Tajuk Redaksi
Lebaran di Tengah Tahun Defisit Anggaran
Open House dalam rangka Hari Raya Idul Fitri oleh Gubernur Riau, Abdul Wahid. Foto: Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS - Kegembiraan menyapa kita semua di momen spesial Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah tahun 2025 ini. Setelah hampir 30 hari lamanya kita berpuasa, menahan lapar, dahaga dan nafsu dunia, umat Muslim merayakannya dengan penuh sukacita.
Tradisi mudik Lebaran menjadi salah satu ritual khas, merajut dan memperkuat silaturahmi. Momen ini biasanya menjadi ajang saling memaafkan. Bertemu sanak keluarga di kampung halaman, bersalaman dengan jiran tetangga dan keluarga dekat.
Untuk sementara, kita bisa 'bebas' dan 'lepas' dari segala prahara. Lebaran seakan 'menutup' bilik masalah yang sudah mengintai di depan mata.
Lebaran tahun ini dirayakan dalam suasana yang agak beda. Di ruang publik, kita mendengar ragam masalah yang menerpa pemerintahan daerah kita, secara khusus hal ini juga terjadi di jajaran pemerintahan daerah di Riau.
Kita berlebaran di tengah kondisi tahun defisit anggaran. Setelah lebih setahun lamanya, kita berpesta demokrasi, mulai dari Pilpres dan Pileg, hingga pada November 2024 lalu, kita disibukkan dengan agenda Pilkada serentak.
Pesta demokrasi itu, menyisakan kondisi keuangan negara dan daerah yang tak baik-baik saja. Pemilu telah menyedot dana APBN dan APBD yang tak sedikit. Pemimpin nasional dan daerah yang baru terpilih, terbelenggu oleh beban memikul pundi-pundi kas yang nyaris bobol.
Pemprov Riau misalnya, dikabarkan memikul defisit menempus Rp 3,5 triliun, meski angka fantastis tersebut hingga saat ini belum terkonfirmasi oleh pihak manapun secara akurat.
Pemkab Kuantan Singingi juga terpaksa mengajukan pembiayaan (pinjaman) daerah ke BRK Syariah sebesar Rp 50 miliar. Dana itu dipakai untuk membayar Tunjangan Hari Raya (THR) para pegawai dan biaya operasional pemerintahan.
Masalah yang sama juga menimpa Pemkab Bengkalis yang terpaksa menunda pembayaran TPP tunda bayar dan THR ASN. Sejumlah Pemda di Riau juga telat bayar THR dan TPP para pegawainya. Pembayaran dilakukan last minutes, untuk tidak menyebutnya sebagai tindakan paksaan.
Kondisi di atas, seakan tak lagi bisa menutup ancaman atas gangguan keuangan daerah yang serius. Belum lagi, jika kita mendengar keluhan para kontraktor yang tertekan akibat kebijakan tunda bayar. Proyek selesai dikerjakan, pembayaran urung dilakukan.
Berlebaran di tengah kondisi defisit anggaran, mungkin baru kali ini terasa efeknya. Kita di ambang pintu ketidakpastian, akibat ruang fiskal keuangan daerah yang sesak dan begitu sempit. Diperkirakan, tekanan terhadap keuangan daerah akan makin kuat usai kita merayakan Lebaran.
Sesaknya kondisi keuangan daerah tersebut, janganlah sampai membuat kebahagiaan kita merayakan Idul Fitri berkurang maknanya. Sebaiknya, mari kita gunakan waktu 'rehat' ini untuk menghimpun energi baru untuk segera berbenah.
Sesaat lagi kita segera memasuki hari-hari yang penuh dengan tantangan, sekaligus penuh ketidakpastian. Secara khusus, bagi penguasa dan pemimpin daerah, patut untuk memasang kuda-kuda.
Kondisi desifit anggaran saat ini harus menjadi momentum introspeksi bagi pengambil kebijakan untuk mereposisi kebijakan pengalokasian dan penggunaan keuangan daerah agar lebih siap menghadapi kenyataan.
Defisit keuangan yang terjadi karena 'lebih besar pasak dari tiang', mesti dihadapi dengan hati-hati. Terlalu memaksa pemasukan secara jor-joran lewat beragam kebijakan, justru bisa memicu keadaan yang kontraproduktif. Dunia usaha juga sedang tidak baik-baik saja. Berharap pajak dari warga, juga tak bisa dilakukan dengan cara-cara terlalu memaksa.
Saatnya, efisiensi secara transparan dan akuntabel harus dimulai dari internal lingkungan pemerintahan daerah. Jargon berhemat harus dibuktikan, tidak sekadar kamuflase dan basa-basi belaka.
Penguasa daerah harus rela memangkas penggunaan APBD untuk keperluan dirinya sendiri, baru kemudian merasionalisasi alokasi dana untuk kebutuhan publik. Jangan sampai kepentingan dan kebutuhan publik dikorbankan, hanya demi memenuhi kebutuhan belanja birokrasi yang kerap berlebihan.
Lebaran semestinya menjadi ajang introspeksi bagi pemimpin daerah untuk menyehatkan kembali keuangan daerah. Mereka harus rela berkorban memangkas kebutuhan dirinya yang ditanggung uang rakyat.
Satu lagi, Lebaran hendaknya juga menjadi ajang membangun soliditas antarpemimpin. Mumpung masih musim bulan madu, kepala daerah dan wakilnya harus selalu rukun, jangan sampai saling menyinggung apalagi main telikung.
Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri. Minal Aidin wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin. (R-03)

