Diantar Doa dan Dibalut Haru: Jemaah Haji Kepulauan Meranti Bertolak ke Baitullah
Pelepasan jemaah haji Kepulauan Meranti. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Mentari pagi itu perlahan merangkak naik, menembus awan tipis di langit Selatpanjang. Di dalam Masjid Agung Darul Ulum, ratusan wajah penuh harap berkumpul. Air mata mengambang di pelupuk, pelukan erat antara keluarga dan jemaah calon haji tak bisa lagi ditahan. Jumat (6/5/2025) pagi itu, menjadi saksi keberangkatan Jemaah Calon Haji (JCH) Kabupaten Kepulauan Meranti menuju Tanah Suci.
Sebelum langkah kaki mereka meninggalkan kampung halaman, doa bersama dilantunkan di dalam masjid. Suara doa itu bergema, menembus dinding hati setiap yang hadir. Ada harapan, ada rasa syukur, sekaligus haru yang tak terucap.
Sehari sebelumnya, suasana sakral juga terasa saat prosesi tepuk tepung tawar dilaksanakan di Afifa Sport Center. Para jemaah, satu per satu, diberi tepung tawar oleh pejabat Pemkab Kepulauan Meranti dan Forkopimda. Sebuah tradisi penuh makna, simbol doa dan restu, agar perjalanan suci ini diliputi keselamatan dan keberkahan.
Pagi itu, rombongan dilepas langsung oleh Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin. Dengan langkah sigap namun penuh kehangatan, beliau mendampingi para jemaah hingga ke Pelabuhan Tanjung Harapan. Di sana, kapal cepat MV Batam Jet 3 telah bersandar, menunggu para tamu Allah.
Muzamil tak hanya berdiri di dermaga, ia ikut mengantar hingga ke dalam kapal, memastikan semua berjalan lancar.
"Kita doakan bersama, semoga seluruh jamaah diberikan keselamatan selama perjalanan, baik saat pergi maupun kembali nanti. Semoga mereka mampu melaksanakan ibadah dengan sempurna dan pulang menjadi haji yang mabrur dan mabruroh,” ucapnya, suaranya menggetarkan hati banyak orang.
Di pelabuhan, isak tangis mulai pecah. Pelukan terakhir, lambaian tangan penuh haru. Ada yang berpesan lirih, ada yang hanya mampu menangis diam-diam. Bagi sebagian keluarga, keberangkatan ini adalah penantian panjang, doa yang terwujud setelah bertahun-tahun menabung dan berharap.
Saat kapal perlahan menjauh, riuh suara takbir terdengar di antara kerumunan. Langkah para jemaah Calon Haji Kepulauan Meranti kini mengarah ke Tanah Suci, membawa doa-doa seluruh kampung halaman, menjemput rindu dan pengharapan yang tak terucap.
Tak hanya semangat ibadah yang menyelimuti mereka—ada pula rasa syukur atas dukungan tanpa pamrih dari pemerintah daerah.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti menanggung sepenuhnya biaya keberangkatan seluruh JCH. Mulai dari transportasi dari masjid Agung Darul Ulum ke Pelabuhan Tanjung Harapan, tiket kapal cepat menuju Batam, konsumsi selama perjalanan, hingga mobilisasi dari Pelabuhan Batam ke Asrama Haji. Bahkan saat kepulangan nanti, semua akan dijemput dan diantar langsung, dilayani oleh petugas yang sudah disiapkan.
“Kami merasa sangat terbantu. Semua difasilitasi dengan baik, tidak ada biaya yang kami keluarkan untuk perjalanan ini. Hanya perlu fokus ke niat dan ibadah,” ungkap salah satu JCH, dengan mata berbinar.
Di tengah keterbatasan daerah kepulauan, keberangkatan ini bukan sekadar logistik. Ini adalah bukti kehadiran pemerintah di tengah warganya, memastikan tak ada hambatan bagi mereka yang hendak memenuhi rukun Islam kelima. Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin, yang ikut mendampingi langsung ke pelabuhan, menegaskan komitmen itu.
