Wakil Bupati Kepulauan Meranti Gotong Royong Bersihkan Jalan Nelayan, Berencana Percantik dengan Taman
Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin, ikut terjun langsung bergotong royong bersama petugas kebersihan Dinas Perkimtan dan Lingkungan Hidup, membersihkan sampah di Jalan Pelabuhan, Sabtu (10/5/2025). Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Matahari baru sepenggalah naik. Cahaya hangatnya menyinari jalanan Selatpanjang yang perlahan mulai ramai. Di tengah teriknya, Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin, S.M., M.M., tampak sudah berkeringat. Bukan karena menghadiri rapat atau duduk di kantor, tetapi karena ikut terjun langsung bergotong royong bersama petugas kebersihan Dinas Perkimtan dan Lingkungan Hidup, membersihkan sampah di Jalan Pelabuhan, Sabtu (10/5/2025).
Di hari libur, ketika sebagian orang memilih beristirahat, Muzamil justru memilih turun ke lapangan. Dengan sigap, ia terlihat memungut sampah, mencabut rerumputan liar, menumbangkan pagar pembatas dan mencabut baliho yang merusak pandangan. Tak ada jarak antara pejabat dan masyarakat, hanya semangat yang sama yakni membersihkan Selatpanjang, mempersiapkan wajah ibukota kabupaten agar lebih bersih dan indah.
“Penanganan sampah ini menjadi perhatian serius. Kita ingin Kepulauan Meranti yang unggul, agamis, dan sejahtera. Semua dimulai dari hal sederhana yakni lingkungan yang bersih,” ungkapnya, sambil menyeka keringat di pelipis.
Tak hanya berhenti di Jalan Pelabuhan, Muzamil juga memerintahkan pembukaan akses Jalan Nelayan yang telah ditutup sejak 21 Maret 2025. Jalan yang menghubungkan Jalan Gelora dan Pelabuhan Tanjung Harapan itu selama ini ditutup karena sering dijadikan lokasi pembuangan sampah ilegal.
Jalan Nelayan memang menjadi jalur penting bagi warga yang hendak ke pasar atau berangkat ke luar daerah lewat pelabuhan. Membuka jalan ini, selain ingin mengembalikan fungsinya sebagai akses cepat bagi warga yang hendak ke pasar atau bepergian ke luar daerah, tetapi juga bagian dari menjaga citra kota pelabuhan yang bersih dan ramah bagi tamu yang datang.
"Jalan ini sangat penting. Jangan lagi jadi tempat buang sampah. Kita ingin orang lewat di sini merasa nyaman, bersih, rapi,” ucap Muzamil.
Tidak hanya membuka kembali jalur, Muzamil juga memimpikan wajah baru di sekitar jalan itu. Ia berencana membangun taman kecil dan sebuah gerbang selamat datang—sebuah sentuhan estetika yang diharapkannya mampu menghapus stigma lama tentang Jalan Nelayan.
Sudah cukup lama warga kesulitan lewat sini. Saya minta akses ini dibuka. Jangan lagi ada sampah di sini, nanti kita tata, bahkan akan kita bangun taman kecil, gerbang selamat datang, supaya lebih indah. Ini dimaksudkan agar orang yang datang ke Selatpanjang merasa disambut. Ada gerbang, taman, suasana asri. Bukan lagi bau sampah atau pemandangan yang kumuh,” ujarnya.
Bagi Muzamil, jalan ini bukan sekadar penghubung antar titik, tetapi simbol peradaban sebuah kota. Jalan yang bersih dan indah adalah cermin kepedulian masyarakat dan pemerintah terhadap lingkungan. Ia berharap ke depan, tak ada lagi tangan-tangan jahil yang menjadikan tempat itu sebagai lokasi pembuangan sampah liar.
“Semua ini untuk masyarakat. Saya yakin, kalau kita jaga sama-sama, kita rawat sama-sama, jalan ini bisa jadi kebanggaan kita semua,” tuturnya dengan penuh keyakinan
Usai bergotong royong, Muzamil bersama para petugas kebersihan duduk bersama menyantap semangkuk bubur kacang hijau, buatan sang istri tercinta. Sebuah penutup sederhana dari pagi yang penuh peluh dan kerja nyata.
“Apa yang kita lakukan hari ini kecil, tapi kalau semua mau bersama-sama, insya Allah Meranti akan semakin bersih dan indah,” ujarnya pelan, sambil tersenyum menatap semangkuk bubur yang hangat. (R-01)

