Anjloknya Prestasi Kafilah Kepulauan Meranti di MTQ Tingkat Provinsi dan Potret Buram Seleksi oleh Pengurus LPTQ
Prestasi kontingen Kabupaten Kepulauan Meranti dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-43 tingkat Provinsi Riau tahun 2025 yang digelar di Bengkalis menjadi sorotan tajam di tengah masyarakat. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Prestasi kontingen Kabupaten Kepulauan Meranti dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-43 tingkat Provinsi Riau tahun 2025 yang digelar di Bengkalis menjadi sorotan tajam di tengah masyarakat. Ajang yang semestinya menjadi momentum kebanggaan dan unjuk gigi para qari dan qariah Meranti, kini justru memunculkan keprihatinan.
Kepulauan Meranti, yang pernah mencuri perhatian karena potensi Qur’ani anak-anak pesisirnya dengan tiga kali juara umum 2, tahun ini harus puas berada di peringkat ke-10, dengan raihan 146 poin. Hasil yang menyisakan ruang refleksi, apalagi jika menilik catatan beberapa tahun terakhir: peringkat 8 di Dumai tahun lalu, peringkat 9 di Indragiri Hulu 2023, dan peringkat 7 di Rokan Hilir pada 2022—yang saat itu bahkan para peserta berangkat secara mandiri.
Dari total 71 peserta yang bertanding di 12 cabang, Kepulauan Meranti sebenarnya tak pulang dengan tangan hampa. Empat gelar juara I, tiga juara III, serta beberapa posisi harapan membuktikan bahwa akar potensi masih tumbuh kuat. Namun, hasil itu belum cukup untuk mengangkat posisi kabupaten yang dikenal sebagai Negeri Sagu ini ke posisi yang lebih membanggakan.
Bagi Kabupaten Kepulauan Meranti, MTQ ini lebih dari sekadar lomba. Ini adalah arena pertaruhan eksistensi daerah yang telah lama dikenal sebagai penghasil qari dan qariah berkualitas.
Kini, setelah MTQ usai dan kafilah pulang, saatnya pekerjaan rumah dihadapi dengan jujur dan terbuka. Evaluasi perlu dilakukan, bukan hanya di sisi teknis lomba, tapi juga menyentuh pembinaan berkelanjutan, kesiapan mental dan psikologis peserta, dan tentu saja manajemen kafilah. Keterlibatan semua unsur harus diperkuat, dari LPTQ, guru-guru, pelatih, hingga pemerintah daerah yang menjadi pilar utama.
Bahkan tak sedikit pihak yang menyuarakan perlunya penyegaran kepengurusan LPTQ, termasuk posisi Ketua. Nama Agus Safri, yang memimpin LPTQ Meranti saat ini, ikut disebut sebagai figur yang perlu diganti, bukan karena tidak berkontribusi, melainkan demi memberi ruang untuk semangat baru, pola pikir segar, dan manajemen yang lebih strategis.
MTQ bukan sekadar lomba tilawah atau hafalan, melainkan cerminan bagaimana satu daerah membina generasi Qur’ani secara sistematis dan berkelanjutan. Prestasi yang turun bukan akhir segalanya, tapi alarm bahwa ada yang perlu diperbaiki dari hulu ke hilir.
Seperti kata Bupati Asmar yang menekankan bahwa MTQ bukan hanya sekadar ajang lomba, tetapi lebih dari itu—merupakan momentum syiar Islam yang sangat penting bagi masyarakat. Melalui kegiatan ini, budaya membaca, menulis, dan memahami Al-Qur’an bisa lebih meresap dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, bukan hanya peserta yang mendapatkan penghargaan, tetapi masyarakat secara keseluruhan juga akan mendapat manfaat dari pelaksanaan MTQ ini.
Kepulauan Meranti punya modal besar: anak-anak yang mencintai Al-Qur’an, semangat guru-guru ngaji di pelosok desa, dan dukungan masyarakat yang begitu besar. Kini tinggal bagaimana semua potensi itu disatukan dalam satu gerakan pembinaan yang rapi, terpola, dan berorientasi jangka panjang.
Karena di balik semua prestasi, ada proses yang panjang. Dan Kepulauan Meranti, harus kembali bangkit dari titik ini.
Di tengah kekecewaan yang dirasakan sebagian masyarakat, suara dari kalangan tokoh dan penggiat seni baca Al-Qur’an pun mulai nyaring terdengar. Salah satunya datang dari Ishak Izrai, mantan Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kepulauan Meranti. Sosok yang dikenal lama bergelut dalam dunia tilawah ini menyayangkan penurunan yang terus terjadi dari tahun ke tahun.
Ishak membandingkan prestasi para qori dan qoriah di bawah binaan LPTQ pada masanya yang meraih juara dan berhasil mengalahkan kabupaten induk, Bengkalis.
“Setiap pertandingan itu pasti punya target tertentu, apalagi ini membawa nama baik kabupaten. Jika Ketua LPTQ sekarang tidak bisa membawa ke arah yang lebih baik, seharusnya mengundurkan diri dan digantikan oleh yang mampu melakukan pembenahan,” ujar Ishak dengan nada tegas namun penuh keprihatinan.
