Parah Nih! Pipa Minyak PT Bumi Siak Pusako Bocor Lagi di Kilometer 53, Pertanda Buruknya Pengamanan Instalasi
Lalu lintas di Kilometer 53 terganggu akibat pipa minyak PT Bumi Siak Pusako (BSP) bocor pada Minggu (1/6/2025) kemarin. Foto: Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Drama bocornya pipa minyak milik PT Bumi Siak Pusako (BSP) tak henti-hentinya terus berlanjut. Yang terbaru, pipa minyak Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang saham terbesarnya dimiliki oleh Pemkab Siak ini, bocor di Kilometer 53 pada Minggu (1/6/2025) kemarin malam.
Kasus ini hanya berselang 4 hari setelah pipa bocor juga terjadi di dekat Simpang Pelabuhan Buton, Kecamatan Sungai Apit pada Rabu 28/5/2025) lalu.
Kabar pecahnya pipa milik PT BSP ini tersiar lewat sejumlah video yang beredar, Minggu malam kemarin. Terlihat, dalam suasana kegelapan malam, cairan diduga minyak mentah tercecer di badan jalan.
Sebuah truk tampak berhenti menyilang, membelakangi pipa yang bocor. Diduga, pipa tersebut terseruduk oleh truk tersebut hingga bocor, namun belum diketahui secara pasti apa penyebab bocornya minyak.
"Harap berhati-hati teman-teman. Ada kebocoran pipa di Kilometer 53. Kurangi kecepatan," demikian narasi dalam video tersebut.
Belum ada penjelasan manajemen PT BSP atas kembali bocornya pipa minyak mereka. Namun, kejadian ini seolah menunjukkan buruknya pengamanan instalasi vital tersebut.
Kasus bocornya pipa milik PT BSP bukan kali pertama terjadi. Namun, sejak dua tahun lalu, rangkaian peristiwa pipa bocor terus menerpa PT BSP memicu potensi kerugian besar negara dan BUMD. Efek yang terbesar, lifting minyak dari ladang minyak Coastal Plains and Pekanbaru (CPO Block) yang dikelola PT BSP tergerus.
Sebelumnya, pipa salur minyak PT Bumi Siak Pusako (BSP) di West Kasikan, Kampar mengalami kebocoran pada 27 Januari 2025 lalu. Butuh hampir dua bulan lamanya perusahaan melakukan perbaikan, dan sepanjang proses perbaikan memaksa produksi minyak dihentikan. Namun, baru beberapa hari selesai diperbaiki pada pekan lalu, pipa lagi-lagi bocor.
Pada 21 Mei lalu, PT BSP sempat berencana akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Jakarta dengan agenda pengesahan Laporan Keuangan Tahun Buku 2024. Namun, Gubernur Riau Abdul Wahid meminta agar pelaksanaan RUPS ditunda. Hingga akhirnya RUPS urung digelar.
Pelaksanaan RUPS itu dinilai janggal oleh sejumlah kalangan. Soalnya, jadwal pelaksanaan RUPS dilakukan hanya beberapa hari sebelum pelantikan Bupati Siak terpilih, Afni Z pada 4 Juni mendatang. Seolah-olah manajemen PT BSP ingin kejar tayang sebelum masa jabatan Bupati Siak Alfedri berakhir.
Rentetan Masalah di PT BSP
Rentetan masalah yang menerpa PT Bumi Siak Pusako (BSP) dalam pengelolaan ladang minyak Coastal Plains and Pekanbaru (CPP) memunculkan stigma negatif terhadap kinerja BUMD tersebut. Gangguan produksi datang silih berganti, sejak PT BSP menjadi pengelola tunggal CPP Blok pada 9 Agustus 2022 lalu. Sebelumnya, pengelolaan CPP Blok dilakukan bersama oleh PT BSP dengan Pertamina Hulu.
PT BSP merupakan BUMD dengan kepemilikan saham dari Pemerintah Provinsi Riau sebesar 18,07%, Pemerintah Kabupaten Siak 72,29%, Pemerintah Kabupaten Kampar 6,02%, Pemerintah Kabupaten Pelalawan 2,41% dan Pemerintah Kota Pekanbaru 1,21%.
Pada Maret 2024 lalu, kebocoran terjadi pada pipa salur minyak di area Gathering Station (GS) Zamrud yang menghubungkan ke GS Minas. Hingga saat ini, masalah sistemik tersebut belum tuntas diatasi, hingga menyebabkan penyaluran minyak lewat pipa belum bisa dilakukan.
