Rakernas XIII PGLII: Teguhkan Komitmen Injili, Hadirkan Strategi Nyata untuk Gereja dan Bangsa
Rapat Kerja Nasional XIII PGLII di Rizen Premier Hotel, Cisarua, Bogor. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWE, Cisarua – Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) sukses menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XIII pada 9–11 Juni 2025 di Rizen Premier Hotel, Cisarua, Bogor.
Mengusung tema besar “Teguh Berpegang pada Alkitab dan Memberitakan Injil serta Berperan dalam Mengembangkan Kualitas Moral dan Peri Kemanusiaan Bangsa,” Rakernas ini menjadi momentum strategis untuk konsolidasi nasional kaum Injili serta peneguhan arah pelayanan PGLII periode 2025–2029.
Apresiasi Pemerintah atas Kontribusi Gereja Injili
Rakernas XIII dibuka secara resmi oleh Direktur Urusan Agama Kristen Kementerian Agama RI, Dr. Amsal Yowei, S.E., M.Pd.K., yang mewakili Dirjen Bimas Kristen. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi kontribusi PGLII dalam membangun kehidupan keagamaan yang inklusif dan berdampak.
“Dengan semangat sola scriptura dan dedikasi pelayanan, gereja-gereja dan lembaga Injili menjadi mitra strategis dalam membangun Indonesia yang rukun, adil, dan beradab,” tegas Dr. Yowei.
Pembukaan Rakernas ditandai dengan pemukulan gong tiga kali oleh Dr. Yowei, didampingi oleh Ketua Umum PGLII Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th. dan Ketua Majelis Pertimbangan Pdt. Dr. Ronny Mandang, M.Th.
Refleksi Visi dan Arah Strategis Pelayanan 2025–2029
Ketua Umum PGLII, Pdt. Tommy Lengkong, dalam kotbah pembukaan, menegaskan bahwa Alkitab adalah otoritas tertinggi bagi orang percaya, dan nilai-nilai firman Tuhan harus menjadi dasar pembangunan moral bangsa. Ia mengutip Amsal 14:34, “Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa.”
Sementara itu, arahan strategis dari Ketua II PGLII Pdt. Anton Tarigan yang disampaikan secara daring dari Seoul menekankan pentingnya kolaborasi dan perencanaan sistem pendanaan yang berkelanjutan.
“Tidak ada satu lembaga pun yang mampu menjalankan panggilan Injili secara mandiri. Kolaborasi adalah keniscayaan,” ujarnya.
Pandangan kritis juga disampaikan oleh Prof. Dr. F. Irwan Widjaja, Ph.D., yang menyoroti tantangan aktual seperti dinamika generasi muda, perkembangan digital, hingga kesenjangan sosial. Ia mendorong gereja untuk menghadirkan pelayanan yang inovatif dan menjangkau ruang publik secara lebih aktif.
Keputusan-keputusan Strategis Rakernas XIII
Rakernas XIII menghasilkan sejumlah keputusan penting yang menunjukkan keseriusan PGLII dalam menjawab tantangan zaman dan memperkuat pelayanannya:
1. Penguatan Kaderisasi Melalui Sentra Generasi Injili
Sebagai upaya regenerasi, PGLII memfokuskan program kaderisasi kepemimpinan muda melalui wadah Sentra Generasi Injili, guna membentuk pemimpin-pemimpin yang berintegritas dan berkomitmen terhadap Injil.
2. Pembentukan Task Force Kemanusiaan untuk Papua
Menyikapi situasi kemanusiaan di Papua, Rakernas memutuskan pembentukan tim kerja khusus yang bertugas menanggapi persoalan sosial dan memberi kontribusi nyata dalam penyembuhan luka bangsa melalui pendekatan kasih, keadilan, dan perdamaian.
3. Pembangunan Kantor Pusat PGLII di Ibu Kota Nusantara (IKN)
Menunjukkan kesiapan beradaptasi dengan dinamika nasional, PGLII menetapkan pembangunan kantor pusat di IKN sebagai bentuk partisipasi aktif dalam era baru pemerintahan nasional.
4. Konsolidasi Organisasi dan Penguatan Visi
Rakernas ini juga menjadi forum untuk meneguhkan dan mendoakan Pengurus Lengkap PGLII periode 2025–2029 oleh Majelis Pertimbangan. Garis-garis besar program PGLII telah dituangkan dalam rencana kerja strategis untuk lima tahun mendatang.
Sesi pleno pada hari terakhir menjadi ruang terbuka bagi peserta untuk memberi masukan terhadap arah kebijakan dan keorganisasian. Isu mengenai hak suara dalam Munas XIII PGLII di Balikpapan juga mendapat penjelasan langsung dari Ketua Umum yang menegaskan bahwa seluruh mekanisme mengacu pada AD/ART.
5. Menuju Transformasi Bangsa Melalui Spirit Injili
Dengan berakhirnya Rakernas XIII, PGLII meneguhkan komitmennya untuk terus menjadi wadah persekutuan gereja dan lembaga Injili yang tegak dalam asas kebenaran firman Tuhan, sekaligus menjadi agen transformasi moral bangsa Indonesia.
Sebagaimana disampaikan dalam pernyataan penutup oleh Ketua Umum Pdt. Tommy O. Lengkong dan Sekretaris Umum Pdt. Prof. Dr. Daniel Ronda, PGLII percaya bahwa Injil bukan hanya untuk diberitakan di mimbar, tetapi dihidupi dalam kehidupan bermasyarakat. (R-03)