Bagi Ishak, MTQ bukan sekadar kompetisi baca dan hafal Al-Qur’an. Lebih dari itu, ajang ini adalah cermin kesungguhan sebuah daerah dalam menanamkan nilai-nilai Qur’ani kepada generasinya. Kepulauan Meranti, dengan latar budaya Melayu-Islam yang kental, semestinya menjadikan MTQ sebagai panggung kehormatan, bukan sekadar rutinitas tahunan yang berlalu tanpa bekas.
Ia menilai, evaluasi total harus segera dilakukan. Mulai dari pola pembinaan qori dan qoriah, pelatihan intensif, manajemen kafilah, hingga kesiapan mental dan spiritual peserta. Termasuk di dalamnya, perubahan struktur kepemimpinan LPTQ, yang selama ini dinilai tidak cukup progresif dan responsif terhadap kebutuhan pembinaan berkelanjutan.
Ketua LPTQ Kepulauan Meranti saat ini dijabat oleh Agus Safri, sosok yang ditunjuk langsung oleh Bupati nonaktif Muhammad Adil. Namun, dalam masa kepemimpinannya, belum banyak capaian prestasi yang bisa dibanggakan. Seruan untuk pengunduran diri Agus Safri sebenarnya bukan hal baru—permintaan tersebut sudah digaungkan sejak beberapa tahun lalu, namun hingga kini belum ditindaklanjuti.
“Ini bukan soal pribadi, ini soal marwah daerah. Jika memang ingin memperbaiki kualitas MTQ Meranti, harus dimulai dari pembenahan organisasi. Harus ada keberanian untuk mengevaluasi siapa yang layak memimpin, dan siapa yang sudah selesai tugasnya," tambah Ishak.
Apa yang disampaikan Ishak sesungguhnya adalah panggilan hati banyak pihak yang berharap Meranti kembali bersinar di pentas MTQ Riau. Karena di tanah yang menyebut laut sebagai nyawa dan bumi sebagai tempat tidur ini, Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci, tapi suluh peradaban dan identitas religius masyarakatnya.
Kini bola ada di tangan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti. Apakah akan mengambil langkah berani untuk mereformasi LPTQ dan membangun sistem pembinaan Qur’ani yang berjenjang dan berkelanjutan? Ataukah akan terus menunggu, hingga peringkat yang dulu dibanggakan benar-benar hilang ditelan waktu?
Dua Kali Juara, Tak Juga Diberi Panggung: Cerita Muslim Alfatih dan Bayang-Bayang Emosionalisme di Balik MTQ Meranti
Di atas panggung Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten, nama Muhamad Muslim Alfatih bersinar terang. Remaja asal Kecamatan Tasik Putri Puyu itu telah dua kali meraih juara pertama cabang Qiraat Tartil Remaja, pada MTQ Kabupaten Kepulauan Meranti tahun 2023 dan 2024.
Namun ironisnya, sinar prestasi itu seolah padam di tingkat provinsi. Nama Muslim tak pernah dibawa ke ajang MTQ Provinsi Riau, meski statusnya sebagai juara kabupaten memberi legitimasi penuh. Yang lebih menyakitkan, tidak ada kejelasan. Tak ada seleksi terbuka. Tak ada training center (TC) yang layak. Yang ada hanyalah panggilan setengah hari yang terasa lebih seperti formalitas.
“Kami sudah dua kali juara satu tingkat kabupaten. Tahun lalu sempat dipanggil, tapi tiba-tiba nama saya dicancel. Tahun ini pun sama, tak ada info jelas, tiba-tiba sudah ada nama lain yang berangkat menggantikan, dan mereka yang dipanggil itu pun didatangi satu persatu dan tidak ada TC maupun pembinaan,” tutur Muslim lirih.
Di balik tutur halusnya, tersimpan getir. Kekecewaan bukan soal ambisi pribadi, tapi soal keadilan dalam memberi ruang bagi para juara yang telah menunjukkan bukti, bukan sekadar relasi.
Menurut Muslim, Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kepulauan Meranti seolah berjalan dalam sistem kedekatan emosional, bukan meritokrasi. Ada kecenderungan kuat bahwa nama-nama yang dikirim ke ajang provinsi dipilih bukan karena prestasi, tetapi karena relasi. Akibatnya, peserta-peserta potensial dari pelosok Kepulauan Meranti seperti dirinya harus gigit jari, meski telah menorehkan prestasi gemilang di tingkat daerah.
“Aneh saja, yang menggantikan kami bukan dari peserta cabang lomba yang sama. Bahkan tidak jelas apakah itu peserta MTQ sebelumnya atau binaan khusus. Kami ini seperti disingkirkan diam-diam, tanpa penjelasan,” ujar Muslim penuh kesedihan.
Apa yang dialami Muslim Alfatih bukan sekadar kisah pribadi. Ia adalah refleksi dari ketimpangan sistemik yang menggerogoti banyak lembaga pembinaan keagamaan lokal. MTQ, yang seharusnya menjadi ruang untuk menghimpun yang terbaik dari tiap daerah, perlahan tergerus oleh praktik-praktik nepotistik dan emosionalisme tak sehat.