Manajemen PT BSP terpaksa mengantar minyak melalui truk tangki ke GS Minas, mirip seperti pengiriman minyak goreng. Kebocoran pipa tersebut sempat membuat produksi minyak PT BSP anjlok tajam hingga tinggal 2 ribu barel per hari (bph) yang biasanya bisa mencapai 8 ribu bph.
Di tengah masalah tersebut, insiden terbakarnya 3 kolam vite minyak mentah PT BSP kembali terjadi pada Jumat, 30 Agustus lalu. Kebakaran tersebut terjadi di simpang GS Jalan Lintas Manroad Zamrud, Kepenuhan Dayun, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak.
Ganggu Lifting Nasional
Menurut praktisi Migas Riau, Aris Aruna, apa yang terjadi pada PT BSP saat ini merupakan alarm keras terhadap lifting minyak nasional. Alih-alih berharap dapat meningkatkan produksi minyak, justru makin seret karena gangguan operasional yang sebenarnya bisa dicegah lebih dini.
"Kondisi yang terjadi di PT BSP saat ini bisa disebut darurat. Dan ini berbahaya terhadap target lifting nasional yang konsisten menurun tiap tahun," kata Aris Aruna, Selasa (4/2/2025) lalu.
Aris menegaskan, muncul indikasi kuat terjadinya salah urus dalam pengelolaan CPP Blok oleh PT BSP. Masalah ini sangat serius dan memiliki implikasi terhadap risiko berat yang akan ditanggung.
"Kejadian yang terjadi, tidak hanya merugikan PT BSP dan pemerintah daerah. Namun juga berisiko menimbulkan kerugian negara. Lifting minyak seakan tak bisa lagi diharapkan dari CPP Blok yang dikelola secara tunggal oleh PT BSP," kata Aris Aruna.
Bahkan, kata Aris Aruna, situasi yang terjadi memunculkan keraguan terhadap posisi PT BSP sebagai oil company. Padahal, pemerintah pusat kadung sudah memberikan konsesi kepada PT BSP selama 20 tahun dan akan berakhir pada 2042 mendatang.
"Saya kira, wajar saja publik mempertanyakan apakah PT BSP sanggup menjadi oil company. Ini bisa menjadi evaluasi dan pertimbangan bagi Kementerian ESDM," tegas Aris Aruna.
Ia juga menilai, ada indikasi terjadi kondisi darurat sumber daya manusia (SDM) migas profesional di tubuh PT BSP. Padahal, dalam industri minyak yang merupakan proyek strategis nasional, ketersediaan SDM profesional merupakan keniscayaan.
"Oil company harusnya didukung oleh ketersediaan SDM Migas yang profesional. Sebab, sektor Migas merupakan industri padat modal yang sarat akan teknologi, pengalaman dan kehandalan. Namun, kesannya yang terjadi di PT BSP adalah darurat SDM Migas profesional. Padahal perusahaan harusnya merekrut SDM Migas profesional dalam menjalankan kegiatannya," tegas Aris.
Menurutnya, pemegang saham harus segera mengambil langkah-langkah konkret untuk membenahi PT BSP. Pembiaran yang terjadi berisiko tinggi terhadap nasib perusahaan yang ujungnya akan merugikan daerah dan negara.
"Sangat mendesak segera dilakukan evaluasi total terhadap manajemen PT BSP. Otoritas terkait juga harusnya bertindak," kata Aris.
Pipa Salur Bocor
Sebelumnya diwartakan, PT Bumi Siak Pusako (BSP) kembali mengalami gangguan produksi minyak yang serius. Belum selesai penanganan dampak kebocoran pipa dari Gathering Station (GS) Zamrud yang terjadi sejak Maret 2024 lalu, saat ini kebocoran pipa salur utama kembali terjadi di West Area Kasikan.
Kebocoran serius pada pipa salur utama di West Area Kasikan ini bahkan sudah terjadi lebih sepekan lamanya, sejak 27 Januari 2025 lalu. Dilaporkan, sampai saat ini penanganan kebocoran belum efektif dan tidak bisa ditanggulangi. Produksi minyak terganggu secara tajam, karena minyak yang dihasilkan tidak bisa dialirkan menuju Gathering Station (GS) Minas.
Bocornya pipa salur ini diduga karena high pressure pada pipa salur (shipping line), diduga penyebabnya sama dengan kejadian di GS Zamrud.
Kementerian ESDM Belum Bersikap
Rentetan masalah operasional yang terus terjadi di PT Bumi Siak Pusako (BSP) telah menjadi ancaman serius terhadap pencapaian target lifting minyak nasional 2024. Kebocoran dan gagal salur minyak dari blok Coastal Plains and Pekanbaru (CPP) akibat masalah sistemik operasional, dipicu terjadinya high pressure pada pipa salur (shipping line) sejak beberapa bulan lalu.