“Kami ingin memberikan yang terbaik. Ini bentuk perhatian dan kepedulian Pemkab Meranti kepada warganya. Kami doakan semua jamaah selamat, sehat, dan bisa menjalankan ibadah dengan sempurna,” ujar Muzamil, seraya melambaikan tangan saat kapal MV Batam Jet 3 mulai berlayar.
Tak hanya logistik, perhatian itu juga hadir dalam bentuk pendampingan petugas yang siap melayani sepanjang perjalanan. Sejak dari Selatpanjang hingga Batam, hingga ke Asrama Haji, petugas memastikan semua kebutuhan jamaah terpenuhi, mulai dari makanan, pengurusan barang, hingga membantu mereka yang lanjut usia atau memiliki keterbatasan fisik.
Di pelabuhan, isak tangis keluarga mengiringi keberangkatan. Tangan-tangan melambai, doa-doa terlantun. Dalam hati mereka, terselip syukur: di negeri kecil di perbatasan Riau ini, keberangkatan menuju Baitullah tetap terasa agung, terhormat, dan penuh kepedulian.
Dan bagi para jamaah, pelayanan yang diterima bukan sekadar fasilitas. Ia menjadi penyemangat, bahwa langkah menuju Baitullah bukan hanya langkah pribadi, melainkan langkah bersama: langkah doa, harapan, dan dukungan seluruh kampung halaman.
Langit di Pelabuhan Sekupang, Kota Batam, siang itu cerah. Waktu menunjukkan pukul 13.15 WIB, saat kapal cepat yang membawa Jemaah Calon Haji (JCH) dari Kabupaten Kepulauan Meranti merapat di dermaga. Tabuhan kompang khas Melayu mengiringi langkah-langkah mereka turun dari kapal, disambut senyum dan doa, seolah menjadi alunan selamat datang untuk para tamu Allah.
Di antara keramaian pelabuhan, terlihat sosok Bupati Kepulauan Meranti, H. Asmar, bersama sang istri, berdiri menyambut langsung kedatangan rombongan.
“Alhamdulillah, semua jemaah tiba dalam keadaan sehat,” ucapnya lega, matanya menatap satu per satu wajah lelah namun bahagia dari para jemaah.
Perjalanan ini tak hanya sekadar berangkat menuju Tanah Suci. Ada persiapan panjang di baliknya. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, melalui Bagian Kesra Sekretariat Daerah, bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama dan tim terpadu, memastikan seluruh proses keberangkatan berjalan lancar. Dari pemeriksaan kesehatan, bimbingan manasik, hingga pendampingan teknis, semua dirancang untuk memberi kemudahan dan kenyamanan bagi para jemaah.
Setelah penyambutan hangat, rombongan langsung dibawa ke Asrama Haji Batam di Batam Centre. Mereka akan bermalam di sana, mengumpulkan tenaga, menyiapkan hati dan pikiran untuk langkah berikutnya: penerbangan menuju Tanah Suci.
Keesokan harinya, Sabtu (10/5/2025), tepat pukul 15.00 WIB, pesawat Saudi Arabia Airlines nomor penerbangan SV 5241 akan membawa mereka terbang dari Bandara Internasional Hang Nadim, Batam. Sebuah perjalanan panjang selama sembilan jam menanti, sebelum akhirnya mendarat di Bandara Internasional Amir Muhammad bin Abdulaziz (MED) di Madinah pada pukul 20.20 waktu setempat.
“Semoga seluruh jemaah kita diberi kesehatan, kekuatan, dan kembali dalam jumlah yang sama, utuh, dengan membawa predikat haji yang mabrur,” tutur Asmar penuh harap.
