Ketika Kepedulian YBM PLN Menyapa Anak-Anak Pulau: Khitanan Massal untuk Generasi Sehat di Perbatasan
Kegiatan sunatan massal yang digagas oleh Yayasan Baitul Mal (YBM) PLN UP3 Dumai, bekerja sama dengan PLN ULP Selatpanjang dan jajaran mitra di daerah. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di tengah hiruk-pikuk aktivitas di pelosok Kabupaten Kepulauan Meranti, ada senyum malu-malu yang terselip dari wajah-wajah mungil anak-anak desa dan deretan anak-anak bersarung yang duduk rapi bersama orang tua mereka. Kamis pagi (3/7/2025), bukan hari biasa bagi 52 anak dari Kecamatan Tebingtinggi dan Rangsang Barat.
Hari itu, mereka menjadi bagian dari kegiatan sunatan massal yang digagas oleh Yayasan Baitul Mal (YBM) PLN UP3 Dumai, bekerja sama dengan PLN ULP Selatpanjang dan jajaran mitra di daerah.
Di Selatpanjang, tepatnya di kantor ULP PLN, suasana dipenuhi tawa dan debar yang menyatu. Sementara di Pos Bhabinkamtibmas Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, anak-anak dari desa-desa pesisir berkumpul, ditemani orang tua dan para relawan. Dalam kesederhanaan, tersimpan kepedulian yang mendalam dan bagaimana satu program kecil bisa berdampak besar bagi masa depan anak-anak perbatasan.
Program bertajuk “Wujudkan Kepedulian untuk Membentuk Generasi Muslim yang Bersih dan Sehat” ini menyasar anak-anak dari keluarga prasejahtera. Sebanyak 26 anak di Selatpanjang dan 28 anak di Desa Bokor ikut serta, meski dua di antaranya berhalangan hadir. Mereka datang dari berbagai pelosok, membawa harapan, dan pulang dengan semangat baru.
YBM PLN tak hanya hadir sebagai lembaga, tapi sebagai tangan kasih yang menjangkau anak-anak negeri. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), PLN ingin memastikan bahwa syariat Islam seperti khitan tidak lagi menjadi beban bagi keluarga yang kurang mampu. Lebih dari sekadar kewajiban agama, sunat juga menjadi investasi kesehatan jangka panjang.
Kegiatan ini tidak hanya melibatkan PLN dan tim medis, tapi juga menggandeng unsur Forkopimcam. Hadir di lokasi, Ketua YBM PLN UP3 Dumai Ahmad Ruziko, Manager ULP Selatpanjang Dalie Priasmoro, Anggota DPRD Dapil 2 Sopandi, Camat Rangsang Barat, Kapolsek Ipda Menara, Kepala Desa Bokor Irianto, hingga Bhabinkamtibmas Desa Bokor, Aipda Ashobirin yang juga dikenal sebagai polisi yang aktif mengabdi di tengah masyarakat.
Sementara itu, dari balik layar kegiatan, para orang tua terlihat lega. Tak sedikit dari mereka yang sebelumnya khawatir dengan biaya sunat yang kini tak lagi mereka pikul sendiri. Bagi mereka, ini bukan hanya soal sunatan, tapi tentang bagaimana negara dan perusahaan hadir memberi solusi dalam hal-hal kecil yang bermakna besar.
Saat hari mulai merangkak siang, anak-anak pulang dengan hadiah kecil, obat, dan senyum. Beberapa memegang tangan orang tuanya, beberapa lainnya digendong, namun semuanya membawa pengalaman tak terlupakan—hari ketika mereka menjadi bagian dari perubahan, hari ketika mereka disambut oleh tangan-tangan yang peduli.
Di Kepulauan Meranti, sunatan massal ini mungkin hanya berlangsung satu hari. Namun semangat dan jejaknya, akan hidup lama di hati anak-anak yang pernah disapa cahaya kepedulian dari PLN.
Yang membuat acara ini istimewa bukan sekadar khitan massal, tapi bagaimana pelaksanaannya ditangani secara profesional oleh tim medis, memastikan seluruh prosedur dilakukan secara aman, steril, dan manusiawi.
