Menyulam Masa Depan dari Rongsokan: Kisah Keluarga Pemulung di Selatpanjang, Sekolahkan Tiga Anak hingga Kuliah
Kisah Keluarga Pemulung di Selatpanjang. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di sudut sepi Jalan Utama Ujung, Kelurahan Selatpanjang Kota, Kecamatan Tebing Tinggi, Kepulauan Meranti, di sebuah lorong kecil dan di balik rerimbun semak yang jarang tersentuh, berdiri sebuah rumah reyot yang nyaris roboh. Tak ada pagar, tak ada cat, hanya papan-papan lapuk yang menyangga atap yang mulai merunduk. Di halaman, barang-barang bekas dan rongsokan berserakan—terlihat seperti tak berpenghuni.
Namun siapa sangka, di dalam gubuk itu hidup sebuah keluarga yang penuh kasih dan kehangatan. Mereka adalah Hasim Kan (57) dan Afrida Yanti (50), pasangan suami istri yang setiap harinya berjibaku dengan kerasnya hidup sebagai pemulung. Bersama lima anak perempuannya yakni Sri Indra Pertiwi (27), Gustina Hidayat Idhofi (21), Zaenul Juminah (18), Zuhiyusriyah (16), dan Zuriyati Barirah (8). Hasim dan Afrida menenun cerita kehidupan yang sederhana, namun kaya akan ketabahan dan syukur.
Ketika media datang berkunjung, Hasim dan Afrida menyambut hangat, menyalami dengan ramah, senyuman mereka seolah menyembunyikan beratnya kehidupan.
"Pekerjaan saya dari dulu memang begini, ngumpul barang bekas. Pendapatan per hari sangat kurang, kadang dapat, kadang tidak,"
ujar Hasim sambil tersenyum.
"Tapi ya mau tak mau, dicukup-cukupkan saja. Yang penting tiap hari bisa makan," lanjutnya dengan nada pasrah namun ikhlas.
Gubuk mereka, meski tak layak disebut rumah, menjadi tempat bernaung yang penuh canda dan tawa lima putrinya. Mereka tumbuh dalam keterbatasan dan saat tidur harus berdesak-desakan, namun tetap punya mimpi. Di sela timbunan plastik, besi tua, dan kardus, Hasim menyimpan harapan—agar anak-anaknya kelak bisa hidup lebih baik, mengenyam pendidikan, dan keluar dari lingkaran kemiskinan.
Afrida, sang istri, menambahkan bahwa apa yang mereka jalani bukanlah sesuatu yang mudah. Bertahun-tahun dengan kondisi rumah yang hampir roboh di tanah milik orang dengan status sewa. Mereka belum punya lahan sendiri dan saat ini hanya bisa nyicil.
"Kadang hujan deras, atap bocor, kami basah semua. Tapi tetap bersyukur, karena masih ada tempat berteduh," ucapnya, sambil menatap lembut anak-anaknya yang duduk berdesakan di ruang sempit.
Setiap pagi, Hasim dan Afrida memulai hari lebih awal dari kebanyakan orang. Mereka menyusuri lorong-lorong kota, memungut apa saja yang bisa dijual. Hasil dari memulung itulah Hasim memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
"Kami tidak minta banyak, cuma ingin anak-anak bisa terus sekolah dan melanjutkan pendidikan," kata Hasim.
Kisah keluarga ini bukan sekadar potret kemiskinan, tapi juga tentang daya tahan, kerja keras, dan cinta yang tumbuh di tempat yang tak banyak orang sudi memandang. Di tengah tumpukan rongsokan, mereka membangun harapan, menanam semangat, dan menjaga kebersamaan.
Mereka tidak minta dikasihani. Mereka hanya ingin dilihat, didengar, dan diberi kesempatan untuk tetap hidup layak. Karena di balik rumah yang nyaris roboh itu, ada keluarga kecil yang tak pernah menyerah—mengajarkan bahwa bahagia tak harus selalu tinggal di istana.
Meskipun hidup dalam keterbatasan. Berprofesi sebagai pemulung, dimana mereka hanya mengandalkan sisa-sisa dari kehidupan kota untuk menyambung hidup. Namun dari tangan yang terbiasa memungut rongsokan, lahir anak-anak yang memungut harapan, mengumpulkan ilmu, dan membangun masa depan dari lembar demi lembar buku pelajaran.
