengan cara-cara lama, dengan keterbatasan teknologi dan modal. Infrastruktur pendukung masih minim, dan program yang ditetapkan secara nasional belum sepenuhnya mengalir hingga ke akar rumput.

Janji yang Belum Menjelma

Penetapan Kepulauan Meranti sebagai sentra kakap putih nasional seharusnya menjadi pemicu lahirnya industri turunan seperti dari pakan, hatchery (pembenihan), hingga pemasaran hasil budidaya. Tapi yang terjadi, sebagian nelayan bahkan belum mengetahui bagaimana bisa terlibat dalam skema besar tersebut.

“Kalau budidaya ini memang jadi prioritas nasional, seharusnya kami juga diberi bekal. Selain alat, juga pelatihan, dan akses ke pasar. Sekarang semuanya seperti hanya jadi label,” keluh seorang nelayan budidaya di Kecamatan Tebingtinggi Barat.

Masa Depan di Ujung Galah

Program budidaya kakap putih nasional sejatinya bisa menjadi transformasi ekonomi bagi Kepulauan Meranti. Apalagi, sektor ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan berorientasi ekspor. Tapi hal ini tak akan berarti jika nelayan lokal hanya menjadi penonton dalam geliat industri perikanan modern.

 

Perlu kehadiran nyata dari pemerintah, mulai dari pemetaan ulang kebutuhan masyarakat, pembangunan infrastruktur penunjang, penyediaan teknologi ramah lingkungan, hingga menjamin bahwa hasil budidaya bisa masuk ke rantai pasok nasional dan global.

Kini, lautan Meranti tetap membentang luas. Kakap putih mungkin tetap berenang bebas di dalam kantong kerambah. Namun, di dermaga dan di hati para nelayan, mereka masih menunggu kapan status “sentra nasional” itu benar-benar mengubah kehidupan mereka dan bukan sekadar jadi berita.

Di antara debur ombak dan tiupan angin laut Kepulauan Meranti, benih-benih harapan ditebar dalam bentuk Keramba Jaring Apung (KJA). Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, melalui Dinas Perikanan, terus mendorong budidaya kakap putih sebagai salah satu strategi peningkatan ekonomi masyarakat pesisir.

Di bawah kepemimpinan Kepala Dinas Perikanan Ahmad Yani, sebanyak 84 unit KJA telah ditebar dan dikelola oleh sekitar 260 nelayan dari berbagai kelompok. Hasilnya? Tidak main-main, budidaya ini mampu memproduksi sekitar 34 ton ikan kakap putih per tahun.

Namun, di balik angka yang tampak menjanjikan, masih banyak masalah yang membelit. Budidaya kakap putih di Meranti sejatinya adalah permata yang belum sempat dipoles maksimal.

Program budidaya ikan kakap putih yang digagas Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti ini sempat digadang-gadang menjadi lokomotif ekonomi pesisir. Namun di balik geliat awal yang menjanjikan, kini muncul berbagai persoalan mendasar yang justru menghambat kemajuan.

Penetapan Kabupaten Kepulauan Meranti sebagai sentra nasional budidaya kakap putih, tersimpan banyak cerita tentang perjuangan membangun ekosistem perikanan yang berkelanjutan. Mulai dari keterbatasan infrastruktur, belum maksimalnya pembinaan nelayan, hingga tantangan penyediaan benih yang masih bergantung pada luar daerah.

“Produksinya bagus, tapi sistemnya belum. Kita punya 36 kelompok yang berjalan, tapi belum menerapkan konsep budidaya sebagai bisnis,” ungkap Ahmad Yani.

 

Potensi pasar kakap putih sebenarnya sangat menjanjikan. Untuk pasar lokal di Provinsi Riau, harga per kilogram bisa mencapai Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu. Namun, sayangnya, kelompok-kelompok nelayan di Meranti belum bisa menembus pasar ekspor. Bukan karena kualitas ikan buruk, tapi karena ukuran ikan tidak sesuai permintaan ekspor.

“Saya sudah bertemu pelaku usaha di Batam, mereka tertarik membeli dalam jumlah besar. Tapi mereka minta ukuran 1 kilo itu 3-4 ekor. Kakap kita rata-rata satu ekor 1,2 kilo, jadi dianggap terlalu besar,” ujar Yani.