Dan lebih dari itu, para peserta tak pulang dengan tangan kosong. Masing-masing anak mendapatkan uang saku, perlengkapan sekolah, alat shalat, tas, dan santunan tunai sebesar Rp100 ribu. Sebuah paket yang sederhana namun sarat makna. Ini bukan sekadar hadiah, tapi bentuk perhatian yang mungkin jarang mereka dapatkan di hari-hari biasa.
Dalam kesempatan itu, Manager ULP Selatpanjang, Dalie Priasmoro, menjelaskan latar belakang kegiatan ini. Ia mengatakan YBM PLN merupakan lembaga yang mengelola zakat dari potongan penghasilan pegawai PLN setiap bulannya.
Dimana, zakat tersebut disalurkan kembali untuk berbagai kegiatan, salah satunya adalah khitan massal yang masuk ke dalam pilar kesehatan YBM.
“YBM PLN adalah lembaga yang mengelola zakat dari potongan penghasilan pegawai PLN setiap bulannya. Zakat itu kami salurkan kembali dalam bentuk kegiatan sosial seperti hari ini. Khitanan ini adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan insya Allah memiliki banyak keutamaan, termasuk dari sisi kesehatan," ujarnya.
YBM PLN memang memiliki beberapa pilar program, dan kegiatan khitan ini masuk dalam pilar kesehatan. Tapi lebih dari sekadar pilar program, yang dilakukan ini adalah bentuk nyata bahwa PLN hadir bukan hanya sebagai penyedia listrik, tetapi juga penerang harapan bagi masyarakat terpencil.
Ahmad Ruziko, Ketua YBM PLN UP3 Dumai, menambahkan bahwa kegiatan ini bersumber dari infaq pegawai PLN. Ia menekankan bahwa ini adalah gerakan bersama para pegawai yang ingin memberikan manfaat lebih luas untuk masyarakat.
“Sunatan massal ini adalah bentuk kepedulian kami sebagai sesama muslim. Dana ini berasal dari iuran pegawai PLN, yang kemudian kami salurkan untuk kegiatan sosial,” ujar Ahmad.
"Ini bentuk tanggung jawab sosial kami untuk membantu masyarakat, terutama anak-anak dari keluarga kurang mampu, agar bisa menjalankan syariat agama sekaligus menjaga kesehatan. Selain khitan, kami juga rutin memberikan santunan anak yatim, bantuan sosial, serta kegiatan sedekah lainnya," tuturnya lagi.
Ia berharap, kegiatan khitanan massal ini bisa memberi dampak positif bukan hanya secara fisik bagi anak-anak, tapi juga secara mental dan spiritual.
“Mudah-mudahan anak-anak ini bisa tumbuh sehat, cerdas, dan menjadi generasi yang bertaqwa,” tuturnya.
Tak hanya pihak PLN yang terharu atas antusiasme warga. Kepala Desa Bokor, Iriyanto, juga menyampaikan apresiasi mendalam. Ia menyebut kegiatan ini bukan hanya meringankan beban warga, tapi juga mengangkat martabat masyarakat pulau.
“Kami sangat berterima kasih kepada YBM PLN dan seluruh pihak yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Semoga perhatian PLN ke depan juga menyentuh hal-hal mendasar lainnya, termasuk akses dan ketersediaan listrik bagi masyarakat kami,” ujar Iriyanto.
Wajah-wajah kecil yang semula takut kini berubah ceria. Tangan-tangan kecil mereka menggenggam erat tas baru dan perlengkapan shalat. Di mata mereka, khitanan ini bukan hanya tentang sunah Nabi, tapi juga pengalaman pertama mereka disambut oleh lembaga besar dengan penuh kasih.
Di balik kegiatan ini, terselip nilai bahwa bentuk pelayanan masyarakat sejati tak harus megah. Kadang, cukup menyentuh hati anak-anak desa yang selama ini hanya menunggu dalam diam. Hari itu, di Meranti, PLN dan masyarakat bersatu dalam kepedulian.
Dan di sana, di antara teriakan kecil anak-anak yang disunat dan peluh panitia yang tak kenal lelah, ada cahaya yang menyala—bukan dari tiang listrik, tapi dari doa yang diaminkan bersama dan semoga kepedulian ini menjadi berkah dan inspirasi, bagi yang memberi dan yang menerima. (R-01)

