KMP Tirus Buka Rute Baru Sedangkan KMP Berembang Terombang-ambing Tanpa Kepastian, DPRD Dorong Pemda Kepulauan Meranti Gerak Cepat
KMP Tirus, kapal motor roll on roll off (roro), resmi membuka rute baru menuju Pelabuhan Mengkapan, Tanjung Buton, Kabupaten Siak. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Semilir angin laut sore itu membelai halus perairan Selatpanjang. Di kejauhan, tampak sebuah kapal besar yang berdiam tanpa aktivitas—KMP Berembang, sebuah kapal penyeberangan milik BUMD PT Pengembangan Investasi Riau (PIR), yang kini nasibnya tak menentu dan tetap terdiam—seolah menunggu keputusan besar tentang nasibnya
Sementara itu, geliat baru muncul di Pelabuhan Insit, Kepulauan Meranti. KMP Tirus, kapal motor roll on roll off (roro), resmi membuka rute baru menuju Pelabuhan Mengkapan, Tanjung Buton, Kabupaten Siak. Tak hanya itu, KMP Tirus juga melayani jalur pelayaran ke Dumai, menawarkan alternatif transportasi laut yang lebih segar bagi masyarakat.
Kehadiran KMP Tirus menjadi angin segar bagi penumpang dan dunia transportasi, namun membawa konsekuensi bagi KMP Berembang. Kapal ini sebelumnya menghidupkan rute Kampung Balak – Tanjung Buton. Namun sejak insiden ambruknya pelabuhan roro di Buton pada 2019, KMP Berembang sempat berpindah rute ke Pelabuhan Sungai Selari, Sungai Pakning, Bengkalis.
Kini, tanpa rute tetap, KMP Berembang yang memiliki kapasitas 200 penumpang, mampu mengangkut 25 mobil dan 100 kendaraan roda dua, hanya terparkir di selat depan Kota Selatpanjang. Kapal berbobot 724 GT dengan mesin 2x823 daya kuda dan kecepatan hingga 12 knot itu seperti menunggu takdir di tengah riak air laut yang tenang.
Dari pantauan di lapangan, kapal ini sudah beberapa bulan terakhir tak lagi berlayar. Tidak ada kepastian kemana arah masa depan KMP Berembang setelah rute-rute andalannya diambil alih.
Sementara itu, dari perwakilan masyarakat di DPRD Kepulauan Meranti, suara-suara mulai menggema, mendorong pemerintah daerah untuk tidak tinggal diam.
Mulyono, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kepulauan Meranti, menjadi salah satu yang paling vokal. Ia mendorong pemerintah daerah bergerak cepat mengurus kelanjutan operasional kapal yang dulu menjadi tulang punggung konektivitas Kepulauan Meranti ke pulau Sumatera.
“Keberadaan KMP Berembang tidak boleh dibiarkan terbengkalai. Sebagai daerah kepulauan, Meranti harus memiliki minimal dua kapal roro yang aktif, agar koneksi ke daratan Sumatera tetap lancar dan ada kapal cadangan saat KMP Tirus mengalami masalah,” tegas Mulyono, dalam keterangannya, Sabtu (26/4/2025).
Mulyono menekankan, keberadaan dua kapal Roro bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga urusan strategis—menjaga arus logistik dan mobilitas warga agar tak terganggu saat terjadi kendala teknis.
Di sisi lain, Mulyono mengungkapkan bahwa tahun depan pelayaran Roro dari Meranti ke Dumai akan ditutup, dan sebagai gantinya, pemerintah daerah sudah mengajukan izin trayek baru menuju Punggur, Batam. Jika izin ini dikabulkan Kementerian Perhubungan, rute ke Kepulauan Riau akan terbuka, menawarkan peluang baru bagi perdagangan dan mobilitas masyarakat.
Namun, ancaman baru juga mengintai. Ada kabar bahwa Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) berencana mengambil alih KMP Berembang untuk digunakan pada rute Tembilahan–Batam. Sebuah rencana yang, jika dibiarkan, akan membuat Meranti kehilangan aset pentingnya.
“Kalau rute ke Kepulauan Riau nanti sudah dibuka, dan KMP Berembang sudah diambil oleh Pemda Inhil, kita mau pakai kapal apa lagi? Jangan sampai kita menyesal. Pemerintah daerah harus bergerak cepat dan tegas mengurus ini,” ujar Mulyono, dengan nada prihatin.
Kepala Dinas Perhubungan Kepulauan Meranti, Agusyanto Bakar yang dikonfirmasi mengaku bahwa rute pelayaran roro dari Meranti hanya dilakukan oleh KMP Tirus.
“KMP Berembang belum ada rute pelayaran baru pasca perpindahan rute dari Pelabuhan Insit ke Pelabuhan Mengkapan, Siak. Saat ini kapal hanya terparkir di Selatpanjang,” ungkap Agusyanto Bakar, Kepala Dinas Perhubungan Kepulauan Meranti, saat dikonfirmasi, Sabtu (26/4/2025).
Agusyanto tidak tinggal diam. Ia mengaku sudah melaporkan kondisi ini kepada Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H Asmar. Dalam laporannya, ia meminta agar Bupati segera berkoordinasi dengan pihak terkait untuk membicarakan kelanjutan operasional kapal ini.
Baginya, terlalu disayangkan jika KMP Berembang dibiarkan begitu saja. Terlebih, Kepulauan Meranti sebagai daerah kepulauan sangat bergantung pada konektivitas laut. Setiap kapal adalah nadi yang menghubungkan masyarakat dengan dunia luar.
Ada secercah harapan. Agusyanto menyebutkan, jika rencana membuka jalur pelayaran baru menuju Tanjung Balai Karimun, Batam, dan Tanjung Pinang disetujui Kementerian Perhubungan, KMP Berembang bisa kembali berlayar, menghidupkan kembali denyut pelayaran yang kini seolah membeku.
“Sangat disayangkan jika KMP Berembang, yang saat ini operasionalnya dikelola BUMD PT PIR, ditarik dan dipindahkan ke daerah lain. Mudah-mudahan kapal ini tetap bisa membantu membuka jalur pelayaran bagi wilayah Meranti,” harap Agusyanto.
Hari-hari ini, KMP Berembang tetap berdiam di tengah laut, menjadi simbol pertaruhan antara ketidakpastian dan harapan. Di balik lambung tuanya, tersimpan harapan besar ribuan warga Meranti—agar akses, ekonomi, dan mobilitas mereka tetap berdenyut, seiring ombak kecil di lautan.
Di balik lambung baja KMP Berembang yang kini berdiam, tersimpan harapan ribuan masyarakat pesisir—harapan untuk akses yang lebih terbuka, perdagangan yang lebih hidup, dan perjalanan yang lebih mudah. Kini, semua mata tertuju pada keputusan besar yang akan menentukan: apakah KMP Berembang akan kembali menari di atas ombak, atau tetap menjadi kenangan yang diam di tepi pelabuhan daerah lain. (R-01)

