Meniti Lumpur, Menantang Gelombang: Potret Pilu Warga Sungai Gayung Kiri dalam Mencari Kesembuhan
Salah satu warga Desa Sungai Gayung Kiri yang sakit terpaksa dirujuk dan dibawa menggunakan sampan, karena kondisi jalan yang rusak. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di tengah senyapnya sore yang mulai tenggelam di ufuk Rangsang, sebuah kisah haru menyentuh hati masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti. Nama Suriyati, warga Desa Sungai Gayung Kiri, mendadak menjadi perbincangan bukan karena hidupnya, melainkan karena perjalanan terakhirnya yang begitu menyayat nurani.
Suriyati menghembuskan napas terakhirnya di Puskesmas Tanjung Samak. Rencana untuk merujuknya ke RSUD Kepulauan Meranti kandas oleh cepatnya ajal menjemput. Namun perjuangan tak berhenti di sana. Keluarga dan warga desa justru dihadapkan pada kenyataan pahit: sulitnya membawa jenazah pulang ke kampung halaman.
Akses jalan darat menuju desa mereka telah lama rusak parah. Ambulans tak mampu menjangkaunya. Harapan pun dialihkan ke jalur laut. Speed boat milik Baznas Kepulauan Meranti menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa. Tapi takdir seolah menguji lebih dalam. Ketika kapal hendak bersandar di dermaga, air surut dan kontur pantai yang landai membuat kapal kandas, terhenti sejauh hampir satu kilometer dari bibir pantai.
Tak ada pilihan. Di tengah hamparan lumpur dan air laut yang mencapai pinggang, jenazah Suriyati diturunkan. Sejumlah warga, dengan pakaian basah dan kaki terbenam dalam pasir berlumpur, memikul tandu yang membawa tubuh almarhumah. Mereka berjalan perlahan, menapaki setiap langkah dengan hati yang berat, namun penuh rasa hormat dan cinta.
Di tengah laut yang surut dan senja yang menyapa, jenazah Suriyati akhirnya sampai di rumah duka. Bukan dengan mobil jenazah yang nyaman, tapi lewat peluh dan perjuangan warga yang menjadikan kemanusiaan sebagai jalan utama.
Kisah ini bukan sekadar catatan duka, tapi juga cermin betapa infrastruktur yang terbatas dapat menghadirkan luka lebih dalam saat perpisahan terakhir. Tangisan keluarga, keikhlasan warga, dan ketangguhan di tengah keterbatasan adalah potret nyata kehidupan di pelosok Meranti yang tak boleh kita biarkan terus berulang.
Kini, warga desa yang berhadapan langsung dengan Selat Melaka itu kembali dihadapkan dengan kenyataan pahit, salah satu warganya harus dirujuk ke fasilitas kesehatan karena mengalami sakit.
Saat itu, Senin (21/4/2025) langit tampak redup di ufuk Selat Melaka. Langkah kaki bergemuruh di antara tanah yang basah dan jalanan yang rusak. Di atas tandu sederhana, seorang warga desa terbaring lemah. Sakit yang dideritanya memaksa keluarga dan tetangga bahu membahu mengantarnya menuju harapan untuk fasilitas kesehatan terdekat.
Namun, harapan itu bukan tanpa perjuangan. Dari rumah, warga menandu pasien sejauh satu kilometer menuju bibir pantai. Di sana, bukan dermaga megah yang menyambut, melainkan air laut setinggi lutut dan pasir berlumpur yang menenggelamkan mata kaki. Dengan kesabaran dan ketulusan yang tak bisa dibayar dengan apapun, warga menaikkan pasien ke sampan kecil, mengarungi lautan hingga setengah kilometer jauhnya, sebelum akhirnya dipindahkan ke kapal pompong untuk dibawa menuju Tanjung Balai Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.
Memang secara geografis, sejumlah kapal memang sulit untuk mencapai daerah itu karena kondisi pantai yang landai dan harus menunggu air pasang dalam.
Di balik kisah ini, terselip kegelisahan dan keprihatinan seorang kepala desa, Perdana Noriowati.
“Kami tahu ini tidak ideal. Tapi inilah kondisi kami saat ini,” ucapnya lirih. Dengan suara terbata, ia menuturkan kepedihan mendalam atas kenyataan yang terus berulang.
Ia kembali menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi yang dihadapi warganya. Ia mengatakan, meskipun kondisi tersebut terasa sangat menyusahkan, itu merupakan pilihan terbaik jika harus melewati jalur darat dengan kondisi jalan yang rusak parah.
Akses antarwilayah belum terintegrasi dengan baik, dan di sisi lain, keterbatasan dan rasionalisasi anggaran menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah untuk terus membangun.
“Dari lubuk hati paling dalam, saya sangat merasakan apa yang dirasakan warga kami. Kami minta maaf karena belum mampu memberikan yang terbaik," ucapnya.
Tak ada infrastruktur layak. Jalan darat rusak parah, mustahil dilalui ambulans. Jalur laut pun tak kalah sulit. Pantai yang landai, air surut yang panjang, dan ombak Selat Melaka yang tak bisa ditebak menambah deretan penderitaan.
"Meskipun terlihat bersusah payah melakukan evakuasi terhadap warga kami yang sakit ini, namun ini adalah jalan terbaik. Dimana jika harus dibawa ke Puskesmas Tanjung Samak atau RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti di Selatpanjang akan sangat susah dengan kondisi jalan yang sangat tidak memadai, sementara kalau ke Tanjung Balai sudah tampak di depan mata meskipun dengan konsekuensi gelombang," ujarnya
Perdana bercerita, pernah satu waktu ia mencoba mengevakuasi warga yang sakit lewat jalur darat. Tapi, karena kondisi jalan yang tak layak, warga itu menghembuskan napas terakhir di tengah perjalanan. “Kalau saja infrastruktur bagus, ambulans bisa masuk. Kami tak perlu merapah lumpur dan laut seperti ini,” katanya, dengan nada getir.
Kisah ini bukan sekadar berita. Ini adalah jeritan dari ujung negeri, dari warga yang berharap bukan belas kasihan, melainkan perhatian nyata. Mereka tidak meminta yang muluk. Hanya jalan yang bisa dilalui, agar nyawa tak lagi hilang di tengah perjalanan menuju pertolongan. (R-01)