Dari lima anak perempuan yang mereka miliki, tiga di antaranya kini tengah mengejar gelar sarjana. Anak pertama mereka, Sri Indra Pertiwi, menempuh pendidikan di Universitas Terbuka dengan jurusan Ilmu Pemerintahan dan tak lama lagi akan diwisuda. Anak kedua, Gustina Hidayat Idhofi, kini duduk di semester lima pada jurusan Administrasi Bisnis. Keduanya mendapatkan nilai bagus. Sedangkan anak ketiga, Zaenul Juminah, baru saja lulus seleksi masuk Universitas Riau dan mengambil jurusan Manajemen Keuangan.
Di tengah segala keterbatasan, mereka tak menyerah. Ketiganya menjalani kuliah sembari bekerja di minimarket demi menanggung sebagian biaya hidup mereka sendiri.
“Meskipun dalam ekonomi terbilang kurang mampu, saya harus berusaha bisa menguliahkan anak itu meskipun harus gali lubang tutup lubang. Semangat anak-anak juga kuat, kita hanya memberikan dorongan dan motivasi saja,” ujar Hasim dengan mata yang berbinar haru.
Hasim sendiri pernah merasakan pahitnya impian yang pupus. Ia mengisahkan masa mudanya di Lombok, ketika semangat untuk kuliah harus kandas karena tak punya biaya.
“Saya terus terang gagal kuliah, duit tak ada sehingga tidak dimasukkan oleh orang tua saya. Waktu itu saya sangat kecewa, makanya saya merantau dari Lombok,” tuturnya pelan.
Namun dari kegagalan itu, Hasim memahat tekad. Ia tidak ingin sejarah pahitnya terulang pada generasi berikutnya.
“Saya tak ingin ini terjadi pada anak saya. Makanya saya tekankan anak harus sekolah tinggi. Karena cari kerja sekarang susah, dan kalau bisa harus lebih. Jangan kayak saya, cukup saya saja yang kecewa,” ungkapnya, penuh tekad.
Di tengah fenomena lulusan perguruan tinggi yang masih banyak menganggur, Hasim justru punya pandangan yang berbeda.
“Kalau sekarang kuliah banyak tak dapat kerja, itu tidak jadi masalah. Sekurang-kurangnya wawasannya lebih tinggi dari yang tidak sekolah dan kuliah. Pengetahuan itu paling penting, terlepas dia dapat kerja apa nantinya,” katanya dengan yakin.
Untuk anaknya yang kini akan menempuh pendidikan di luar daerah, Hasim hanya bisa berserah kepada yang Maha Kuasa. Ia sadar, tidak semua bisa ditanggung oleh negara. Namun baginya, harapan tidak boleh pupus hanya karena tak punya uang.
“Kalau biaya kuliah sudah ditanggung pemerintah. Namun untuk biaya hidup, kita tawakal saja kepada Allah. Barang siapa yang bersungguh pasti ada jalan. Anak-anak juga sudah terbiasa dan bisa untuk memenuhi keperluannya sendiri. Saya hanya memberikan dorongan positif kepada mereka. Soal kondisi ekonomi ini kita ketepikan dulu dan tidak jadi penghalang. Yang penting kita semangat, dan itu pasti ada jalan,” tuturnya, menutup percakapan dengan penuh keyakinan.
Di rumah yang hampir roboh itu, Hasim dan Afrida tidak hanya membesarkan anak, tapi juga membesarkan harapan. Mereka membuktikan, bahwa pendidikan bukan hanya milik mereka yang berkecukupan. Selama masih ada kemauan dan tekad, bahkan dari tumpukan rongsokan pun bisa tumbuh mimpi yang menjulang.
Zaenul Juminah: Dari Gubuk Rongsokan, Menjadi Pemimpi Besar yang Tak Kenal Menyerah
Di tengah keterbatasan dan kondisi hidup yang jauh dari kata ideal, seorang anak muda dari tepian kota Selatpanjang, membuktikan bahwa mimpi tidak pernah mengenal batas. Namanya Zaenul Juminah. Lahir dari keluarga pemulung, tumbuh dalam gubuk sederhana yang nyaris roboh, dan dikelilingi rongsokan—namun justru dari sanalah ia menemukan nyala semangat yang membawanya hingga ke bangku kuliah.