Rombongan JCH Kepulauan Meranti tahun ini tergabung dalam Kloter BTH-9, bersama jemaah dari Kabupaten Rokan Hulu. Sebanyak 97 orang diberangkatkan, terdiri dari 95 jemaah reguler (44 laki-laki dan 55 perempuan), serta 2 pendamping yakni Santo Sigit Juli Hendriawan dari Provinsi Riau dan Liyanurita dari Puskesmas Tanjung Samak. Turut mendampingi pula Sarini, anggota Tim Kesehatan Haji Indonesia dari Puskesmas Selatpanjang.
Namun langkah suci Meranti tak hanya berakhir di kloter pertama. Pada gelombang kedua, masih ada 4 jemaah cadangan terdiri dari 1 laki-laki dan 3 perempuan—yang dijadwalkan berangkat 16 Mei 2025 menuju Asrama Haji Batam, lalu terbang ke Tanah Suci 17 Mei 2025. Mereka akan bergabung dengan jemaah dari Jambi, Kalimantan Barat, dan daerah lainnya di Riau, menjadi bagian dari kloter nasional.
Suasana haru masih terasa di pelabuhan dan asrama. Tangis dan peluk erat keluarga menjadi pengingat bahwa perjalanan ini adalah doa bersama, pengharapan seluruh kampung halaman. Langkah kaki para jemaah bukan hanya mewakili diri mereka sendiri, tapi juga membawa harapan, doa, dan cinta dari tanah kelahiran.
Di antara rombongan JCH asal Kabupaten Kepulauan Meranti, dua sosok menarik perhatian, mereka adalah Naufal Ansar Bin Arifin Ahmad, 18 tahun, dan Sukarmi binti Asraf, 82 tahun. Mereka menjadi simbol rentang usia dalam perjalanan suci tahun ini.
Tahun ini, ada sebanyak total 101 jemaah asal Kepulauan Meranti menunaikan ibadah haji. Sejatinya jumlah itu 102 orang, namun satu jemaah memilih pindah bergabung dengan kelompok dari Kota Pekanbaru. Meski begitu, semangat keberangkatan tak berkurang sedikit pun.
Di antara wajah-wajah penuh harap itu, Naufal tampak tenang namun bersemangat. Warga Selatpanjang, Kecamatan Tebingtinggi itu, tak pernah menyangka akan mendapat kesempatan berangkat ke Tanah Suci di usia belia. “Saya bersyukur sekali, ini anugerah dari Allah. Saya menerima pelimpahan porsi haji dari mama saya yang sedang sakit dan tidak memungkinkan berangkat,” ungkap Naufal, matanya berkaca-kaca.
Meski masih muda, Naufal tak main-main mempersiapkan diri. Ia mengikuti manasik haji secara intensif, melatih fisik, mental, dan spiritual. Yang lebih menantang, ia juga harus membagi waktu untuk mempersiapkan Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Riau. “Tantangan besar, tapi saya ingin berusaha maksimal untuk ibadah dan juga pendidikan,” tuturnya, menunjukkan tekad yang kuat.
Sementara di sisi lain, tampak Sukarmi binti Asraf, perempuan tangguh asal Desa Mengkirau dari Kecamatan Tasik Putripuyu. Di usianya yang telah 82 tahun, ia menjadi jemaah tertua dalam rombongan. Dengan langkah perlahan, ia tetap tersenyum menerima ucapan selamat dan doa dari keluarga serta kerabat. “Sudah lama saya menunggu ini, alhamdulillah Allah kasih kesempatan,” ucapnya lirih.
Kisah keduanya—yang termuda dan yang tertua—seakan menjadi gambaran perjalanan suci ini: sebuah panggilan ilahi yang tak mengenal usia. Di satu sisi, semangat muda membara untuk menjemput keberkahan. Di sisi lain, keteguhan dan kesabaran seorang lansia yang tak pernah putus berharap.
Bagi Naufal, perjalanan ini adalah jembatan doa sang ibu. Bagi Sukarmi, ini adalah buah penantian panjang puluhan tahun. Dan bagi seluruh jemaah Meranti, langkah menuju Tanah Suci adalah langkah membawa harapan satu daerah, satu keluarga besar, satu negeri kecil di perbatasan Riau ini. (R-01)

