Dari Tanjung Samak ke Amerika: Hafizah Sri Rahayu Lestari Putri Sentuh Dunia dengan Predikat Suara Merdu dan Kualitas Bacaan Terbaik
Sri Rahayu Lestari Putri. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di balik lantunan merdu ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menggema di panggung Musabaqah Internasional di Amerika Serikat, terdapat sosok perempuan muda yang datang dari pulau kecil di perbatasan Indonesia, membawa cahaya iman dan ilmu dari tepian Selat Malaka.
Ia adalah Sri Rahayu Lestari Putri, hafizah asal Desa Tanjung Samak, Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Pada ajang bergengsi Musabaqah Hifzhil Qur’an Internasional cabang tahfizh 30 juz yang digelar di Minnesota, Amerika Serikat, Sri mewakili Indonesia dan membawakan hafalannya dengan penuh penghayatan, meski hasil akhir belum menempatkannya di posisi tiga besar.
"Alhamdulillah suatu kesyukuran bisa tampil di kancah internasional untuk yang kedua kalinya, bertemu dengan ahlul Qur’an dari berbagai negara. Semoga menjadi washilah bagi diri sendiri dan orang lain untuk terus mencintai Al-Qur’an hingga akhir hayat," ungkap Sri penuh haru.
Walau tidak meraih juara utama, Sri tetap mendapat pengakuan dalam kategori Qur’an Wanita oleh panitia American International Tebyan Competition for the Qur’an, atas kemerduan suara dan kualitas bacaannya.
Ini bukan panggung pertamanya. Tahun 2023 lalu, Sri juga menorehkan prestasi membanggakan di The 39th International Holy Qur’an Competitions of The Islamic Republic of Iran, dengan menduduki peringkat harapan satu, mengungguli peserta dari Arab Saudi, Turki, Afghanistan, hingga Liberia.
"Kami tidak menduduki peringkat 1, 2, ataupun 3. Tapi Alhamdulillah kami mendapat sertifikat atas bagusnya bacaan dan indahnya suara. Semoga ini menjadi pembelajaran terindah dan motivasi untuk terus belajar menjadi lebih baik," ujar Sri dengan ketulusan hati.
Perjalanan Sri bermula sejak kecil. Lahir pada 15 Agustus 1999, ia tumbuh bersama Al-Qur’an, menghafal dan mencintainya sejak dini. Kecintaannya itu membawanya menyelesaikan studi di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Kepulauan Riau, dan kini mengabdikan ilmunya sebagai pengajar di Baitul Qur’an Kota Batam.
Sri adalah potret perempuan Qur’ani masa kini—sederhana, tenang, namun berani melangkah jauh membawa nama bangsa. Dari pelosok desa di Kepulauan Meranti, ia berdiri di panggung dunia bukan hanya sebagai peserta lomba, tetapi sebagai simbol keilmuan, ketekunan, dan kehormatan perempuan Indonesia.
"Jika kita menjaga Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menjaga hidup kita," ucapnya mantap, seolah menegaskan bahwa semua pencapaiannya bukan sekadar kompetisi, melainkan bentuk pengabdian.
Di balik pencapaiannya, Sri tak lupa mengucapkan terima kasih kepada orang tua, para guru, keluarga besar, dan semua yang telah mendoakan dan mendukungnya.
"Masyaallah, Alhamdulillah. Berkat doa, support, dan bimbingan dari orang tua, guru-guru serta keluarga, dan semua yang terkasih. Kami mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya karena belum bisa mengharumkan nama Indonesia," ucapnya.
Kisah Sri Rahayu Lestari Putri adalah pengingat bahwa dari pulau kecil pun, seseorang bisa menebar cahaya ke seluruh dunia, selama ia setia pada ilmu, iman, dan cinta pada Al-Qur’an.
Meski namanya belum menghiasi headline besar, Sri adalah simbol bahwa suara Al-Qur’an dari ujung timur Selat Malaka mampu menggema hingga ke jantung dunia. Ia tak sekadar membawa dirinya, tapi juga membawa nama Kepulauan Meranti, Riau, dan Indonesia.