Kini, Zaenul tengah mempersiapkan diri untuk mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Riau, berkat program beasiswa Bidikmisi, atau yang kini dikenal sebagai Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Berkat beasiswa ini, biaya kuliah bukan lagi menjadi beban utama dalam langkahnya meraih cita-cita.
"Jangan bunuh mimpimu karena faktor ekonomi, karena siapapun bisa menjadi apapun. Semakin tinggi mimpi yang kamu punya, semakin tinggi pencapaian yang akan kamu dapat. Yang penting dan paling utama adalah niat. Ayah mengajarkan bahwa kondisi ekonomi tidak menjadi penghalang," ucap Zaenul dengan suara yang penuh keyakinan.
Ayahnya, Hasim Kan, yang setiap hari memulung sampah demi menyambung hidup, adalah inspirasi terbesarnya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana sang ayah tetap gigih menyekolahkan kelima anak perempuannya, meski hidup dari hasil yang tak seberapa. Bagi Zaenul, keteladanan itu adalah bahan bakar mimpi-mimpinya.
Sejak duduk di bangku SMA, Zaenul sudah menunjukkan kecemerlangannya. Ia terus meraih peringkat terbaik di kelas, membuktikan bahwa ketekunan dan semangat belajar bisa mengalahkan segala keterbatasan.
“Alhamdulillah, sejak kelas satu sudah mendapatkan juara kelas dan terus mendapatkan rangking terbaik. Saat lulus pun, saya memperoleh nilai paling tinggi di sekolah,” kenangnya bangga.
Namun jalan menuju mimpi itu tidak selalu mulus. Di kelas dua SMA, Zaenul mulai bekerja sebagai kasir di minimarket untuk membantu keuangan keluarga dan menabung demi bekal kuliah. Rutinitasnya luar biasa dimana pagi sekolah, malam bekerja, lalu belajar sebelum tidur.
“Saya kerja sejak kelas dua, jadi kasir. Saat pulang kerja saya pastikan buku pelajaran tersusun dan jika ada tugas diselesaikan dulu baru tidur. Bahkan jam istirahat di sekolah saya manfaatkan untuk mengerjakan tugas,” ujarnya, mengenang masa-masa berat yang justru mengasah mental dan daya juangnya.
Ia menyadari sepenuhnya bahwa keluarganya tidak bisa sepenuhnya membiayai pendidikan tinggi. Namun, ia tidak memilih menyerah. Sebaliknya, ia menyiapkan dirinya dengan belajar, bekerja, dan tetap menjaga asa.
“Saya kerja untuk ngumpul uang agar bisa jadi bekal untuk kuliah. Uangnya saya tabung. Saya tahu kondisi keluarga tidak memungkinkan untuk membiayai semuanya, tapi semangat harus ada,” tutur Zaenul dengan mata berbinar.
Meskipun berasal dari jurusan IPA, ketertarikan Zaenul justru tertuju pada dunia bisnis. Ia punya impian besar menjadi pengusaha sukses dan memiliki perusahaannya sendiri.
“Saya waktu sekolah jurusannya IPA, tapi saya dominan ke bisnis dan jati diri saya sepertinya ke sana. Cita-citanya, saya ingin jadi CEO dan pemilik perusahaan sendiri,” pungkasnya penuh percaya diri.
Zaenul Juminah adalah cermin dari generasi muda yang tak menyerah pada takdir. Ia membuktikan bahwa dengan tekad, kerja keras, dan sedikit keberuntungan dari tangan-tangan yang mau membantu, siapa pun bisa meniti jalan dari semak-semak rongsokan menuju panggung prestasi. Ia bukan hanya inspirasi bagi anak-anak dari keluarga miskin, tapi juga bagi semua orang yang sedang mempertanyakan apakah mimpi mereka masih layak diperjuangkan.
Karena mimpi, seperti kata Zaenul, tidak mengenal ekonomi. Ia hanya menuntut satu hal yakni keyakinan. (R-01)