Masalah lain adalah ketidakteraturan dalam sistem budidaya. Nelayan belum menerapkan pola periodik, sehingga panen hanya dilakukan sekali setahun. Padahal, menurut Yani, bila dilakukan dengan manajemen yang tepat, panen bisa dilakukan hingga tiga kali setahun.

Akibatnya, suplai tidak stabil dan sulit memenuhi permintaan pasar besar secara berkelanjutan.

"Nelayan kita itu berternak nya tidak menerapkan sistem periodik, sehingga ketika habis diambil tidak kontinyu dimana panen nya setahun cuma sekali. Padahal setahun bisa tiga kali panen," ujarnya lagi.

Selain masalah teknis, manajemen kelembagaan kelompok nelayan juga menjadi pekerjaan rumah besar. Banyak kelompok yang masih mengandalkan metode lama, tanpa pendekatan bisnis modern dan strategi pemasaran jangka panjang.

“Nelayan kita juga masih enggan melepas ikan di harga Rp 55 ribu per kilogram ke pembeli luar yang beli dalam jumlah besar, karena sudah terbiasa dengan harga lokal yang mencapai Rp 70, ribu perkilogram nya," jelas Yani.

Padahal, menjual dalam skala besar meskipun harga satuannya lebih rendah bisa membuka akses pasar lebih luas dan menciptakan keberlanjutan usaha.

 

Di atas kertas, Meranti sudah punya modal besar yakni dukungan pemerintah pusat sebagai sentra budidaya nasional kakap putih, potensi lahan 438 hektar, serta lokasi yang strategis dekat pasar luar negeri seperti Batam, Singapura, dan Malaysia.

Yang kini dibutuhkan adalah penguatan kapasitas nelayan, dukungan infrastruktur, akses ke permodalan, serta pendampingan manajerial agar budidaya ini tidak hanya sebatas proyek, tapi gerakan ekonomi masyarakat.

Ketika Bantuan Tak Selalu Menumbuhkan Kemandirian

Kepala Dinas Perikanan Kepulauan Meranti, Ahmad Yani, secara gamblang menyebutkan bahwa salah satu masalah besar adalah tidaknya tersedia kapal angkut yang dilengkapi fasilitas cold storage. Padahal, permintaan dari luar daerah sangat besar—dengan syarat, ikan harus dikirim dalam kondisi hidup dan segar.

“Permintaan pasar ada, terutama dari luar daerah. Tapi kita tidak bisa kirim dalam kondisi hidup karena tidak punya kapal dengan fasilitas cold storage,” ujar Yani.

Modal Tidak Diputar, Bantuan Jadi Ketergantungan

Permasalahan lainnya tak kalah krusial yakni mentalitas usaha dan manajemen keuangan kelompok nelayan. Saat panen datang, keuntungan justru lebih banyak digunakan untuk kebutuhan konsumtif ketimbang produktif. Alih-alih diputar kembali menjadi modal ternak selanjutnya, keuntungan justru habis untuk membeli sepeda motor atau kebutuhan rumah tangga.

“Saat dilakukan audit, baru terlihat. Modal panen tidak diputar. Mereka malah mengandalkan lagi bantuan dari pemerintah. Ini sangat tidak sehat untuk keberlangsungan budidaya,” tegas Yani.

Program budidaya yang seharusnya menjadi titik tolak kemandirian ekonomi, justru sebagian berubah menjadi lingkaran ketergantungan. Sementara di sisi lain, Yani menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa terus-menerus memberikan bantuan jika nelayan tak menunjukkan kemauan untuk mandiri.

 

Keramba Menganggur, Tak Ada Sanksi Tegas

Saat ini, dari 84 unit KJA yang sudah dibagikan, tidak semuanya aktif. Beberapa kelompok sudah berhenti berproduksi, namun belum ada mekanisme sanksi tegas atau penarikan aset. Bantuan yang diberikan dalam bentuk hibah ke kelompok, kini dibiarkan begitu saja.

“Keramba itu sudah kita hibahkan. Jadi tergantung mereka. Kalau tidak dijalankan, ya tidak akan kita bantu lagi. Tapi secara resmi belum ada penarikan aset,” ungkapnya.