Sebuah ironi besar, ketika di negeri yang menyebut Al-Qur’an sebagai panduan hidup, proses seleksi dan pembinaan justru jauh dari nilai keadilan dan keterbukaan.
Kisah Muslim menjadi cermin betapa pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola LPTQ Kepulauan Meranti. Pembinaan tidak bisa hanya bersandar pada “siapa yang dikenal,” melainkan “siapa yang pantas dan layak.”
Karena di balik lantunan ayat suci yang menggema di panggung MTQ, ada harapan dan perjuangan panjang dari anak-anak kampung. Mereka tak menuntut dipuja. Mereka hanya ingin kesempatan yang adil untuk memperjuangkan prestasi—dengan suara, hafalan, dan hati mereka yang telah lama ditempa bersama Al-Qur’an.
Muslim Alfatih bukan satu-satunya. Qori muda asal Kecamatan Tasik Putri Puyu itu hanya satu dari sekian juara MTQ tingkat kabupaten yang merasa dipinggirkan. Suaranya kini menjadi gema dari sekian banyak suara yang selama ini diam, terbungkam oleh sistem yang dianggap tak berpihak pada keadilan. Ia hanya bisa mengeluhkan kondisi ini di media sosial.
“Ini bukan cuma saya. Teman saya di cabang kaligrafi juga mengalami hal yang sama. Ia dan temannya juga Juara satu, tapi namanya diganti tanpa pemberitahuan. Bahkan ada dua orang dari kecamatan kami yang juara juga tidak dibawa. Di kecamatan lain juga begitu,” tutur Muslim membuka cerita yang lebih luas.
Kenyataan itu memunculkan pertanyaan besar: Apa makna juara jika tak diberi kesempatan mewakili daerahnya? Apakah kemenangan hanya formalitas, sementara panggung provinsi hanya milik mereka yang “sudah dikenal” oleh pengurus LPTQ?
Muslim mengaku heran. Ia dan kawan-kawannya berharap bisa dibimbing, diberikan pengalaman, dan dibina agar semakin matang. Namun harapan itu terhempas, tergantikan oleh nama-nama lama yang entah berdasarkan prestasi atau relasi.
“Heran saja kenapa LPTQ tidak mau membimbing dan memberikan kesempatan pengalaman untuk peserta baru seperti kami. Saya pun berpikir positif saja, mungkin LPTQ nya merasa ingin cari peserta yang lebih bagus makanya kami-kami ini tidak dibawa, tapi yang dibawa ternyata juga tidak juara. Bahkan harapan pun tidak. Lalu apa gunanya menyingkirkan kami?” ucap Muslim, getir.
Masalah klasik soal anggaran kembali disebut-sebut sebagai alasan minimnya pembinaan dan seleksi terbuka. Tapi bagi para peserta yang merasa dipinggirkan, alasan itu terasa seperti tameng untuk menutupi sistem yang tidak transparan dan tidak inklusif.
“Kami tidak kenal pengurus LPTQ. Tapi kelihatannya pembinaan itu hanya untuk peserta yang sudah lama dikenal. Kami, peserta baru, ya susah dapat kesempatan. Bahkan TC (training center) pun tidak ada. Panggilan hanya formalitas, setengah hari saja, lalu hilang begitu saja,” sambungnya.
Kondisi ini bukan baru. Menurut pengakuan Muslim, sudah banyak keluhan disampaikan bahkan langsung dari LPTQ kecamatan. Namun, kritik itu tak pernah digubris. Mereka yang bersuara seolah berbicara ke dinding.
“Katanya mereka ingin peserta yang bisa langsung dapat poin di provinsi. Tapi nyatanya, tahun ini Meranti turun ke peringkat 10. Sudah beberapa tahun terus menurun, tapi sistemnya tak berubah juga,” tutup Muslim.
Kisah Muslim dan teman-temannya mencerminkan buramnya tata kelola pembinaan MTQ di Kepulauan Meranti. Sebuah kegiatan keagamaan yang seharusnya menjadi panggung persaudaraan, prestasi, dan semangat Qur’ani, kini ternoda oleh praktik-praktik eksklusif yang tak berpihak pada para juara sejati.
Jika pola ini terus berlanjut, Meranti bukan hanya akan kehilangan prestasi, tapi juga kehilangan kepercayaan generasi muda yang telah mewakafkan waktunya demi Al-Qur’an.
Sudah waktunya perubahan dilakukan. Evaluasi total terhadap kepengurusan LPTQ menjadi harga mati. Karena MTQ bukan sekadar lomba. Ia adalah amanah, dan setiap nama yang diloloskan—harusnya dipilih dengan adil, jujur, dan transparan.
Dan semoga, suara Muslim Alfatih ini tidak berhenti sebagai keluhan di pinggiran, tapi menjadi nyala perubahan untuk masa depan pembinaan Qur’ani yang lebih bersih dan adil. (R-01)

