Dari Pulau Teras NKRI, Literasi Disemai Lewat Semangat Seorang Polisi : Aipda Ashobirin Terima 1.000 Buku dari Perpusnas
Aipda Ashobirin. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di ujung utara Provinsi Riau, tepatnya di Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, pulau yang menjadi benteng terakhir di Selat Melaka dan teras. NKRI ini berdiri sebuah pos yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai Pos Bhabinkamtibmas—tempat aparat kepolisian menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Namun hari ini, tempat itu menjelma menjadi oase pengetahuan dan literasi digital bagi anak-anak pulau terpencil.
Semuanya berawal dari tekad seorang bhabinkamtibmas bernama Aipda Ashobirin. Ia tidak ingin sekadar menjalankan tugas sebagai penjaga kamtibmas. Ia melihat lebih dalam: bahwa ketertiban sosial dan keamanan jangka panjang hanya bisa dibangun lewat pengetahuan dan pendidikan. Maka, ia pun mengubah fungsi pos jaga menjadi ruang belajar dan pusat literasi bagi anak-anak di desa itu.
Kini, dengan dukungan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kepulauan Meranti serta bantuan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Pos Bhabinkamtibmas Bokor menerima 1.000 buku bacaan dan rak pustaka sebagai bagian dari program Pustaka Digital.
“Pos Bhabinkamtibmas ini bukan hanya sekadar menjaga situasi kamtibmas, tapi juga tempat edukasi masyarakat—khususnya anak-anak—dalam bidang literasi digital dan pengetahuan umum,” ujar Aipda Ashobirin, atau yang akrab disapa Birin.
Dijelaskan Birin dengan hadirnya 1.000 buku bacaan, masyarakat dan anak-anak di Desa Bokor kini memiliki akses yang lebih mudah terhadap bahan bacaan bermutu. Keberadaan taman baca ini diharapkan membawa berbagai manfaat dan diharapkan dapat semakin memudahkan akses masyarakat, untuk memperluas cakrawala pengetahuan.
"Tentunya dengan ketersediaan buku yang sudah banyak ini bisa meningkatkan minat baca, menyediakan akses mudah ke buku dan bahan bacaan bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Selain itu, tentu meningkatkan kemampuan literasi, dan membantu meningkatkan pemahaman bacaan dan kemampuan literasi dasar,” terangnya
Setiap hari, pos kecil itu kini dipenuhi oleh suara anak-anak yang membaca, tertawa, dan belajar. Mereka datang setelah pulang sekolah atau di akhir pekan, sebagian besar tanpa diminta. Di sana mereka belajar membaca, menulis, bahkan menggunakan komputer dan internet dasar—kemewahan yang sebelumnya tak pernah mereka sentuh.
“Kami ingin anak-anak di pulau terluar ini tidak tertinggal dalam hal literasi dan teknologi. Mereka juga punya hak untuk belajar dan berkembang seperti anak-anak lain di perkotaan,” ucap Birin sambil menunjukkan beberapa komputer dan buku yang kini menghiasi sudut ruangan.
Tak sekadar bacaan hiburan, buku-buku yang tersedia merupakan Bahan Bacaan Bermutu (BBB)—dari buku cerita anak, pengetahuan umum, agama, hingga keterampilan praktis. Beberapa buku digital juga tersedia dalam perangkat yang bisa diakses anak-anak secara bergantian.
Program ini tak hanya memberikan akses literasi, tetapi juga membangkitkan kepercayaan diri anak-anak dan memperluas wawasan mereka. Berbagai kegiatan seperti kelas membaca, lokakarya komputer, sesi bimbingan belajar, hingga diskusi mingguan membuat tempat ini lebih dari sekadar taman baca—ia menjadi pusat pertumbuhan karakter dan mimpi.
Menurut Birin, kehadiran buku dan akses informasi di desa pesisir seperti Bokor memiliki dampak yang luar biasa. “Meningkatkan minat baca, memberikan akses mudah ke informasi, dan memperkuat kesadaran pendidikan adalah langkah awal dari perubahan besar,” katanya.
Lebih dari itu, Pos Literasi ini menjadi ruang interaksi generasi muda dengan masyarakat, tempat bertukar ide, serta menumbuhkan kreativitas dan imajinasi.
Program literasi ini merupakan bagian dari visi besar “Indonesia Emas”, yang salah satu pilarnya adalah meningkatkan akses literasi di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Desa Bokor termasuk dalam wilayah yang secara geografis sulit dijangkau, namun penuh semangat dan potensi.
“Literasi adalah fondasi dari peradaban. Ketika anak-anak kami mampu membaca, memahami, dan berpikir kritis, maka mereka sedang membangun masa depan desa ini, bahkan bangsa ini,” tambah Birin dengan mata berbinar.
Dengan fasilitas yang kini tersedia, masyarakat Bokor mulai merasakan manfaat nyata. Ibu-ibu rumah tangga juga kadang datang untuk membaca buku parenting atau memasak. Para pemuda belajar desain sederhana dan presentasi.
Jejak pengabdian Aipda Ashobirin menjadi bukti bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari pusat. Dari sebuah pos kecil di pelosok Meranti, api semangat itu menyala, menular ke anak-anak yang mulai percaya bahwa dunia lebih luas dari sekadar batas pulau mereka.
Pos Bhabinkamtibmas Desa Bokor kini bukan hanya tempat menjaga keamanan, tapi tempat menyalakan harapan. Dan siapa sangka, semua itu dimulai dari satu niat tulus, dan satu orang yang tak ingin membiarkan anak-anak tumbuh tanpa buku.
Karena di mata Aipda Ashobirin, literasi adalah keamanan jangka panjang—yang menjamin ketertiban, peradaban, dan masa depan.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kepulauan Meranti, Atan Ibrahim yang telah berkunjung melihat fasilitas Pos Bhabinkamtibmas yang berbasis Informasi Teknologi (IT) itu mengapresiasi atas dibentuknya Pustaka digital di Pos Bhabinkamtibmas Desa Bokor, karena telah berperan mengembangkan perpustakaan sebagai pusat pengembangan pendidikan anak-anak pulau terluar.
"Kami merasa bangga atas dibangunnya Pos Bhabinkamtibmas dengan berbasis literasi digital ini, karena masyarakat sekarang sangat membutuhkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan wawasan," ungkap Atan.
Atan Ibrahim mengatakan, pihaknya sempat terpikir untuk membuat Pustaka Literasi Digital, namun ternyata inovasi tersebut sudah diwujudkan oleh Polsek Rangsang Barat di Pos Bhabinkamtibmas Desa Bokor.
"Semoga Pos Bhabinkamtibmas Desa Bokor ini dapat dikelola dengan baik sehingga pos ini dapat menjadi pusat literasi digital anak-anak pulau terluar. Kami Dinas Perpustakaan dan Kearsipan siap bekerjasama," ujar Atan Ibrahim. (R-01)

