DPRD Nilai Penetapan Besaran Uang Minyak PI Blok Rokan Tak Transparan, Segera Temui SKK Migas dan PT PHR
Participating Interest (PI) menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Provinsi Riau, terutama dari sektor minyak dan gas bumi (migas). Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Participating Interest (PI) menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Provinsi Riau, terutama dari sektor minyak dan gas bumi (migas). PI merupakan hak partisipasi sebesar 10 persen yang diberikan kepada daerah penghasil migas untuk turut serta dalam pengelolaan wilayah kerja migas, yang ditawarkan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Sejak pengelolaan Blok Rokan diserahkan kepada Pertamina Hulu Rokan (PHR), Riau telah menerima dana PI sebesar Rp3,5 triliun sejak 9 Agustus 2021 hingga 30 Oktober 2023. Pada tahun 2024, dana PI yang diterima mencapai lebih dari Rp499 miliar.
Namun, untuk tahun 2025, PT Riau Petroleum Rokan (RPR) selaku pengelola dana PI belum dapat memastikan estimasi perolehan tersebut hal itu terungkap dalam rapat dengar pendapat komisi III dengan PT RPR Senin (21/4/2025) kemarin.
"Dalam rapat komisi III DPRD Riau dengan PT RPR, PI 2025 belum bisa mereka proyeksikan karena masih tergantung pada berapa besar dana yang akan diberikan oleh PHR," ungkap Ketua Komisi III DPRD Riau, H. Edi Basri, SH, M.Si kepada media, Selasa (22/4/2025).
Menurut Edi, pemberian PI 10 persen oleh PHR belum sepenuhnya transparan karena tidak didasarkan pada pembukuan yang terbuka. "Berapa yang mereka kasih, ya itu saja yang kita terima. Tidak ada dasar rinci yang disampaikan," jelasnya.
Komisi III DPRD Riau, lanjut Edi akan bertemu dengan pihak SKK Migas untuk meminta rincian terkait pengeluaran dan pembukuan PHR. "Kita ingin tahu dasar perhitungan PI 10 persen itu apa," tambahnya.
Edi juga menjelaskan bahwa dana PI 10 persen bukan berasal dari cash flow, melainkan dari total dividen PT PHR setelah dikurangi biaya operasional dalam satu tahun pengelolaan Blok Rokan.
"Saat ini, PHR lebih banyak melakukan eksplorasi dengan target pengeboran hingga 1.000 sumur. Hal ini tentu membutuhkan biaya operasional yang tinggi, sehingga berdampak pada berkurangnya dividen yang diterima dan otomatis akan mengurangi PI 10 persen untuk Riau," tutup Edi. (R-04)