“Kalau kita menjaga Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menjaga hidup kita,” ucap Sri dengan suara lembut namun mantap. Kalimat itu menjadi cerminan keyakinannya dalam mengarungi perjalanan panjang sebagai penjaga ayat-ayat suci.
Bagi banyak orang, tampil di panggung internasional seperti ini bisa jadi beban besar. Namun tidak bagi Sri. Ia justru menjadikannya sebagai ladang amal dan pembuktian. Ketika keraguan muncul dari luar, ia memilih untuk yakin. Yakin pada hafalannya. Yakin pada proses. Yakin bahwa takdir membawanya ke sana bukan tanpa alasan.
Cabang tahfizh 30 juz—yang ia ikuti—adalah level tertinggi dan paling bergengsi dalam Musabaqah Qur’an. Persaingannya ketat, pesertanya tangguh. Tapi Sri menghadapi semua itu dengan ketenangan batin dan keikhlasan. “Saat tampil saya hanya perlu fokus agar bisa menjaga hafalan yang sudah Allah titipkan. InsyaAllah, kalau kita ikhlas dan bersungguh-sungguh, hasilnya akan baik,” ujarnya kalem.
Ia memang dikenal sebagai pribadi pendiam namun penuh daya juang. Anak bungsu dari tiga bersaudara ini sudah terbiasa hidup dalam ritme kesederhanaan dan disiplin. Selain menjaga hafalan, Sri juga rajin berolahraga dan punya hobi mendesain ruangan—dua hal yang membantu menjaga keseimbangan antara aktivitas spiritual dan duniawi.
Keterpilihannya mewakili Indonesia untuk kedua kalinya di panggung Musabaqah Internasional bukan hal yang tiba-tiba. Tahun 2023 lalu, Sri lebih dulu menorehkan prestasi sebagai juara harapan satu dalam The 39th International Holy Qur’an Competition di Iran.
Namun, Sri tidak berhenti pada pencapaian itu. Ia terus memperbaiki diri. Mengasah tajwid. Menguatkan hafalan. Menyempurnakan tilawah. Hingga akhirnya namanya kembali dipanggil untuk membawa nama Indonesia ke Amerika.
“Alhamdulillah, saya bersyukur bisa kembali ikut serta dalam musabaqah internasional. Ini keinginan saya sejak dulu, dan menjadi tanggung jawab besar karena membawa nama bangsa Indonesia,” ucapnya.
Bagi Sri, keikhlasan adalah kekuatan utama. Ia tak menuntut sorotan. Ia hanya ingin mengalirkan cahaya Al-Qur’an ke mana pun ia melangkah. Dan dari desa kecil di pesisir Riau, ia kini menjadi duta iman dan ilmu di panggung dunia.
Semoga langkah Sri Rahayu di Minnesota menjadi saksi, bahwa dari desa terpencil pun, jika tekad dan doa menyatu, suara Al-Qur’an mampu menggema hingga ke penjuru dunia.
Bagi Sri, menjadi wakil Indonesia di ajang Musabaqah Hifzhil Qur’an Internasional di Minnesota, Amerika Serikat, bukan hanya soal membawa nama bangsa. Tapi juga membawa nama desa kecilnya, membawa suara pulau terpencil nya, dan membuktikan bahwa siapa pun, dari mana pun, jika menjaga Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh, akan dijaga dan ditinggikan oleh-Nya.
Sri adalah cermin bahwa keagungan tak selalu datang dari tempat megah. Terkadang, ia tumbuh dari kesederhanaan, dibesarkan oleh keyakinan, dan mengakar kuat di tanah yang jauh, namun mampu memberi cahaya ke seluruh penjuru dunia.
Kini, Sri bukan sekadar hafizah dari desa pesisir. Ia adalah wajah dari generasi Qur'ani Indonesia yang membuktikan bahwa asal-usul bukan batas, dan bahwa lantunan ayat suci bisa menjembatani seseorang dari tepi lautan menuju panggung dunia. Ia membawa lebih dari sekadar hafalan; ia membawa harapan. Harapan bahwa dari pulau kecil di Riau, suara Al-Qur’an bisa menggema ke seluruh penjuru dunia. (R-01)

