Lestarikan Hutan Mangrove Parit Segagah Bengkalis, Komunitas Peduli Lingkungan Tanam 1.000 Bibit Bakau
Kelompok Konservasi Mangrove Parit Segagah melakukan penanaman 1.000 bibit pohon mangrove atau bakau di Desa Kelapapati, Kabupaten Bengkalis, Senin (19/5/2025). Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Kelompok Konservasi Mangrove Parit Segagah melakukan penanaman 1.000 bibit pohon mangrove atau bakau di Desa Kelapapati, Kabupaten Bengkalis, Senin (19/5/2025). Aksi penanaman bibit bakau ini melibatkan aparat, komunitas dan puluhan pelajar setempat.
Pembina Kelompok Konservasi Mangrove Parit Segagah, Rio Fernandes mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mencegah abrasi, mengurangi pemanasan global dan mendukung pengembangan menjadi kawasan wisata yang dapat menciptakan multiplier effect untuk masyarakat sekitar.
“Upaya rehabilitasi bakau ini sudah kami rintis sejak 2012 melalui dukungan dari Kepala Desa Kelapapati waktu itu,” kata Rio saat acara pembukaan penanaman 1.000 bibit mangrove di Balai Desa Kelapapati.
Rio menerangkan, inisiatif membentuk gerakan rehabilitasi mangrove seiring terjadinya pencurian dan perambahan mangrove yang dianggapnya telah merusak wilayah pesisir di Kelapapati.
“Penyebab pencurian dan perambahan akibat lahan-lahan tersebut ditinggalkan oleh pemiliknya. Padahal Desa Kelapapati merupakan kampung besar dan ramai orang. Tetapi orang-orang luar yang mengambil bakau kesini,” ungkapnya.
Mengawali kegiatan konservasi pada 2012, mereka melakukan kampanye peduli lingkungan dengan memasang baliho di tepi pantai Kelapapati. Baliho itu berisikan larangan penebangan pohon bakau.
Setelah melakukan rehabilitasi bakau di Kelapapati, ia mengungkapkan bahwa saat ini hutan bakau yang dulu dirambah kini sudah terjadi penghijauan dan peningkatan sedimentasi.
“Lopak-lopak (kubangan) yang dulu sekarang sudah tidak ada lagi,” ujarnya.
Menurutnya, akar-akar mangrove yang kuat membantu menahan sedimen dan mencegah pengikisan pantai oleh ombak laut. Penanaman bakau juga membantu memperluas garis pantai dan meningkatkan kestabilan tanah.
Atas kerja keras ia dan kelompoknya, hutan bakau seluas 14 hektare di Kelapapati sudah jadi daya tarik bagi orang luar. Bahkan, biota-biota seperti ikan, kerang, siput, lokan dan sepetang juga sudah mulai terlihat di hutan bakau Kelapapati.
“Pernah jadi pusat studi Mangrove Action Project dari Inggris selama dua minggu dan dihadiri 40 NGO,” jelasnya.
Kemudian, kata Rio, berdasarkan hasil riset dari Universitas Riau pada 2020, hutan bakau di Kelapapati menghasilkan karbon sebanyak 195,13 ton per hektar. Dia menguraikan hasil riset tersebut bahwa dari 14 hektar bakau di Kelapapati memiliki nilai ekonomi serapan karbonnya sebesar Rp.268.372.455,28 per tahun atau Rp.29.819.161,7 per hektar per tahun.
Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Pemkab Bengkalis, Johan Syah mengungkapkan bahwa 26 tahun terakhir laju abrasi di Bengkalis seluas 59 hektar per tahun sedangkan sedimentasi hanya 16,5 hektar.
Menurutnya, antara laju abrasi dengan proses sedimen sangat timpang.
“Sangat jauh sekali. Jadi Proses sedimen akan teebantu apabila pesisir pantai dihijaukan dengan tanaman seperri mangrove,” kata Johan.
Berdasarkan penelitian ahli jepang, Johan bilang, pulau Bengkalis tenggelam 30 tahum lagi. “Kalau pengurangan daratan 59 hektar dan penambahan hanya 16 hektar, bisa estimasi berapa tahun lagi pulau Bengkalis masih ada. Ini memang hitungan matematis tapi kita bisa estimasi bagaimana ancaman ke depan,” paparnya.
Ia berharap semua pihak bisa terlibat untuk bersinergi melalukan upaya rehabilitasi mangrove di wilayah pesisir Bengkalis.
“Semua pihak kami harap melibatkan generasi muda. Libatkan semua sekolah dalam pengetahuan penting jaga lingkungan,” ujarnya.
Johan juga menyoal potensi karbon bakau. Menurutnya, perdagangan karbon dari bakau dapat menghasilkan pendapatan yang signifikan bagi negara dan masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan ekosistem ini.
“Program rehabilitasi mangrove ini telah menunjukkan hasil yang luar biasa dalam melindungi garis pantai dan memberdayakan masyarakat setempat. Perluasan ke desa-desa tambahan akan memperkuat ketahanan wilayah kita terhadap erosi pantai sekaligus melestarikan ekosistem penting ini untuk generasi mendatang,” tuturnya.
Direktur Pelaksana Aramco Asia Singapura, Fai K. Aldossary mengatakan, pihaknya punya komitmen untuk melindungi dan memulihkan habitat guna mencapai pembangunan berkelanjutan dan melindungi masyarakat setempat mencakup pemulihan habitat alami tempat operasi.
“Ekspansi ini menunjukkan komitmen jangka panjang kami terhadap konservasi mangrove di Asia Tenggara. Ini lebih dari sekadar lingkungan, kami juga berkomitmen upaya ini berdampak dengan mata pencarian berkelanjutan,” katanya.
Masih dalam kesempatan yang sama, Direktur Yayasan Gambut, Mulyadi mengatakan, keberhasilan pendekatan berbasis masyarakat telah menunjukkan kekuatan keterlibatan lokal dalam pelestarian lingkungan.
“Masyarakat kini telah memahami bahwa hutan bakau yang sehat melindungi rumah mereka, meningkatkan penghidupan mereka, dan berkontribusi pada ketahanan iklim,” ujar Mulyadi.
Aramco Asia Singapore, Global Environment Centre (GEC dan Yayasan Gambut, akan melanjutkan program tahap ketiga 3 yang diperluas akan memulihkan tambahan 9 hektar hutan bakau dengan menanam 18.000 pohon di 4 desa: Buruk Bakul, Kelapa Pati , dan Sepahat di Kabupaten Bengkalis , serta Tanjung Kuras di Kabupaten Siak.
Proyek ini akan membangun pemecah gelombang sepanjang 100 meter di Kelapa Pati dan mendirikan dua pembibitan masyarakat baru di Sepahat dan Tanjung Kuras. (KB-01/Rachdinal)