Potret ini menyiratkan tantangan besar dalam mengelola potensi perikanan budidaya di daerah. Di satu sisi, pemerintah sudah hadir dengan fasilitas dan dukungan infrastruktur awal. Namun di sisi lain, tanpa perubahan pola pikir dan penguatan manajemen kelembagaan, program sebesar apa pun tak akan berdampak signifikan.

Ahmad Yani berharap ke depan, evaluasi menyeluruh terhadap kelompok budidaya dilakukan secara berkala. Bantuan pun perlu disalurkan secara selektif dan diiringi pendampingan manajerial agar benar-benar menciptakan nelayan yang tangguh dan mandiri, bukan hanya penerima bantuan semata.

Laut Meranti masih kaya, keramba masih terapung, dan kakap putih masih punya pangsa pasar besar. Tapi tanpa disiplin dan mental wirausaha dari nelayan, harapan untuk menjadikan budidaya sebagai kekuatan ekonomi justru bisa tenggelam dalam ketergantungan.

Salah satu titik kritis dalam rantai budidaya adalah ketersediaan benih ikan berkualitas. Hingga kini, Balai Benih Ikan (BBI) milik Pemkab Kepulauan Meranti belum bisa berfungsi secara maksimal karena kendala anggaran.

“BBI kita belum beroperasi karena belum ada anggaran yang cair yang kita ajukan. Bahkan untuk pembersihan rumput dan semak pun belum bisa dilakukan. Kalau ini jalan banyak bibit yang kita hasilkan yang mencapai 30 ribu ekor dan ada PAD yang masuk karena kita anjurkan nelayan untuk membeli bibit disini," tuturnya.

Dari total 70.000 hektare potensi lahan laut yang tersedia di Kepulauan Meranti, hingga kini baru sekitar 2 hektare yang dimanfaatkan untuk budidaya. Ketimpangan ini mencerminkan bahwa meski peluang sangat besar, kapasitas pemanfaatannya masih sangat minim.

Masalah tidak berhenti di situ. Kemandirian nelayan sebagai ujung tombak juga belum terbentuk secara optimal. Pola pembinaan, pelatihan bisnis, dan manajemen kelompok budidaya dinilai masih belum maksimal.

 

“Kita pernah usulkan pelatihan dan penyuluhan manajemen bisnis pada 2024, tapi dicoret karena tak direkomendasikan. Yang ada hanya pelatihan budidaya ikan air tawar di Jambi itu pun lewat dana pokir DPRD,” jelas Yani.

Menggantung Harapan pada Program Kampung Merah Putih

Namun, di tengah berbagai kendala itu, secercah harapan mulai muncul. Pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) siap menggulirkan program Kampung Merah Putih, sebuah kawasan terpadu budidaya laut yang akan dibangun di dua desa yakni Tanah Merah dan Sialang Pasung.

Program ini akan menjadi proyek percontohan yang mengintegrasikan budidaya ikan, produksi pakan, infrastruktur distribusi, hingga pasar. Anggaran sebesar Rp 22 miliar dari KKP tahun 2025 telah disiapkan untuk membangun jembatan, rumah produksi pakan, cold storage, BBM, hingga supermarket ikan.

“Mudah-mudahan dengan adanya Kampung Merah Putih ini, semua persoalan bisa ditangani, dan kita bisa kembali mengembangkan Meranti sebagai sentra nasional kakap putih,” ucap Yani optimis.

Sembari menyempurnakan program budidaya kakap putih, Dinas Perikanan Kepulauan Meranti juga mulai mengembangkan budidaya udang vaname. Di Desa Renak Dungun, mereka sudah berhasil melakukan panen perdana sebanyak 4 ton.

Inisiatif ini memperlihatkan bahwa Meranti tidak kekurangan potensi, tetapi butuh pendekatan yang lebih sistematis dan terintegrasi, terutama dalam manajemen kelompok usaha, akses ke modal, hingga pemasaran produk secara luas dan berkelanjutan.