Masalah krusial pada pipa salur dari GS Zamrud ke GS Minas sejak 2 Maret 2024 silam, hingga kini tak kunjung bisa dituntaskan. Ironisnya, saat ini penyaluran minyak melalui pipa menuju GS Minas tak bisa dilakukan. Manajemen PT BSP terpaksa mengantar minyak melalui truk tangki ke GS Minas, mirip seperti pengiriman minyak goreng.
Beragam masalah yang menerpa PT BSP ini dipastikan berdampak pada penurunan pendapatan sekaligus kerugian secara signifikan. Keuangan PT BSP pada tahun 2024, dan bila keadaan tak tertangani dengan baik, masalah finansial akan terus menghantui perusahaan. Klaim laba sebesar lebih dari Rp 400 miliar tahun 2023 lalu, terancam anjlok secara tajam.
Kini, setelah 7 bulan masalah di PT BSP terus bergulir, muncul desakan agar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia segera memberikan atensi terhadap tata kelola yang dijalankan manajemen PT BSP. Hal itu sejalan dengan sikap tegas pemerintah terhadap operator migas yang tak menjalankan kegiatan produksi minyak secara efektif.
Minta Kementerian ESDM Evaluasi PT BSP
Sejak 9 Agustus 2022 lalu, PT BSP telah ditetapkan sebagai operator tunggal di wilayah kerja Blok CPP dengan masa konsesi hingga 2042 mendatang. Sebelumnya, Blok CPP dikelola secara bersama oleh PT Pertamina Hulu dengan PT BSP, usai konsesi PT Caltex Pacific Indonesia habis sejak 2021 silam. Keadaan yang terjadi di internal PT BSP saat ini memicu spekulasi soal kesanggupan BUMD yang saham mayoritasnya dipegang oleh Pemkab Siak ini untuk mengelola CPP Blok.
"Menteri ESDM Bahlil Lahadalia harus segera turun mengecek apa yang sesungguhnya terjadi dalam pengelolaan PT BSP. Ini sebagai pembuktian keseriusan pemerintah untuk memastikan capaian realisasi lifting minyak nasional. Karena bagaimana pun, CPP Blok ini masih sangat potensial, namun justru masalah operasional terus terjadi di PT BSP," kata seorang praktisi migas yang tak ingin disebut namanya kepada SabangMerauke News, Minggu (27/10/2024) lalu.
Menurutnya, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk melakukan audit kinerja dan audit operasional PT BSP. Sebab, pembiaran yang berlarut akan membuat nasib CPP Blok makin buruk.
SKK Migas sendiri dalam suratnya tanggal 8 Maret 2024, telah menyatakan bahwa keadaan yang terjadi di CPP Blok saat ini mempengaruhi pencapaian produksi dan lifting minyak nasional. Namun, sikap SKK Migas dinilai masih terlalu lembek terhadap PT BSP.
"SKK Migas harusnya tidak sebatas mengeluarkan surat teguran. Dalam situasi darurat saat ini, perlu intervensi yang lebih serius dari SKK Migas dan Kementerian ESDM," kata sumber tersebut.
Narasumber praktisi migas tersebut menyatakan, keadaan yang terjadi di PT BSP tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Justru pembiaran berlarut yang dilakukan Kementerian ESDM dan SKK Migas akan memicu tanda tanya publik.
"Karena potensi kerugian yang ditimbulkan bisa mencapai ratusan miliar sejak masalah ini terjadi pada Maret lalu. Kerugian ini pun memiliki potensi mengalami peningkatan. Bayangkan saja, produksi minyak Blok CPP itu berkisar 8 ribu barel per hari. Gagal salur terjadi selama hampir tiga bulan dan dilakukannya shut down sumur minyak. Itu artinya, ada potensi produksi minyak terhenti pada kisaran 800 ribu barel. Ini sangat signifikan terhadap lifting minyak nasional," katanya.
Ia juga heran dengan sikap para pemegang saham PT BSP yang terkesan diam dan cuek terhadap kondisi yang terjadi. Seharusnya, pemegang saham secara khusus Pemkab Siak segera melakukan evaluasi terhadap pimpinan PT BSP dan meminta pertanggungjawaban korporasi.
"Terus terang ini sangat aneh. Kok tidak ada orang-orang di Riau yang mengkritisi kinerja PT BSP. Pemda pemegang saham pun sepertinya tidak mau peduli dan mendiamkan kondisi ini terjadi. Pertanggungjawaban Direktur PT BSP Iskandar dan jajarannya harus segera dimintai," katanya. (R-03)

