Warganet Soroti Usulan Rp 120 Miliar untuk Stadion Mahmud Jalal, Minta Prioritaskan Jalan Rusak di Pelosok Desa
Pertemuan para Kepala Daerah Provinsi Riau bersama Menteri Pemuda dan Olahraga. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Rencana Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti yang mengusulkan anggaran sebesar Rp 120 miliar untuk rehabilitasi dan revitalisasi Stadion Mahmud Jalal kembali menuai sorotan. Meskipun usulan itu disampaikan langsung oleh Bupati AKBP (Purn) H. Asmar kepada Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo pada 21 Mei 2023 lalu, namun respon masyarakat, terutama warganet, justru ramai dengan nada nyinyir dan menyindir.
Bukan hanya sorotan biasa, melainkan gelombang komentar kritis dari warganet yang meminta agar pemerintah daerah lebih bijak dalam menyusun skala prioritas pembangunan.
Di jagat maya, berbagai komentar muncul mempertanyakan urgensi proyek stadion dibandingkan dengan kondisi jalan-jalan rusak yang masih menghantui kehidupan warga di desa-desa terpencil. Banyak yang merasa bahwa infrastruktur dasar seperti jalan, yang menjadi akses utama pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi masyarakat, seharusnya lebih dahulu diperbaiki sebelum bicara soal stadion.
"Jalan ke kampung kami aja belum pernah diaspal sejak Meranti dimekarkan. Stadion? Buat siapa?" tulis salah satu komentar warganet yang viral di media sosial.
Nada-nada serupa menggema di kolom komentar berbagai unggahan media lokal yang memuat berita usulan anggaran stadion tersebut. Sebagian besar menilai stadion belum menjadi kebutuhan mendesak di tengah kondisi infrastruktur desa yang memprihatinkan.
Salah satu komentar yang ramai diperbincangkan menyuarakan kegelisahan masyarakat akar rumput yakni terkait menyuarakan apa yang paling terpenting.
"Buat usulan itu yang penting-penting saja dulu Pak Bupati, seperti pembangunan jalan. Kalau stadion itu bukan tak penting, tapi kan bisa dikemudian hari. Banyak jalan rusak yang butuh sentuhan pembangunan," tulis seorang warganet dalam kolom komentar unggahan berita di media sosial.
Bagi sebagian besar warga, terutama yang tinggal di pelosok desa, keberadaan jalan yang layak lebih vital daripada stadion megah. Jalan rusak yang belum pernah tersentuh pembangunan sejak Meranti dimekarkan masih menjadi cerita sehari-hari. Banyak warga harus melewati jalan tanah, berlubang, hingga kubangan lumpur saat musim hujan, sementara pembangunan infrastruktur dasar berjalan lambat.
Di sisi lain, stadion memang penting untuk pengembangan bakat olahraga, terutama di kalangan pemuda. Namun, banyak warganet menilai, langkah ke arah itu sebaiknya ditempuh setelah kebutuhan mendasar rakyat terpenuhi.
"Kami tak anti pembangunan stadion, tapi coba tengok dulu jalan desa kami yang sudah bertahun-tahun rusak. Tak ada perubahan, padahal itu yang kami lalui tiap hari," tulis akun lainnya.
Kritik-kritik itu menjadi cerminan bahwa partisipasi publik dalam pembangunan kini tidak bisa dianggap sepele. Pemerintah dituntut lebih peka, mendengar suara masyarakat, dan menetapkan prioritas yang sejalan dengan kebutuhan riil di lapangan.
Di tengah gempuran kritik ini, usulan pembangunan stadion bisa saja menjadi peluang, asal diselaraskan dengan pemerataan pembangunan yang menyentuh semua lini kehidupan masyarakat.
Meski demikian, tak sedikit pula yang melihat usulan tersebut sebagai bentuk visi jangka panjang untuk meningkatkan sarana olahraga dan mendukung tumbuhnya bibit atlet daerah. Namun, bagi sebagian besar warga di pelosok, jalan tetap menjadi urat nadi yang lebih mendesak untuk diperjuangkan.