Kabupaten Kepulauan Meranti kini berdiri di persimpangan. Potensi lautnya begitu besar, peluang pasarnya sangat terbuka, dan dukungan pemerintah pusat mulai mengalir. Tapi semua itu hanya akan menjadi catatan di atas kertas jika tidak ada perubahan pada tata kelola, komitmen, dan kemauan untuk berbenah dari hulu hingga hilir. (R-01)

Editor: Raya Desmawanto
Tags :Sentra Budidaya Kakap PutihKepulauan MerantiSabangmeraukenews.com

BERITA TERKAIT :

  • Polsek Simpang Kanan Tanam Jagung Serentak Kuartal III Program Ketahanan Pangan Nasional

    Polsek Simpang Kanan Tanam Jagung Serentak Kuartal III Program Ketahanan Pangan Nasional

    Riau •
    09/07/2025 ❘ 19:20 WIB
  • Polda Riau Buka Lowongan Untuk non-ASN Penyandang Disabilitas

    Polda Riau Buka Lowongan Untuk non-ASN Penyandang Disabilitas

    Riau •
    09/07/2025 ❘ 17:59 WIB
  • Kuota Jalur BOSDA Afirmasi SMA/SMK Swasta di Riau Hanya Terisi 529 Orang

    Kuota Jalur BOSDA Afirmasi SMA/SMK Swasta di Riau Hanya Terisi 529 Orang

    Riau •
    09/07/2025 ❘ 16:43 WIB
  • Disaksikan Gubri, Satgas PKH Serahkan Penguasaan Lahan TNTN ke Negara

    Disaksikan Gubri, Satgas PKH Serahkan Penguasaan Lahan TNTN ke Negara

    Riau •
    09/07/2025 ❘ 16:27 WIB
  • Buat Masyarakat Resah, Seorang Pengedar Sabu di Kuansing Berhasil Diamankan Polisi

    Buat Masyarakat Resah, Seorang Pengedar Sabu di Kuansing Berhasil Diamankan Polisi

    Hukrim •
    09/07/2025 ❘ 15:39 WIB
Lindawati Tahun Baru Islam HUT 60 tahun BRK syariah Lowongan kerja Novotel Terbaru

TERPOPULER

  • 35 Kolonel TNI AD Pecah Bintang Jadi Jenderal, Ini Daftar Lengkapnya

    35 Kolonel TNI AD Pecah Bintang Jadi Jenderal, Ini Daftar Lengkapnya

    10/07/2026  ❘  21:35 WIB
  • KPK Tuntut Gubernur Riau Abdul Wahid 8,5 Tahun Penjara, Denda Rp 500 Juta dan Bayar Uang Pengganti Rp 1,45 Miliar 

    KPK Tuntut Gubernur Riau Abdul Wahid 8,5 Tahun Penjara, Denda Rp 500 Juta dan Bayar Uang Pengganti Rp 1,45 Miliar 

    09/07/2026  ❘  12:45 WIB
  • Laba Agrinas Palma Nusantara Cuma Rp 2,7 Miliar Padahal Kelola 4 Juta   Hektare Kebun Sawit, Ada Apa?

    Laba Agrinas Palma Nusantara Cuma Rp 2,7 Miliar Padahal Kelola 4 Juta   Hektare Kebun Sawit, Ada Apa?

    06/07/2026  ❘  23:23 WIB
  • Kuasa Hukum Don Ritto Klaim Uang Sitaan Berasal dari Proyek Pelabuhan Kalimantan Timur

    Kuasa Hukum Don Ritto Klaim Uang Sitaan Berasal dari Proyek Pelabuhan Kalimantan Timur

    14/07/2026  ❘  17:07 WIB
  • Sopir Truk Tangki Dipecat Massal, TNI Polri Diterjunkan Pasok BBM di SPBU Medan

    Sopir Truk Tangki Dipecat Massal, TNI Polri Diterjunkan Pasok BBM di SPBU Medan

    14/07/2026  ❘  21:00 WIB
Kempo Dojo AKRI cafe Idul adha dprd pekanbaru

    Follow Us

  • Copyright ©
    SabangMeraukeNEWS.com

    Berita

  • Daerah
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukrim
  • Umum

    Berita

  • Riau
  • Sport
  • Opini
  • Internasional
  • Advertorial
  • Indeks

    Halaman

  • Redaksi
  • Tentang
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Info Iklan
  • SOP Perlindungan Wartawan