"Olahraga penting, tapi akses ke sekolah, rumah sakit, dan pasar juga tidak kalah penting. Kami masih pakai jalan tanah yang becek saat hujan, dan berdebu saat panas," keluh seorang warga dari Desa Tanjung Padang.
Reaksi publik ini menjadi refleksi atas pentingnya penentuan skala prioritas dalam pembangunan daerah. Masyarakat berharap, pemerintah dapat lebih bijak dalam mengatur fokus anggaran, agar pembangunan benar-benar menyentuh kebutuhan dasar warga di pelosok—tempat di mana akses seringkali lebih penting daripada prestasi.
Sebelumnya Stadion Mahmud Djalal memiliki nilai historis tersendiri. Dibangun pada masa Kabupaten Bengkalis, sebelum Kepulauan Meranti dimekarkan, stadion ini dahulu menjadi pusat kegiatan olahraga dan tempat berkumpulnya atlet-atlet muda dari berbagai penjuru. Namun seiring waktu, wajah stadion berubah. Rerumputan liar menjalar di segala penjuru, sebagian bangunan mulai rapuh dimakan usia, dan suasana sepi menggantikan gemuruh sorak penonton yang dulu pernah menghidupkannya.
Upaya untuk merevitalisasi stadion sebenarnya bukan hal baru. Rencana perbaikannya telah digaungkan sejak tahun 2015, dilanjutkan pada 2017 saat pemerintahan Bupati Irwan Nasir, hingga tahun 2023 di era Bupati Muhammad Adil. Sayangnya, semua rencana itu belum kunjung terealisasi karena berbagai hambatan, baik dari sisi anggaran maupun permasalahan lainnya.
Kini, di tangan Asmar, semangat baru kembali digelorakan. Usulan rehabilitasi ini tak sekadar untuk membangun fisik stadion, tapi juga untuk membangkitkan kembali semangat olahraga di kalangan generasi muda Meranti. Diharapkan, jika direalisasikan, stadion ini bukan hanya menjadi simbol kebangkitan olahraga daerah, tetapi juga menjadi ruang publik yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
"Banyak anak-anak kita yang punya bakat, tapi tidak punya tempat yang layak untuk mengembangkan diri. Stadion ini harus kita hidupkan kembali," ujar Asmar saat pertemuan dengan Menpora.
Dengan dukungan pemerintah pusat, masyarakat kini menanti—semoga harapan ini tidak kembali menjadi sekadar janji yang tenggelam oleh waktu.
Meskipun Kepulauan Meranti adalah rumah bagi ribuan pemuda yang memiliki semangat dan kecintaan besar terhadap sepak bola. Namun hingga kini mereka belum memiliki satu pun stadion yang layak sebagai tempat menyalurkan bakat dan membangun prestasi.
Dengan nada penuh harap, Asmar menyampaikan bahwa saat ini Kepulauan Meranti tidak memiliki stadion sepak bola yang memadai. Stadion Mahmud Djalal, satu-satunya yang ada, kini dalam kondisi rusak berat dan tak lagi representatif untuk digunakan.
“Minat masyarakat dan pemuda kami terhadap sepak bola sangat tinggi, namun kami kekurangan sarana untuk pengembangan. Kami mohon ada perhatian khusus dari Pak Menteri untuk mempertimbangkan program rehabilitasi ini,” ujar Asmar.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti sendiri, diakuinya, memiliki keterbatasan anggaran. Maka dari itu, usulan rehab berat stadion senilai Rp 120 miliar diajukan ke pemerintah pusat untuk bisa direalisasikan pada tahun 2026 mendatang.
Ia menambahkan, jika rehabilitasi ini berhasil dilakukan, maka Kepulauan Meranti akan mampu menggelar event-event olahraga berskala lebih besar. Tak hanya meningkatkan prestasi atlet lokal, tetapi juga menggairahkan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat.
“Jika stadion ini sudah direhab, kami bisa adakan iven-iven olahraga, terutama sepak bola, yang akan meningkatkan kualitas bibit atlet daerah,” jelasnya. (R-01)

